Miqat di Dzul Hulaifah

“Psssssss” Desis angin terdengar bersama terbukanya pintu bus. Sambil tesenyum ramah, Musa mempersilakan kami untuk turun mengambil miqot. Alhamdulillah kami tiba di Dzul Hulaifah yang merupakan tempat miqot penduduk Madinah serta orang-orang asing yang berangkat menuju Mekkah melewatinya. Tempat  ini terletak di sebuah wadi atau lembah bernama Dzul Hulaifah sedang  masjidnya dinamakan Masjid Miqot. Akan…

Museum Rel Kereta Api Hijaz

Subhi menyalakan mesin mobil dan tak lama kemudian kami sudah meluncur keluar dari parkir basement Masjid Nabawi. Tujuan kami adalah sebuah bangunan bergaya Eropa berwarna krem yang dikelilingi pagar besi tinggi warna hitam. Bangunan yang satu ini tampak mencolok karena berbeda betul dengan bangunan-bangunan lain yang umumnya berbentuk persegi serta berwarna putih. Sesampainya disana, saya…

Museum Asmaul Husna

Saya berjalan kaki menuju gerbang 15 yang teretak di barat Masjid Nabawi, disanalah hotel saya berada. Udara masih agak dingin hingga hamparan marmer biru keabuan tampak seperti danau yang membeku. Disana-sini banyak wanita Bangladesh yang tidur di bawah payung-payung besar warna putih yang terbuka dan tertutup secara otomatis. Mau tidak mau saya harus melewati areal…

Ziarah ke Makam Baqi

“Zai!” teriak seorang askar tambun berkacamata hitam. “Oh ada yang dipanggil.” Batin saya. Zai adalah sapaan dalam bahasa Pashto yang setara dengan “mas”. “Kira-kira siapa ya yang dipanggil?” rasa penasaran melintas di benak meski mata terus tertuju pada gerbang makam Baqi yang tinggi dan berwarna hijau keabuan. “Zai! Zai!” teriakan si askar semakin keras. Nampaknya…

Percetakan Al-Qur’an

Agak sedih rasanya mengingat kali ini kami tak sempat singgah di Percetakan Al-Qur’an. Padahal di tempat ini kami bisa mendapatkan mushaf asli Madinah yang tersohor. Demikian berharga nilai mushaf ini hingga seorang kawan sempat meminta saya untuk membawakannya satu; karena calon istrinya ingin hal itu sebagai mahar. Di tempat bernama Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd ini…

Peternakan Unta

kami berjalan disamping danau putih kehijaun. Rumput-rumput hijau pendek seakan tak terganggu teriknya musim panas. Sebuah pintu air warna abu-abu mengingatkan saya pada kota Kudus, hanya saja disini agak sulit untuk mendapatkan soto. Di persimpangan jalan pemandangan pun berubah. Yang ada kini hanyalah hamparan padang pasir putih kemerahan yang dipayungi tiang-tiang listrik raksasa. Tepat dibawah…

Jabal Magnet

Sementara Wahyudi mengumuman jadwal manasik sore hari nanti, bus kami melaju diantara gedung-gedung tiga tingkat berwarna coklat. “Jam berapa kita kumpul?” tanya Pak Rudi yang memang paling on time. “Jam empat pak.” Jawab Wahyudi dengan logat Madura yang kental. Meski mata memandang lekat para pejalan kaki yang memadati trotoar abu-abu, pikiran saya justru kembali ke…

Masjid Khandaq

Sekitar satu kilometer dari Masjid Qiblatain kami berhenti karena lampu lintas menunjukan warna merah. Saya pun segera menunjukan sebuah tempat bersejarah, “Bapak ibu sekalian, yang ada di depan kita adalah Masjid Khandaq.” Sebuah bangunan besar warna putih berdiri tegak bak seorang ksatria berzirah. Di belakangnya Gunung Sa’la yang berwarna coklat sementara di kedua sisinya terdapat…

Keunikan Masjid Qiblatain

“Bapak ibu silakan lihat ke sebelah kanan.” Semua pandangan tertuju pada bangunan persegi berwarna putih yang dikenal sebagai Masjid Qiblatain. Bangunan yang juga dikenal dengan nama Masjid Banu Salamah ini mirip Masjid Quba, hanya saja disini terdapat dua lantai untuk sholat sedangkan menaranya hanya dua buah. Beberapa tahun lalu saya pernah singgah di masjid yang…

Gunung Uhud; Sebuah Pelajaran

Setelah berjalan lima belas menit dari kebun kurma, bus kami pun tiba di Gunung Uhud. “Itu dia Gunung Uhud, yang besar dan berwarna kemerahan.” Saya menunjuk keluar jendela yang langsung diikuti oleh tolehan para jamaah. Sebagian besar dari mereka segera mengambil handphone dan mulai mengambil gambar; dan seperti biasa Bu Anis bertanya tentang sejarahnya. “Barangkali…