الْمُبِينُ Maha Menjelaskan Segala Sesuatu Sesuai Hakikat Kebenaran

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Nama ini hanya muncul sekali di Al Qur’an yaitu di ayat ke 25 dari surat An Nur; meskipun demikian nama ini Allah gunakan untuk menjelaskan suatu perkara besar yang melibatkan sosok terhormat di dalam keluarga rasulullah, yaitu istri beliau Ummul Mukminin Aisyah,

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ

Di hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).(QS. An Nur: 25)

Makna Al Mubin

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr menerangkan dalam kitabnya (Fikih Asma’ul Husna. Darus Sunnah Press. hal 358) bahwa Al-Mubin adalah Yang Maha Menjelaskan bagi para hamba-Nya petunjuk, menerangkan kepada mereka amalan-amalan shalih yang dengannya mereka bisa mendapatkan pahala, serta amalan-amalan buruk yang karenanya mereka bisa diganjar dengan hukuman.

Asbabun nuzul

Ayat ke 25 merupakan rangkaian panjang dari 15 ayat (ayat 11-26) surat An Nur yang berisi pembelaan Allah terhadap kesucian Ummul Mukminin Aisyah.

Setelah berakhirnya perang Bani Musthaliq di bulan Sya’ban tahun 5 Hijriyah, rasulullah dan para sahabat berhenti di suatu tempat. Pada saat itu Ummul Mukminin Aisyah turun dari sekedup untanya untuk suatu keperluan lalu kembali. Tiba-tiba beliau merasa kalungnya hilang lalu turun kembali tanpa sepengetahuan penuntun unta. Rombongan pun kembali melanjutkan perjalanan sementara Ummul Mukminin tertinggal sendirian.

Ummul Mukminin menunggu rombongan untuk menjemputnya namun tidak ada yang datang hingga muncul Shafwan bin Mu’aththal yang menunggangi unta. Ia melihat seseorang tengah tertidur sendirian dan setelah diperhatikan Shafwan pun terkejut, “Inna lillaahi wa inna ilaihinroojiun, istri rasul!

Ummul Mukminin terbangun dan segera dipersilakan Shafwan untuk menunggani untanya. Shafwan turun dan berjalan sambil memandu unta hingga mereka tiba di Madinah.

Kaget dengan apa yang mereka saksikan, penduduk Madinah pun saling berbisik dan bisikan mereka diolah menjadi berubah menjadi rumor negatif oleh orang-orang munafik.

Baik rasulullah maupun Ummul Mukminin Aisyah dilanda kesedihan selama beberapa waktu hingga turunlah ayat-ayat Allah yang membersihkan nama baik putri Abu Bakar Ash Shiddiq. Dan diantara rangkaian ayat tersebut Allah menggunakan nama Al-Mubin atau Yang Menjelaskan Hakikat Segala Sesuatu.

Nifak I’tiqodi

Allah telah menjelaskan di awal surat Al Baqarah hakikat orang-orang yang menampakkan keimanan namun menyimpan kebencian terhadap Islam di hati mereka. Orang-orang tersebut dikenal sebagai kaum munafik. Allah bahkan menurunkan sebuah surat bernama Al Munaafiquun demi mengingatkan orang-oran beriman dari bahaya mereka.

Nifak sendiri terbagi dua yaitu nifak i’tiqodi seperti yang dijelaskan di atas serta nifak amali yang cirinya telah disampaikan oleh rasulullah,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati”[1]

Orang-orang munafik i’tiqodi terancam kekal di kerak neraka bila mereka tidak bertobat hingga ajal menjemput (Lihat tafsir surat An Nisa ayat 145 dan At Taubah ayat 68). Adapun munafik amali tetap dalam keadaan beriman akan tetapi perbuatan mereka tetap tercela dan dapat mengundang dosa-dosa besar.

Dan diantara ciri kemunafikan adalah membenci ajaran para sahabat rasul padahal mereka adalah orang pertama yang berjuang meyiarkan Islam.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.[2]

Maka saudaraku, apabila mencela sahabat rasul saja terlarang lalu bagaimana bila mencela istri-istri beliau? Sungguh tidak pantas bagi orang yang beriman pada Allah dan hari akhir untuk bergaul dengan mereka yang mencela Islam, rasulullah, maupun keluarga serta sahabat beliau.

Wallahu a’lam bishowwab.

Sumber gambar:

A SORDID PEEK INSIDE THE TOPKAPI PALACE

Referensi:

[1] (HR Al-Bukhari, Kitab Iman, Bab Tanda-tanda Orang Munafik, no. 33 dan Muslim, Kitab Iman, Bab Penjelasan Sifat-Sifat Orang Munafik, no. 59) Dari Abu Hurairah. https://muslim.or.id/24989-mewaspadai-sifat-munafik-2.html

[2]Hadits ini dikeluarkan oleh :

• Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Manaqib, Bab Qauluhu Lau Itakhadztu Khalilan, no. 3397 dan lafaz ini adalah lafazh Al Bukhari.

• Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Fadhail Al Sahabat, Bab Tahrim Sabbi Ash Shahabat, no. 4610 dan 4611.

• Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al Manaqib ‘An An Nabi, Bab Fiman Sabba Ashabi An Nabi, no. 3796.

• Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab As Sunnah, Bab An Nahyu ‘An Sabb Ashabi An Nabi, no. 4039.

• Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Muqaddimah, Bab Fadhlu Ahli Badr, no. 157.

• Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 10657, 11092 dan 11180. https://almanhaj.or.id/3085-jangan-mencela-sahabat-rasulullah.html

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s