الكافي, الحسيب (Maha Memberi Kecukupan)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Kedua nama tersebut sama-sama memiliki arti Maha Memberi Kecukupan; Yakni Allah mampu memenuhi segala yang dibutuhkan oleh para hamba-Nya. Ia lebih dari mampu untuk memberi mereka makan, minum, serta menjadikan sebab datangnya rizki. Ia juga mampu melindungi mereka dari musuh-musuh dan marahabahaya. Dan Allah pun mampu memberi jalan bagi orang-orang yang bertakwa untuk mendekatkan diri pada-Nya.

الكافي

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Bukankan Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah ? Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak seorang pun pemberi petunjuk baginya.(QS. Az Zumar: 40)

Di ayat ini Allah menegaskan bahwa diri-Nya saja cukup untuk melindungi dan mengawasi (اللَّهُ بِكَافٍ) orang-orang beriman. Demikian tegas perkataan Allah hinga Ia mengedepankan hal ini (perlindungan) daripada perbuatan kaum musyrik yang menakut-nakuti orang beriman dengan menyebut berbagai sesembahan mereka yang banyak sekali jumlahnya.

Dan memang demikianlah kebiasaan para pembenci Allah dan rasul-Nya; mereka sering membanggakan sesembahan mereka yang banyak, jumlah mereka yang lebih besar, hingga persenjataan mereka yang lebih unggul. Ini bukan berarti seorang mukmin boleh mengabaikan hal-hal duniawi sebagai sarana meraih kemenangan; akan tetapi sarana-sarana tadi tidak akan bermanfaat tanpa pertolongan Allah.

الحسيب

وَابْتَلُوا الْيَتامى حَتَّى إِذا بَلَغُوا النِّكاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْداً فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ وَلا تَأْكُلُوها إِسْرافاً وَبِداراً أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كانَ فَقِيراً فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفى بِاللَّهِ حَسِيباً

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapat kalian mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kalian makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kalian) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu); dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kalian adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas kesaksian itu).(QS. An Nisa: 6)

Dalam ayat ini Allah menjadikan dirinya pengawas(حَسِيباً) bagi para wali yang diserahkan tanggung jawab terhadap anak-anak yatim; dimana para wali tersebut berkewajiban untuk menjaga harta yang ditinggalkan oleh orang tua mereka (si yatim). Para wali tidak boleh menggunakan harta tersebut untuk kepentingan pribadi mereka adapun untuk keperluan si yatim diperbolehkan.

Allah juga memerintahkan untuk diadakan para saksi berkenaan dengan perwalian tersebut. Dan ketika si yatim telah baligh dan mampu mengelola harta dengan benar maka harta yang dititipkan pada wali harus dikembalikan pada si yatim.

Kebutuhan dasar Manusia

Allah tidak hanya mencukupi kebutuhan fisik manusia; Ia pun menganugerahi manusia kebutuhan yang sangat asasi yaitu keimanan. Sebagian manusia bersungguh-sungguh memohon kebutuhan ini dan sebagian yang lain mengabaikannya.

Abraham Maslow pernah mempopulerkan teori Hierarchy of needs atau Hirarki kebutuhan manusia. Maslow berpendapat bahwa kebutuhan manusia dapat dibagi ke dalam lima tingkatan yang terdiri dari kebutuhan fisik (physiological), safety/keamanan, cinta/memiliki, rasa hormat (esteem), serta aktualisasi diri (self actualization).

Lebih jauh lagi ia membagi physiological dan safety sebagai basic needs atau kebutuhan dasar. Maka hal-hal seperti sandang, papan, dan pangan serta keamanan adalah kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi sebelum manusia termotivasi untuk meraih kebutuhan yang lebih tinggi.

Tahapan selanjutnya dari kebutuhan manusia adalah psychological needs dan esteem needs yang terdiri dari persahabatan, cinta, keinginan untuk dihormati dan diakui oleh lingkungan. Dua hal ini yang harus dipenuhi manusia sebelum ia beralih pada keinginan puncak.

Adalah aktualisasi diri yang diletakan di puncak piramida maslow. Kebutuhan jenis ini biasanya bersifat nilai dan pandangam ideal seperti menjadi orang tua teladan atau panutan masyarakat. Inilah keinginan tertinggi dari manusia sebelum Maslow menemukan adanya sebuah kebutuhan/keinginan yang justru sangat berperan mendasar bagi manusia.

Salah satu kritik terhadap teori Maslow adalah kebutuhan-kebutuhan tadi sering kali berlomba untuk menjadi yang pertama kali dipenuhi. Dan kebutuhan-kebutuhan tadi seringkali akan menghasilkan kegalauan bagi manusia selama kebutuhan baru yang ditemukan oleh Maslow belum terpenuhi.

Kebutuhan yang dimaksud adalah kepercayaan (agama dan iman).

Betapa banyak orang dikarunia kekayaan atau ketenaran namun membunuh dirinya sendiri. Atau betapa banyak pekerja rendahan berpenghasilan pas-pasan mengeluh ketidakmampuan untuk membeli rumah dan menyekolahkan anak akibat mengkredit motor mewah. Semua kegalauan ini sering dialami orang-orang yang fokus mereka hanya hal-hal di luar keimanan.

Pentingnya iman dan kebutuhan akannya telah Allah firmankan,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.(Qs. ar-Ra’du: 28).

Dan efek dari mengabaikan Allah adalah,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS. Thaha: 124)

Wallahu a’lam bishowab.

Sumber gambar:

https://www.telegraph.co.uk/travel/destinations/europe/italy/articles/lake-como-reinvented/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s