الْقَاهِرُ (Maha Berkuasa) الْقَهَّارُ (Maha Perkasa)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Nama Al Qaahir berarti tidak ada satu pun di jagat semesta ini yang mampu mencegah apa yang Allah kehendaki. Apabila seluruh manusia dari yang pertama dan terakhir berkumpul untuk mencegah suatu kehendak Allah yang paling ringan sekalipun -misalnya kematian satu orang- maka mereka tidak akan pernah sanggup untuk melakukannya.

Allah menceritakan tentang betapa berkuasa diri-Nya disurat Al-An’am ayat ke 17 dan 18,

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 17-18)

Adapun nama Al-Qahhar merupakan bentuk superlatif dari Al-Qaahir.

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr menjelaskan bahwa bentuk superlatif ini (Al Qahhar) diterangkan dalam enam tempat di dalam Al Qur’an, dan kesemuanya senantiasa bersanding dengan nama Al Waahid.

1. Tentang pengakuan Allah dalam hal uluhiyah atau satu-satunya Dzat yang layak untuk Diibadahi, disembah, serta membuat syariat dalam agama. Termasuk dalam hal uluhiyah adalah perintah untuk mengikuti dan membenarkan rasul yang diutus oleh Allah.

{قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ. رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

“Katakanlah (ya Mumammad), “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan. Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Shad 65-66)

2. Nama Al-Qahhar disebutkan dalam konteks penyucian Allah dari kesyirikan berupa pengangkatan makhluk sebagai wasilah serta klaim bahwa Ia memiliki anak,

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ. لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَىٰ مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Az-Zumar: 3-4)

3. Nama Al-Qahhar digunakan dalam konteks ancaman bagi kaum musyrikin pada saat mereka dikumpulkan di hadapan Allah,

يَوۡمَ هُمۡ بَارِزُوۡنَۖ لَا يَخۡفٰى عَلَى اللّٰهِ مِنۡهُمۡ شَىۡءٌ ؕ لِمَنِ الۡمُلۡكُ الۡيَوۡمَ ؕ لِلّٰهِ الۡوَاحِدِ الۡقَهَّارِ. اَلۡيَوۡمَ تُجۡزٰى كُلُّ نَـفۡسٍۢ بِمَا كَسَبَتۡ ؕ لَا ظُلۡمَ الۡيَوۡمَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيۡعُ الۡحِسَابِ

“(yaitu) pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan. Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ghafir: 16-17)

4. Nama Al-Qahhar juga digunakan untuk menggambarkan rincian azab yang menanti orang-orang kafir di akhirat kelak; dimana mereka akan dirantai, diberi pakaian dari ter, serta wajah mereka ditutup dengan api. Kisah ini dapat ditemui di surat Ibrahim ayat 48 hingga 51.

5. Nama Al-Qahhar juga digunakan untuk menjelaskan kebatilan orang-orang kafir dalam hal peribadatan terhadap patung-patung. Kisah ini dapat ditemukan di surat Ar-Ra’du ayat 16.

6. Nama Al-Qahhar juga disebutkan dalam surat Yusuf ayat 39-40 , dimana nabi Yusuf menjelaskan pada dua orang tahanan bahwa apa yang mereka sembah hanyalah nama-nama yang diadakan oleh manusia dan tidak pernah disebut oleh Allah.

Wallahu a’lam bi showab

Gambar: https://unsplash.com/search/photos/sunset

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s