الْجَبَّارُ (Maha Kuasa)

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ

الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al Hasyr: 23)

Nama Allah yang satu ini hanya sekali disebut di dalam Al Qur’an, yaitu di surat Al Hasyr ayat kedua puluh tiga.

Makna Al Jabbar adalah Allah memiliki kekuasaan mutlak terhadap seluruh ciptaan-Nya. Tidak ada perbuatan atau perkataan makhluk tidak lepas dari kehendak-Nya. Makhluk mampu melakukan sesuatu atau tidak semuanya tergantung pada kehendak Allah. Hukum syar’i dan takdir serta balasan semuanya adalah hak Allah dan tiada yang Maha Memutuskan perkara melainkan Allah.

Lalu untuk Apa kita Berusaha?

Sebagian manusia terjatuh pada kesalahan dalam memahami takdir Allah. mereka beralasan bila Allah telah menetapkan segala sesuatunya di lauh mahfudz lalu apa gunanya kita bersusah-payah dalam beribadah. “Bukankah yang menjadi penghuni neraka dan surga sudah jelas?” demikian alasan yang biasa mereka kemukakan.

Allah memang telah menentukan takdir tiap makhluk akan tetapi Ia tidak memberitahu masing-masing dari kita tentang apa yang telah Ia tetapkan. Sebaliknya, betapa banyak ayat yang memerintahkan kita untuk bertakwa dan beramal sholih dengan ikhlas dan i’tiba (mengikuti petunjuk rasululllah). Maka alangkah baiknya bila kita mencurahkan tenaga dengan apa yang diperintah dan dilarang oleh Allah; bukannya berspekulasi tentang takdir kita yang tercatat di lauh mahfudz.

Pertama-tama Allah telah meminta janji setia pada tiap manusia saat kita semua masih berada di alam ruh, sebagaimana yang Ia jelaskan di surat Al A’raaf ayat 172,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”

Kemudian saat manusia lahir dan tumbuh dewasa, orang tua berperan besar dalam mempengaruhinya dalam hal mengesakan atau menyekutukan Allah; sebagaimana tertera dalam hadits riwayat Imam Muslim,

كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir.)

Demikian halnya dengan teman akrab,

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Semakin sempurna fungsi pendengaran, penglihatan, dan pemikiran manusia maka semakin ia bisa membedakan yang baik dan buruk. Ia bisa membedakan kebenaran dan kebathilan, termasuk di dalam hal penyembahan terhadap Tuhan. Mereka bebas memilih jalan yang dikehendaki, apakah akan tunduk pada Allah atau justru tenggelam dalam hawa nafsu,

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا () فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا () قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا () وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ()

Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. Asy-Syams:7-10)

Maka meskipun Allah Maha Kuasa untuk memaksakan kehendak-Nya pada tiap makhluk; akan tetapi ia memberi jin dan manusia kebebasan untuk memilih jalan yang mereka sukai setelah datang hujjah yang jelas, sebagaimana yang Ia firmankan di surat Al Kahfi ayat 29,

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Penolong mereka yang membutuhkan

Makna Al Jabbar juga bisa kembali pada kelembutan kasih sayang dan santun. Maka dengan ini Allah menolong orang yang bersedih, sakit, tertimpa kefakiran, atau terancam bahaya. Ia menolong mereka dari keburukan atau mengilhamkan mereka kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi takdir buruk yang menimpa. Itulah mengapa kita diperinrah untuk mengikuti doa rasulullah saat duduk diantara dua sujud,

1. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاجْبُرْنِي ، وَاهْدِنِي ، وَارْزُقْنِي

“Ya Allah ampunilah aku, sayangilah aku, tutupilah kekuranganku, anugrahkan kepadaku hidayah dan berikanlah rezki kepadaku.” (HR Tirmidzi : 284 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Aslu Sifatish Sholatin Nabi : 807-810).

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tak ada satu pun yang mampu menolak kehendak-Nya. Maka alangkah baiknya bagi kita untuk terus meminta keselamatan pada-Nya.

wallahu a’lam bi showab.

Sumber gambar: https://www.planetware.com/granada/alhambra-hill-e-and-ah.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s