الْمَتِينُ (Yang Sangat Kokoh)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Az Zariyat: 58)

Nama Allah yang satu ini hanya sekali muncul dalam Al Qur’an, yaitu di ayat ke 58 dari surat Az Zariyat. Selain itu, nama yang satu ini pun terkesan mirip dengan asmaul husna lain yang bersanding dengannya, yaitu Al Qowiy. Keduanya identik dengan kekuatan namun berbeda pengertiannya.

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr menerangkan dalam kitabnya (Fikih Asma’ul Husna. Darus Sunnah Press. hal 251) tentang pengertian dari masing-masing nama.

Makna “Al-Matiin” adalah yang memiliki kekuasaan yang sangat dan makna “Al-Qawi” adalah yang tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya, tidak ada yang dapat mengalahkan-Nya, tidak ada yamg dapat menolak takdir-Nya, semua perintah dan takdir-Nya berlaku pada semua makhluk. Dia memuliakan siapa saja yang Dia kehendaki, menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki, menolong siapa saja yang Dia kehendaki, dan membiarkan siapa saja yang Dia kehendaki. Semua kekuatan milik Allah, tidak ada yang tertolong, kecuali orang yang ditolong-Nya dan tidak ada yang mulia, kecuali yang Dia muliakan…

Diantara kebesaran-Nya

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Az Zariyat: 56-57)

Apabila kita hanya membaca ayat ke 58 dari surat Az Zariyat maka kita seakan hanya menemukan sebuah ayat yang singkat namun tegas tentang betapa kuatnya Allah. Akan tetapi bila kita perhatikan dua ayat sebelumnya maka akan kita temui betapa luar biasanya Allah. Betapa Ia amat pantas menjadi satu-satunya yang diibadahi dan ditaati secara menyeluruh.

Di ayat ke 56 Allah menegaskan bahwa tujuan dari diciptakannya manusia dan jin adalah untuk beribadah pada-Nya baik dengan perbuatan, ucapan, maupun hati. Kita diciptakan untuk mentaati apa yang Ia perintahkan sekaligus menjauhkan diri dari apa yang Ia larang.

Terkadang perintah dan larangan dapat ditemukan secara langsung dan detail di dalam Al Qur’an namun banyak pula do’s and dont’s yang baru bisa dipahami dengan jelas melalui petunjuk dari sunnah rasul. Misalnya tata cara sholat secara detail, apakah dapat ditemukan di Al Qur’an? jawabnya tidak! ia baru dapat ditemukan melalui hadits-hadits shahih seperti صلوا كما رأيتموني أصلي “sholatlah sebagaimana kalian melihatku sholat.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan baca Irwa’ul Ghalil, hadits no.213)

Nah, mentaati rasul dalam hal tata cara sholat (dan dalam hal-hal lain yang berkaitan dengan agama) merupakan bentuk kepatuhan kita pada perintah-perintah Allah tentang keharusan taat pada rasul-Nya (misalnya surat An Nisa ayat 59).

Adapun di ayat ke 57 Allah menegaskan diri-Nya tidak butuh diberi makan oleh makhluk-makhluk-Nya, tidak butuh diberi rezeki, dilindungi, atau apapun yang menjadi kebutuhan makhluk-makhluk. Sebagiamana Allah tidak membutuhkan kebutuhan-kebutuhan makhluk maka Ia juga terbebas dari segala kelemahan yang ada pada makhluk seperti lelah, sedih, lupa, sakit, takut, mengantuk, tidur, mati, dan lain-lain. Allah terbebas dari itu semua.

Maka apakah layak bagi kita untuk menuhankan selain Allah?

Gambar: https://www.tripadvisor.com.sg/Attraction_Review-g298171-d4869520-Reviews-Hakone_Stone_paved_Road-Hakone_machi_Ashigarashimo_gun_Kanagawa_Prefecture_Kanto.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s