الْقَوِيُّ (Yang Mahakuat)

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy-Syuura: 19)

Diantara fitrah manusia adalah mencari keamanan. Mencari sosok yang mampu memberi ketenangan, kepastian, perlindungan, kecukupan, dan harapan. Dengan adanya fitrah ini manusia dapat hidup sebagai anggota sosial. Anak berharap pada orang tuanya, pasangan saling menjaga, serta para bawahan menggantungkan harapan pada pemimpin.

Kebutuhan akan sosok yang kuat dan dapat memberi perlindungan bahkan meluas ke lingkup yang tak dapat dilampaui manusia. Orang-orang memperhatian fenomena alam seperti matahari, bulan, bintang, guntur, atau jin-jin. Sebagian manusia menyadari bahwa kekuatan-kekuatan ini merupakan bukti adanya Pencipta segala sesuatu yang tak lain dari Allah subhana wa ta’ala. Sebagian yang lain justru tergelincir ke dalam kesalahpahaman yang mengantar pada kesyirikan.

Mereka pun menuhankan gunung, batu, pohon, roh leluhur (biasanya jin yang menyamar), matahari, bulan, atau bahkan hewan. Sebagian meyakini makhluk-makhluk tadi menciptakan sekaligus mempengaruhi baik-buruknya nasib. Sebagian lain tidak meyakini makhluk-makhluk tadi sebagai pencipta namun meyakini mereka adalah perantara kepada Allah yang harus disucikan diperlakukan layaknya Allah. Hal ini terjadi pada kaum Nabi Nuh.

Kebutuhan akan sosok atau hal yang dapat memberi perlindungan juga menjadikan manusia bergantung pada jimat, relik, serta dukun. Maka tidak mengherankan bila sebagian orang rela mengjabiskan biaya besar demi mendapatkan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan atau dapat mengubah nasib.

Demikian hebat kebutuhan manusia terhadap sosok yang kuat hingga di cerita fiksi pun dapat ditemui tokoh kuat sekaligus tempat menaruh harapan seperti Superman. Ironisnya, manusia pun sadar bahwa tokoh ‘sesempurna’ Superman pun memiliki kelemahan.

Perang yang terjadi diantara kaum pagan juga menjadi bukti bahwa dewa atau apapun yang disembah ternyata dapat dikalahkan. Bagaimana Dewa Toutatis bangsa Galia tak mampu menolong umatnya dalam perang melawan Romawi yang bergantung pada Jupiter.

Maka ketahuilah, bahwa tiap makhluk pasti memiliki kelemahan sekuat apapun ia. Kita akan jumpai sosok yang kuat di suatu tempat dan yang lebih kuat di tempat lain. Inilah sunatullah yang terjadi pada tiap makhluk. Adapun Al-Kholik, Ia hanya satu yaitu Allah dan mustahil ada yang lebih kuat dari diri-Nya. Allah menyifati hal ini dalam firman-Nya,

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS. Fathir: 13-14)

Golongan yang Pasti menang

Sudah menjadi sunatullah semenjak masa Nabi Nuh (dimana kesyirikan muncul kali pertama) hingga hari akhir kelak akan adanya suatu kaum yang terus menyeru pada tauhidullah. Tiada kita menyembah, memohon perlindungan serta rezeki kecuali kepada Allah.

Golongan ini tak pernah letih mengajak manusia untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Mereka juga tak lelah mengajak manusia untuk beribadah sebagaimana tata cara yang telah ditetapkan oleh rasulullah. Dan mereka pun tak lelah mengajak pada manhaj (cara beragama) manusia yang paling mulia, yaitu para sahabat yang mendampingi rasulullah dalam suka dan duka. Pada akhirnya mereka akan menang, entah cepat atau lambat. Mereka pasti menang karena tidak bergantung kecuali pada Dzat Yang Mahakuat, yakni Allah subhana wa ta’ala.

Bila anda berjumpa dengan mereka maka ingatlah ayat ini,

كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Mujadilah: 21)

Sumber gambar: https://www.google.com/amp/s/www.medicalnewstoday.com/articles/amp/323636

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s