الْمَجِيدُ (Maha Mulia)

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ

Yang mempunyai ‘Arasy lagi Mahamulia (QS. Al Buruj: 15).

Seorang muslim hendaknya meyakini bahwa Allah Maha Mulia dan Paling Mulia. Ia memiliki kemuliaan yang mustahil untuk ditandingi apalagi dilampaui oleh makhluk mana pun. Dan tidaklah mungkin ada makhluk (semua yang diciptakan) yang dapat melampaui Allah Al Kholik (Sang Pencipta).

Allah memiliki kemuliaan dalam segala hal antara lain dalam dzat-Nya, perbuatan-Nya, ketetapan-Nya, sifat-sifat-Nya, ciptaan-Nya, serta perkataan-Nya.

Kalimat Allah adalah yang paling mulia

Allah menegaskan hal ini dengan sumpah-Nya di dalam ayat pertama surat Qof.

ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ

Qof. Demi Al-Qur’an yang sangat Mulia(Qs. Qaaf: 1)

Mengapa ayat-ayat di dalam Al-Qur’an merupakan kalimat paling mulia? karena ia berasal dari Dzat yang paling mulia, yaitu Allah subhana wa ta’ala. Di dalamnya berisi petunjuk dan pengobat hati. Peringatan tentang datangnya hari kiamat dan kehidupan setelahnya. Di dalamnya juga terdapat panduan untuk menjalani kehidupan yang bahagia di dunia maupun akhirat.

Sebagaimana kita meyakini bahwa Al Qur’an merupakan perkataan Allah maka kita juga wajib mengimani bahwa Allah Mampu Berbicara. Ia bersifat Kalam dan segala Kalam Allah adalah haq. Allah menceritakan perihal dirinya berbicara dalam banyak ayat, salah satunya terdapat di surat An Nisa ayat 4:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.”

Ayat di atas hanyalah satu contoh yang membuktikan Allah bersifat kalam atau berbicara. Betapa banyak ayat lain yang dilengkapi kalimat seperti “wa idz qulna (dan Kami (Allah) berfirman)” atau wa idz qola robbuka (dan Tuhanmu berfirman). Yang demikian itu merupakan bukti bahwa Allah bersifat kalam.

Dan dalam menyikapi sifat kalam ini maka sepatutnya bagi kita untuk meneladani rasulullah dan tiga generasi pertama dalam islam; yakni meyakininya tanpa pengubahan makna atau bahkan menafikan sifat tersebut.

Sebagian kaum menolak sifat kalam bagi Allah dengan alasan hal itu menyerupakan Allah dengan makhluk. Padahal kenyataannya tidak demikian. Allah mampu berbicara dan Ia menciptakan manusia mampu berbicara. Namun apakah sifat bicaranya sama? tentu saja tidak.

Manusia mampu berbicara dan hewan pun berbicara, namun apakah bicaranya sama? tentu saja tidak.

Menafikan sifat Allah dengan alasan apapun sama saja mengurangi kemuliaan Allah. Ini bukan berarti kemuliaan Allah dapat bertambah atau berkurang dengan perbuatan makhluk, sama sekali bukan!!!

Allah telah menetapkan sifat-sifat untuk diri-Nya; maka dengan membenarkannya kita telah mentaati dan mengagungkan Allah. Sebaliknya, dengan menafikan sifat Allah maka seseorang telah mendahulukan logika atau perasaannya di atas apa-apa yang telah Allah wahyukan. wallahu a’lam.

Semoga Allah melapangkan hati kita untuk menrima segala sifat dan nama Allah tanpa adanya tasybih (penyerupaan dengan makhluk) serta takyif (visualisasi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s