Kepada siapa Akal harus Tunduk?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al A’raaf 12)

Akal…

Ialah suatu nikmat besar yang dianugerahkan pada kita; yang dengannya kita dapat menemukan solusi, menjawab tantangan, menjadikan mudah apa-apa yang sulit, serta menimbang manfaat dan mudharat. Yang baik dan buruk serta untung dan rugi.

Orang yang hanyut dalam hawa nafsunya secara tak langsung telah mengurangi fungsi akal. Sejatinya mereka mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya saja hawa nafsu mendorong mereka pada pilihan “mana yang sesuai seleraku dan mana yang tidak.”

Sebaliknya…

Orang yang terlalu mendewakan akal pun tak lepas dari kesalahan. Menjadikan akal (khususnya akalnya sendiri) sebagai satu-satunya rujukan pun menimbulkan masalah. Bukankah kapasitas akal tiap orang berbeda? dan bukankah tiap orang memiliki keunggulan di satu bidang namun lemah di bidang lain? Dan bukankah pikiran kebanyakan manusia terbatas pada waktu dan tempat ia berada, pengetahuan yang ia peroleh, serta pada masa apa ia hidup?

10 abad lalu orang akan menganggap gila siapapun yang meyakini adanya kendaraan yang bisa terbang…Kini siapapun yang menyangkal adanya pesawat terbang justru dianggap gila.

Akal tentu suatu anugerah akan tetapi kita harus menyadari bahwa ia bukanlah pusat kebenaran tertinggi. Ada pusat kebenaran tertinggi dan mutlak, yang tak mungkin dapat dikalahkan oleh akal siapapun.

Ia adalah revelation atau wahyu yang datang dari Allah. Terdapat di dalam ayat-ayat Al Qur’an. Kemudian dijabarkan oleh rasulullah melalui ucapan beliau, perbuatan beliau, serta taqrir atau persetujuan beliau atas perbuatan para sahabat.

Sebelum wafatnya, rasulullah berpesan untuk mengikuti sunnah atau jalan yang beliau tempuh serta sunnah para khulafa ar rasyidin yang datang setelah beliau yaitu para sahabat beliau. Para sahabat bukanlah orang yang bodoh akan tetapi mereka tidak mengedepankan akal atau pendapatnya di hadapan wahyu Allah atau pun dihadapan perkataan rasulullah. Dan mereka menjadi mulia dengan sebab tersebut.

Sudah ada Contohnya

Mari renungkan apa yang terjadi pada iblis, sebagaimana yang Allah kabarkan di surat Al A’raaf 12. Betapa ia menolak wahyu (perkataan Allah) untuk sujud kepada Adam semata-mata demi mengikuti akal dan hawa nafsunya (klaim bahwa ia terbuat dari api dan lebih mulia daripada Adam yang diciptakan dari tanah).

Dari mana ia mendapat argumentasi tersebut? justru prinsipnya untuk mendahulukan akal daripada wahyu menjadikan iblis dihinakan oleh Allah hingga hari kiamat kelak.

Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari perbuatan tersebut…yakni mengunggulkan akal dan hawa nafsu daripada ayat-ayat Allah dan sunnah rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabi ut-tabi’in.

Sumber gambar: https://medium.com/madiyah-rana/suffering-from-a-lack-of-motivation-remember-jannah-49123ea2d6fb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s