Najasy Ashamah: Raja yang Beriman serta Sahabat yang Agung

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

 

“Dung ding dung…” bel kamar berbunyi diiringi suara yang tak asing, “assalamualaikum, room service madam.” Baik saya maupun ibu sudah menduga bahwa tamu yang berdiri di depan pintu kamar kami adalah Abdul. Saya pun membuka pintu dan sosok pria Afrika berkulit coklat telah berdiri dengan senyum jenaka. Entah kenapa rambut kriwilnya terasa cocok dengan seragam krem dan celana coklat tuanya. “morning sir.” Sapanya ramah dari samping troli bermuatan sprey, sabun, shampo, dan aneka ragam peralatan pembersih kamar.

“Wa alaikumus salaam. Come in.” Jawab saya. Abdul pun mengawali misi rapih-rapih kamarnya dengan nyengir. Tapi jangan salah, selain ramah pria Ethiopia ini pun cekatan dan kerjanya rapih.

 

Kerajaan Aksum

Abdul hanya satu dari sekian banyak muslim Ethiopia yang bekerja di Madinah. Jauh sebelumnya –sejak masa Kerajaan Aksum- leluhur orang-orang ini telah menjadi bagian dari kehidupan Makkah maupun Madinah. Kebanyakan dari mereka berstatus budak, karena salah satu komoditi ekspor Kerajaan Aksum memang budak yang diperoleh dari tawanan perang. Bilal bin Rabah dan Wahsyi adalah dua nama yang tercatat dalam sejarah Islam sebagai Habsyi atau sahabat yang berasal dari Habasyah (nama lain kerajaan Aksum).

Selain dari kalangan budak, bangsa Arab juga mengenal orang-orang Habsyi yang berasal dari kalangan bangsawan dan militer sejak kemenangan mereka atas Kerajaan Himyar di Yaman. Tokoh Habsyi yang paling dikenal bangsa Arab kuno adalah Abrahah; penguasa Yaman yang membangun Gereja Al-Qalash untuk menandingi Ka’bah. Ketika upayanya memalingkan para peziarah Arab dari Ka’bah gagal; ia pun membawa pasukan besar yang disertai gajah-gajah tempur ke Makkah. Niatnya menghancurkan Ka’bah justru berubah menjadi malapetaka yang bukan hanya menimpanya dan pasukan yang menyertainya; akan tetapi juga terhadap eksistensi bangsa Habsyi di Yaman. Allah mengirimkan ribuan burung kecil yang membawa kerikil dari neraka; meluluh lantakkan pasukan besar itu seluruhnya. Tuhan semesta alam mengabadikan kisah ini di dalam surat Al-Fil.

Di tahun kelima hijrah rasul memerintahkan para sahabatnya untuk mengungsi ke Aksum demi menghindari persekusi kaum Quraisy yang semakin menjadi-jadi. Dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib, rombongan yang di dalamnya terdapat Utsman bin Affan dan istri beliau Ruqayyah binti rasulullah mendapat suaka dari Najasy (gelar raja bangsa Aksum) Ashamah yang terkenal bijak dan memahami Injil.

Kaum Quraisy pun gempar karena sebuah kerajaan kuat yang menguasai perniagaan jalur sutera di Laut Merah dan Afrika Timur bersedia menampung musuh mereka. Sebuah kerajaan yang pernah menaklukkan Yaman sekaligus sekutu Kekaisaran Romawi menampung pengikut Muhammad? Sudah tentu Quraisy merasa tidak aman. Mereka pun mengirim utusan kepada Najasyi Ashamah untuk mengusir umat Islam dari sana.

Sebagai penguasa yang adil, Ashamah pun memanggil umat Islam dan utusan Quraisy ke hadapannya secara bersama. Setelah mendengar klaim dari Amr bin Ash yang kala itu belum masuk Islam; Ashamah meminta Ja’far untuk memaparkan argumennya. Sepupu rasul pun menjelaskan isi dakwah rasul serta membacakan awal surat Maryam. Baik pendeta dan pembesar kerajaan serta Ashamah seluruhnya mengucurkan air mata. Ashamah menyadari bahwa ajaran Islam dan apa yang diajarkan oleh Isa bin Maryam di injil tidaklah berbeda. Ia pun semakin kuat dalam memberi perlindungan pada umat Islam yang berhijrah ke negerinya.

 

Syariat Sholat Ghaib

Tahun pun berlalu dan rasulullah mengirim surat ke Aksum untuk mengajak Ashamah masuk Islam sekaligus memulangkan para sahabat ke Madinah. Tanpa ragu Ashamah pun menyatakan diri masuk Islam walau tak seorang pun dari pembesar kerajaan yang mengikuti jejaknya. Ketika Ja’far bin Abu Thalib dan para sahabat pulang maka Ashamah menjadi satu-satunya muslim di negeri Aksum. Ia tetap teguh dalam ajaran tauhid hingga Allah memuliakannya dengan salah satu syariat ibadah yang tetap berjalan hingga hari ini yaitu sholat ghoib. Dijelaskan dalam sebuah hadits shahih yang bersumber dari sahabat Abu Hurairah:

َنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى لِلنَّاسِ )وهو بالمدينة( النَّجَاشِيَّ )أَصْحَمَهْ( )صَاحِبَ الْحَبَشَةِ( فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ ) قَالَ: إِنَّ أَخًا قَدْ مَاتَ (وفي رواية: مَاتَ الْيَوْمَ عَبْدٌ للهِ صَالِحٌ) )بِغَيْرِ أَرْضِكُمْ( )فَقُوْمُوْا فَصَلُّوْا عَلَيْهِ(، )قَالُوْا: مَنْ هُوَ؟ قَالَ النَّجَاشِيُّ( )وَقَالَ: اسْتَغْفِرُوْا لأَخِيْكُمْ( ، قَالَ: فَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى (وفي رواية: البَقِيْعِ) )ثُمَّ تَقَدَّمَ فَصَفُّوْا خَلْفَهُ( )صَفَّيْنِ( ، )قَالَ: فَصَفَفْنَا خَلْفَهُ كَمَا يُصَفُّ عَلَى الْمَيِّتِ وَصَلَّيْنَا عَلَيْهِ كَمَا يُصَلَّى عَلَى الْمَيِّتِ()وَمَا تُحْسَبُ الْجَنَازَةُ إِلاَّ مَوْضُوْعَةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ( )قَالَ: فَأَمَّنَا وَصَلَّى عَلَيْهِ( ، وَكَبَّرَ(عَلَيْهِ) أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang ketika itu sedang berada di Madinah) pernah mengumumkan berita kematian an-Najâsyi (Ash-hamah) (raja Habasyah) kepada orang-orang pada hari kematiannya. (Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya saudara kalian telah meninggal dunia –dan dalam sebuah riwayat disebutkan : Pada hari ini, hamba Allah yang shalih telah meninggal dunia) (di luar daerah kalian) (karenanya, hendaklah kalian menshalatinya)”, (Mereka berkata : “Siapakah dia itu?” Beliau menjawab : “an-Najâsyi”) (Beliau juga bersabda : “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian ini”). Perawi hadits ini pun bercerita : Maka Beliau berangkat ke tempat shalat (dan dalam sebuah riwayat disebutkan : Ke kuburan Baqi). (Setelah itu, Beliau maju dan mereka pun berbaris di belakang Beliau (dua barisan) (dia bercerita : “Maka kami pun membentuk shaff di belakang Beliau sebagaimana shaff untuk shalat jenazah dan kami pun menshalatkannya sebagaimana shalat yang dikerjakan atas seorang jenazah). (Dan tidaklah jenazah itu melainkan diletakkan di hadapan Beliau)” (Dia bercerita : “Maka kami bermakmum dan Beliau menshalatkannya). Seraya bertakbir atasnya sebanyak empat kali”.[1]

[1]  Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (III/90,145,155 dan 157), Muslim (III/54), dan lafazh di atas miliknya. Juga Abu Dawud (II/68-69), an Nasâ`i (I/265 dan 280), Ibnu Mâjah (I/467), al-Baihâqi (IV/49), ath-Thayâlisi (2300), Ahmad (II/241, 280, 289, 348, 438, 439, 479,539) melalui beberapa jalan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . [Diambil dari Ahkâm al-Janâ`iz, hlm. 89] https://almanhaj.or.id/9612-shalat-ghaib-dalam-fikih-islam.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s