Mereka yang Masuk ke Dalam api Demi mempertahankan Iman

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

 

قُتِلَ أَصْحٰبُ أُلْاُخْدُوْدِ، أَلنَّارِ ذَاتِ الْوَقُوْدِ، إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُوْدٌ، وَ هُمِ عَلَى مَا يَفْعَلُوْنَ بِالْمُوْمِنِينَ شُهُوْدٌ، وَ مَا نَقَمُواْ مِنْهُمْ إِلَّاا أَنْ يُوْمِنُوا بِاللهِ العَزِيْزِ الحَمِيْدِ،

            Binasalah orang-orang yang  membuat parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar. Ketika mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu meainkan karena orang-orang mukimin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Al-Buruj: 4-8)

 

            Bayangkan seorang ibu yang digiring ke tepi sebuah parit. Dan bukan parit biasa melainkan sebuah galian besar dan luas berisi api yang menyala-nyala. Tangan sang ibu memeluk bayi mungil yang masih menyusui. Para penjaga terus mengancam dan berteriak agar ia segera melompat ke dalam api; sebuah harga yang harus dibayar akibat menolak perintah raja untuk meninggalkan keimanan pada Allah.

Siapapun akan bimbang dan takut apalagi bila memikirkan nasib sang buah hati. Akan tetapi dengan izin Allah, bayi di pangkuan si ibu dapat berbicara dan meminta ibunya untuk bersabar karena ia berada di atas kebenaran. Sadar akan datangnya pertanda dari Allah, wanita itu dan bayinya pun melompat ke dalam kobaran api mengikuti jejak ribuan orang beriman lain yang telah masuk terlebih dahulu.

Ribuan orang seakan binasa. Untuk apa mereka harus melakukan itu? Bukankah kepercayaan adalah urusan pribadi? Bukankah menyangkal kepercayaan akan berbuah keselamatan? Bukankah jalan menuju Tuhan bermacam-macam? Bila ditanyakan pada mereka yang skeptis terhadap agama atau condong pada sekularisme mungkin pertanyaan-pertanyaan tadi masuk di akal. Biar bagaimanapun keselamatan adalah yang utama. Akan tetapi orang-orang yang masuk ke dalam parit berapi itu tentu memiliki keyakinan yang berbeda. Bagi mereka iman adalah harga mati yang tidak dapat digadaikan; dan atas keteguhan inilah Allah mengabadikan kisah mereka di awal surat Al-Buruj.

 

Ashabul Ukhdud

Terdapat bayak asbabun nuzul (sebab diturunkannya ayat) dari surat ini, dan penafsiran dari kisah ashabul ukhdud (orang-orang yang dimasukan ke dalam parit berapi) telah dijelaskan dengan rinci dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan dari sahabat Shuhaib ar-Rumi.[1] Hadits yang dimaksud bercerita tentang seorang raja Yahudi yang memiliki penyihir kepercayaan.

Penyihir itu mengabari raja bahwa umurnya sudah tak akan lama lagi dan ia meminta sang raja mencari seorang pemuda cerdas untuk diwarisi semua sihir yang ia miliki. Pemuda yang dimaksud pun berhasil ditemukan dan ia pun mulai menuntut ilmu pada sang penyihir hingga mengalami sebuah peristiwa yang mengubah nasibnya.

Dalam perjalanan menuju tempat si penyihir ia melintasi sebuah kemah yang didalamnya terdapat seorang pendeta yang tengah shalat. Sang pemuda singgah dan tertegun dengan apa yang ia dapati dari si pendeta. Apa yang ia kerjakan dan apa yang ia baca. Murid penyihir pun menempuh jalan lain menjadi murid pendeta nasrani yang bertauhid.

Semakin hari apa yang dipelajari dari penyihir dan apa yang dipelajari dari sang pendeta semakin bertolak belakang. Sang pemuda pun perlahan-lahan membuang sihirnya dan mulai berdakwah mengajak orang ke jalan Allah. Salah satu yang mendapat hidayah melalui tangan si pemuda adalah kawan dekat raja yang matanya buta. Dengan izin Allah si pejabat yang buta ini pun disembuhkan dan dapat melihat kembali.

Raja takjub dengan kesembuhan kawan dekatnya; ia pun bertanya siapa yang menyembuhkannya?

“Tuhanku.” Jawab si pejabat.

“Akukah yang menyembuhkanmu?” raja bertanya balik.

“Bukan, tetapi Allah. Tuhanku dan Tuhanmu.”

Raja murka dengan jawaban tersebut dan ia perintahkan pasukannya untuk menyiksa si pejabat hingga mengaku darimana ia mendapat agama baru tersebut. Setelah mengalami siksaan pedih ia pun mengaku dari si pemuda. Raja pun memanggil si pemuda dan menyiksanya untuk mendapat informasi tentang tokoh yang menyebarkan agama ini. Si pemuda pun akhirnya mengaku bahwa ia belajar dari sang pendeta. Kini giliran si pendeta ditangkap. Bedanya ia tidak disiksa melainkan langsung dibunuh dengan cara digergaji lehernya.

Selesai dengan si pendeta raja pun memerintahkan bawahannya untuk melempar sang pemuda dari atas gunung. Dengan izin Allah, si pemuda selamat dan para algojo yang justru jatuh dari gunung. Raja tak menyerah, kali ini ia perintahkan si pemuda untuk ditenggelamkan di tengah laut namun lagi-lagi Allah menolongnya. Justru para prajurit raja yang tenggelam.

Langkah berikut yang diambil oleh si pemuda adalah memberi tahu raja bagaimana cara membunuhnya. Pertama-tama ia meminta agar seluruh penduduk negeri dikumpulkan di suatu tempat untuk menyaksikan eksekusi yang akan dilangsungkan.

Hari yang dinanti pun tiba. Raja mengikuti petunjuk si pemuda untuk menyalibnya di pohon. Hal berikut yang harus dilakukan raja adalah menembak jidat si pemuda dengan panah dan diawali dengan kalimat, “Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.”

Begitu nama Allah disebut maka panah itu pun berhasil menancap di kening si pemuda dan membunuhnya. Para penonoton gempar, dan sebagaimana yang terjadi pada barisan penyihir firaun yang bersujud dan beriman pada Allah setelah melihat mukjizat yang diberikan pada Musa dan Harun; para penduduk pun menyatakan diri beriman pada tuhan si pemuda yang tak lain adalah Allah.

Raja pun murka. Ia kemudian memerintahkan orang-orang yang telah beriman pada Allah untuk murtad. Dan untuk menegaskan perintahnya ia pun memerintahkan agar digali sebuah parit raksasa yang diisi kayu bakar. Siapapun yang tidak mau murtad dari agama barunya maka akan dibakar hidup-hidup; akan tetapi ancamannya tidak digubris oleh orang-orang beriman yang lebih memilih mati daripada durhaka pada Allah.

 

Balasan sesuai dengan amal

Sudah menjadi sunatullah bahwa siapapun yang hendak tunduk patuh pada Allah akan senantiasa berhadapan dengan cobaan dan hal-hal yang tak menyenangkan. Dan sudah menjadi sunatullah pula orang-orang yang telah merasakan manisnya iman akan menolak untuk menukarnya dengan apapun.

Sunatullah pun berlaku bagi orang-orang zalim; dimana Allah akan merendahkan serta membinasakan mereka dengan cara yang hanya Ia ketahui.

Kerajaan Himyar dan Raja Dzu Nuwas telah bertindak zalim terhadap orang-orang beriman; maka Allah pun menghancurkan kerajaan tersebut melalui tangan pasukan Habsy yang dipimpin Abrahah.

[1] HR. Ahmad (Musnad Ahmad, 6/16-17), HR. Muslim (Shahih Muslim no. 3005, bab: zuhud), HR. An-Nasa’i (Mukhtashar At-Tuhfah, bab: Tafsir, 1/402)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s