Abrahah dan Hancurnya Kekuasaan Habsyi di Yaman

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

 

أَلَمْ تَرِ كَيِفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحٰبِ اَلْفِيْلِ، أَ لَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيْلِ، وَ أَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيْلَ، تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّلِ، فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلِ

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).(QS. Al-fiil: 1-5)

 

Pembantaian yang dilakukan Raja Dzu Nuwas seolah memenuhi tujuannya; tiada lagi orang yang menyembah Allah di seantero Kerajaan Himyar. Setiap penganut Nasrani berakhir di sebuah parit besar berisi api yang menyala-nyala. Sang raja beragama Yahudi pun puas; mengira perbuatannya sebuah kemenangan. Meskipun demikian, jauh di pelosok bumi yang lain kabar tentang apa yang terjadi di Negeri Himyar sampai di telinga seorang raja lain.

Kabar tentang ashabul ukhdud atau orang-orang yang dilempar ke parit berapi terbawa angin melintasi negeri Syam di utara serta menyeberangi Laut Merah menuju barat. Adalah beberapa gelintir orang yang berhasil melarikan diri dari pembantaian itu yang melaporkan kejadian pada Kaisar Romawi Justin. Meski bersimpati dan siap untuk menolong rekan seimannya namun Justin tak mampu mengumpulkan pasukan dan mengirimnya dalam waktu singkat. Sebagai jalan keluar, ia meminta sekutunya -Najasy Kaleb- dari Kerajaan Aksum untuk menyerang Dzu Nuwas.

Kaleb pun menyiapkan pasukan besar yang dipimpin oleh Abrahah. Dengan perahu yang demikian banyak mereka menyeberangi Laut Merah dan tiba di Yaman. Pasukan Aksum yang didukung tank-tank zaman dahulu (yaitu gajah tempur) dengan mudahnya meluluhlantakan pasukan Himyar. Dzu Nuwas bunuh diri dan bersamanya berakhir Kerajaan Himyar.

Umat Nasrani yang tadinya ditindas kini dapat bernafas lega. Bukan hanya Kerajaan Aksum yang sama-sama penganut Nasrani telah membebaskan mereka; namun Najasyi Kaleb juga mengangkat tokoh nasrani setempat untuk menjadi pemimpin.

 

Pemberontakan Abrahah

Beda halnya dengan penduduk Yaman, Abrahah merasa kecewa dengan keputusan Najasyi Kaleb. Ia pun membuntuh Samu Ya’fa (nama pemimpin yang ditunjuk Kaleb) serta menjadikan dirinya penguasa Aksum.

Marah dengan perbuatan Abrahah, Kaleb pun mengirim pasukan yang dipimpin oleh Airat dan kedua panglima pun sepakat untuk menyelesaikan masalah dengan duel. Airat tewas dan Najasyi Kaleb harus berpuas diri dengan kesediaan Abrahah untuk membayar upeti padanya.

 

Pasukan bergajah

إنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَ هُدَى لِّلْعَالَمِيْنَ

Sesungguhnya rumah pertama yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah baitullah yang ada di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Qs. Ali-Imran: 96)

 

Demi mengokohkan wibawanya sebagai raja, Abrahah pun membangun sebuah gereja yang amat megah menggunakan bahan-bahan terbaik yang dikumpulkan dari seantero Yaman. Batu-batu berwarna hitam, hijau, kuning, dan putih diambi dari sebuah kastil. Tangganya berbahan dasar marmer sementara pintunya dibuat dari tembaga. Amat megah bangunan ini serta begitu indah karena dihiasi dekorasi berbahan dasar kayu dan gading. Begitu Gereja megah yang berlokasi di San’a rampung; Abrahah pun menamakannya Gereja Al-Qalis atau Ekklesia yang berarti kumpulan orang.

Kabar tentang gereja Abrahah menyebar ke seantero Yaman bahkan negeri-negeri lain namun demikian peziarah yang mengunjunginya tidak membludak. Hal yang membuat Abrahah semakin heran adalah keinginan orang-orang Arab pagan untuk beribadah ke Ka’bah yang terletak di Makkah yang terpencil dan sederhana. Apa yang membuat Makkah lebih populer dari San’a dan Ka’bah daripada Al-Qalis? Inilah yang hendak diselidiki oleh sang raja.

Dengan semangat untuk mengubah keyakinan orang-orang Arab pagan menjadi Nasrani, Abrahah pun menyiapkan pasukan besar yang diiringi gajah-gajah tempur kemudian berangkat ke Makkah. Nyaris tak ada suku-suku Arab yang berani menghalangi pasukan ini hingga tak butuh waktu lama bagi Abrahah untuk tiba di luar kota Makkah.

Di lain pihak, kaum Quraisy juga mengikuti kabar terkini pasukan Abrahah. Begitu pasukan raksasa ini mendekati Makkah, Abdul Muthalib yang merupakan tokoh paling disegani Quraisy pun memerintahkan seluruh penduduk Makkah untuk mengungsi. Setelah kota kosong ia pun menuju perkemahan Abrahah dan disambut dengan baik oleh sang raja.

Abrahah yang kagum dengan sikap maupun fisik Abdul Muthalib berjanji akan memberi apapun asalkan dibiarkan untuk menghancurkan Ka’bah. Abdul Muthalib tidak meminta apapun kecuali seluruh ternak penduduk Makkah dikembalikan. Abrahah memenuhi permintaan tersebut dengan diiringi sebuah pertanyaan, “Mengapa hanya ini yang kalian pinta? Mengapa kalian tidak melindungi rumah itu? (maksudnya Ka’bah)”

Abdul Muthalib pun menjelaskan bahwa ternak-ternak tersebut adalah miliknya dan penduduk Makkah sedangkan Ka’bah ada yang memilikinya sendiri. Maka biar pemilik Ka’bah yang menjaga apa yang menjadi miliknya.

Waktu yang ditentukan pun tiba. Setelah kota dikosongkan pasukan Abrahah pun mulai bergerak menuju Makkah. Tiba-tiba langkah mereka terhambat oleh ulah pemimpin gajah yang tidak mau diarahkan ke Ka’bah. Seberapa keras pun upaya para pawang untuk mengarahkannya ke Ka’bah hasilnya sia-sia. Mogoknya sang gajah alpha berakibat buruk pada gajah-gajah lain yang juga menolak untuk berjalan. Ironisnya bila diarahkan ke manapun selain Ka’bah maka sang gajah pun menurut. Begitu diarahkan kembali ke tempat dimana Ka’bah berada maka ia kembali mogok.

Saat tentara Abrahah asyik mengurui gajah-gajah langit pun menjadi gelap. Seolah awan besar warna hitam bergerak ke arah mereka dengan cepat. Ketika awan tersebut semakin dekat maka sadarah Abrahah dan prajurit bahwa yang mereka kira awan hitam ternyata kelompok burung kecil yang entah berapa banyak jumlahnya. Di kaki dan paruh mereka terdapat batu-batu yang juga kecil yang tak akan terasa sakit bila menimpa kepala manusia.

Yang terjadi berikutnya amat di luar nalar. Batu-batu kecil tadi menghasilkan lubang besar di tubuh manusia maupun hewan yang ditimpanya. Dengan segera mereka pun mati dengan cara yang tak lazim. Abrahah sendiri selamat dan berhasil dibawa pulang ke Yaman oleh beberapa pengikutnya dalam keadaan yang mengenaskan. Tak lama kemudian ia pun ikut mati.

Kematian tragis Abrahah dan binasanya pasukan bergajah rupanya tidak menjadi akhir dari kisah orang-orang Habsyi di Yaman. Tak lama kemudian orang-orang Arab pun meminta bantuan pada Kerajaan Sasaniyah Persia untuk mengusir orang-orang Habsy. Kekuasaan orang-orang Habsyi pun berakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s