Saat Ahli Kitab Membenarkan Kerasulan Muhammad Shollallahu alayhi wa sallam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

 

وَ إِذْ قَالَ عِيْسَى ابِنُ مَرْيَمُ يٰببنِىٰ إِسْرٰاءِيْلَ إنِّى رَسُوْلُاللهِ إِلَيْكُم مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ التَوْرٰةِ وَ مُبَشِّرَا بِرَسُوْلِ يَعْتِى مِنْ بَعْدِى أِسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاٰءَهُمْ بِالبَيِّنٰةتِ قَالُوْا هَذَا سِحْرٌ مُبِيِنٌ

Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaff: 6)

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ إِنّ لِي أَسِمَاءً أَنَا مُحَمَّدٌ وَ أَنا أَحْمَدُ وَ أَنَا المَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللهُ بِيَ الكُفْرَ وَ أَنَا الحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَ أَنَا العَاقِبُ

“Aku mendengar Rasulullah shallahu alaiyhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku memiliki lima nama, yaitu saya Muhammad, Ahmad, Al Maahi yang dengan sebab saya menghapuskan kekufuran, Al Hasyir yang seluruh manusia dikumpulkan di atas (bekas) telapak kakiku (setelahku) dan saya juga Al ‘Aqib.” (Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari az Zuhri)[1]

 

            Dalam perjalanan niaga menuju Syam, kafilah Makkah yang diketuai Abu Thalib melintasi kediaman seorang rahib bernama Buhaira. Tidak seperti sebelumnya saat ia tak acuh pada kafilah-kafilah yang berlalu-lalang; kali ini Buhaira memperhatikan dengan teliti rombongan tersebut. Mengikutinya lalu mengundang mereka untuk singgah di kediamannya.

Abu Thalib dan rombongan pun dijamu oleh tuan rumah. Dan sembari mereka menikmati keramahan tuan rumah, Buhaira pun bertanya pada Abu Thalib perihal seorang remaja yang menemaninya. “Ia anakku.” Jawab Abu Thalib.

Buhaira tidak percaya, “Ia pasti seorang anak yatim.”

“Darimana anda mengetahuinya?” Abu Thalib terkejut, “ayahnya adalah saudaraku dan kedua orang tuanya telah meninggal. Kini akulah yang menjadi ayahnya.”

Puas dengan keterangan tersebut Buhaira pun menceritakan apa yang ia saksikan, “Sepanjang perjalanan kafilah aku memperhatikan pepohonan dan bebatuan bersujud kepadanya; dan mereka tidak bersujud kepada seorang nabi.”

Abu Thalib terkesima dengan penjelasan sang rahib. Buhaira pun melanjutkan bahwa ia mengetahui tanda-tanda kenabian yang ada di punggung sang pemuda. Ketika baju di tubuh sang pemuda disingkap, Abu Thalib dan Buhaira menyaksikan tanda tersebut. Pada saat itu juga Buhaira menyatakan kenabian Muhammad Shollallahu alayhi wa sallam dan berharap akan menjadi pengikutnya ketika sang pemuda diangkat menjadi nabi dan rasul. Ia juga meminta Abu Thalib menjaganya dari orang-orang Yahudi karena mereka pun mengetahui ciri-ciri nabi terakhir; akan tetapi berbeda dengan Nasrani, mayoritas Yahudi justru memusuhi rasul yang dinanti. Abu Thalib pun mengutus beberapa putranya untuk mengantar Muhammad Shollallahu alayhi wa sallam kembali ke Makkah.

 

Darimana Mereka Mengenal Rasulullah?

Inilah pertanyaan dasar mengenai informasi yang didapat Yahudi dan Nasrani tentang ciri-ciri nabi terakhir? Bagaimana mungkin mereka yang tinggal jauh dari Makkah mengenali ciri sang nabi terakhir? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka kita harus kembali ke sekitar lima abad sebelumnya, saat Isa bin Maryam hendak Allah angkat ke langit.

Sebagai muslim kita membenarkan kalimat Allah yang tertulis di surat Ash-Shaff ayat 6; karena para nabi dan rasul terbebas dari sifat dusta.

Ketika nabi Isa telah diangkat ke langit maka Allah menjadikan orang-orang Yahudi dan tentara Romawi menangkap seorang pria yang disangka rasulullah Isa bin Maryam; dan tidaklah mereka menangkap serta menyalibnya kecuali dengan perasaan ragu tentang jati diri orang tersebut. Kisah tentang penyaliban orang yang dikira Isa bin Maryam dapat ditemui di surat An-Nisa ayat 157.

Keraguan akan nasib Isa bin Maryam tak hanya dirasakan oleh orang-orang Yahudi akan tetapi juga menimpa para pengikutnya. Sebagian dari mereka menafsirkan diangkatnya Isa ke langit dengan kepercayaan bahwa Ia adalah Allah. Sebagian yang lain meyakini Isa adalah putra Allah. Dan sebagian kecil pengikutnya meyakini bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Di kemudian hari dua kelompok pertama akan mendominasi terlebih setelah Paulus mengubah ajaran Isa lalu mendakwahkannya di kalangan bangsa Romawi. Orang-orang ini pun terus terpecah menjadi banyak kelompok namun mereka memiliki kesamaan sikap terhadap orang-orang Nasrani yang meyakini Isa bukanlah Allah, melainkan hanya seorang rasul. Selama lima abad hingga masa kenabian Muhammad Shollallahu alayhi wa sallam, senantiasa ada di kalangan Yahudi dan Nasrani orang-orang yang berpegang teguh dengan ajaran Isa; dan kebanyakan dari mereka akhirnya membenarkan kenabian Muhammad Shollallahu alayhi wa sallam dan masuk Islam.

Kehadiran ahli kitab yang berusaha mempertahankan kemurnian ajaran Isa bin Maryam telah ada jauh sebelumnya. Salah seorang diantara mereka bernama Arius dari Alexandria. Ia dengan terang-terangan menolak ajaran yang menyatakan Allah dan Isa merupakan oknum yang sama atau sederajat. Penentangan yang awalnya hanya ditujukan pada Uskup Alexander dari Alexandria dan penerusnya yang bernama Athanasius. Demikian kerasnya pertentangan antara Arius dengan mereka hingga Kaisar Constantine I harus mengumpulkan para uskup dan pakar Injil dari seantero wilayah Romawi di Nicaea / Iznik tahun 325 M.

Di rapat yang kelak dikenang dengan nama First Council of Nicaea inilah orang-orang Nasrani yang terlanjur meyakini Isa sebagai Allah atau putra Allah berargumen dengan umat Nasrani yang masih meyakini Isa hanyalah hamba dan rasulullah. Meski unggul dalam pendalilan akan tetapi Arius dan pengikutnya kalah. Kaisar Constantine memutuskan ajaran Alexader dan Athanasius sebagai ajaran Nasrani / Kristen yang resmi. Arius dan orang-orang yang meyakini akidah yang sama dikejar dan dimusuhi di seantero kekuasaan Romawi namun berhasil meyakinkan bangsa Goth untuk menganut agama yang dibawa oleh Isa bin Maryam. Permusuhan terhadap mereka berlangsung selama berabad-abad akan tetapi mereka sama sekali tidak punah. Kelak diantara mereka akan ada orang-orang yang berjumpa dengan rasulullah dan membenarkan kenabian beliau. Diantara golongan ini terdapat Buhaira, Waroqoh bin Naufal, serta Najasyi Ash-Hamah.

 

Ahli Kitab Yang Mempertahankan Kemurnian Tauhid

Lalu bagaimana dengan mereka yang tetap berpegang teguh pada ajaran Isa namun keburu wafat sebelum berjumpa atau mendengar kerasulan Muhammad Shollallahu alayhi wa sallam? Allah memberi kabar gembira tentang mereka dengan diturunkannya ayat ke-62 dari surat Al-Baqarah.

Ayat tersebut menjelaskan tentang orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Sabi’in di periode masing-masing; yaitu sebelum kerasulan Muhammad Shollallahu alayhi wa sallam. Pada setiap zaman, ajaran tauhid yang dibawa oleh Musa maupun Isa alaihimas salaam telah diubah oleh oknum dari kalangan Yahudi dan Nasrani hingga menyimpang jauh dari ajaran yang asli. Dan penyimpangan paling besar terdapat di dalam hal tauhid atau keesaan Allah serta ketaatan pada perintah para Nabi dan Rasul seperti Musa, Isa bin Maryam, dan Muhammad alaihimus sallam. Maka berdasarkan ayat ini, tiap Yahudi maupun Nasrani maupun Sabi’in yang mempertahankan kemurnian tauhid sebelum kerasulan Muhammad akan diganjar dengan keselamatan di dunia dan akhirat. Demikian pula dengan mereka yang berjumpa dengan rasulullah dan membenarkan kenabian beliau, inipun akan diganjar keselamatan oleh Allah.

Sebaliknya, orang-orang yang menyimpang akidahnya seperti kaum liberal sering menjadikan ayat ini sebagai pembenaran dari pluralisme agama. Mereka mendakwahkan kesamaan semua agama melalui ayat ini. Mereka mengklaim bahwa agama apapun benar dan apabila pengikutnya percaya pada Allah maka ia akan selamat di akhirat kelak.

Yang mereka lupakan adalah sebuah ayat yang akan membantah dengan jelas keyakinan mereka.

وَ مَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِيِنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَ هُوَ فِي الأَخِرَةِ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat kelak ia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85)

 

[1] Diriwayatkan al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. Beliau rahimahullah mengatakan, “Kami diberitahu oleh Abul Yaman, kami diberitahu oleh Syu’aib dari az Zuhri, dia mengatakan ‘aku diberitahu oleh Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari bapaknya (yaitu Adi, salah seorang sahabat rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang wafat tahun 59 Hijrah.” https://almanhaj.or.id/568-kabar-gembira-tentang-kedatangan-seorang-nabi.html

 

Iklan

2 Comments Add yours

  1. mysukmana berkata:

    terimakasih untuk pencerahannya..om

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ryan Mayer berkata:

      terima kasih k3mbali om.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s