Suku Quraisy

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

 

إِنَّ اللهُ الصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيْمَ إِسْمَاعْيْلَ، وَاصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعْيْلَ كِنَانَةً، وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ   

“Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail dari anak cucu Ibrahim. Memilih Kinanah dari anak cucu Ismail. Memilih Quraisy dari anak cucu Bani Kinanah. Memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy. Dan memilihku dari keturunan Bani Hasyim.”[1]

 

Nasab Quraisy

Kita telah sering mendengar tentang suku Quraisy yang merupakan keluarga besar rasulullah sekaligus suku paling terhormat di kalangan bangsa Arab. Allah pun menurunkan sebuah surat yang dinamakan dengan nama suku ini. Apa yang membuat mereka istimewa? Mari kita telusuri jawabannya.

Sejarah Quraisy berasal dari putra tertua Nabi Ibrahim yang tumbuh besar di Makkah, yaitu Nabi Ismail. Dari pernikahannya dengan putri Madhdhadh bin Amr al-Jurhumi (sebuah kabilah yang meminta izin pada Hajar untuk tinggal di Makkah) beliau mendapatkan dua belas orang putra. Dari kedua belas putranya, Nabith dan Qaidar mampu menorehkan tinta emas di sejarah Arab.

Nabith bin Ismail dan keturunannya mampu membangun kerajaan di Utara Hijaz yang dikenal dengan nama An-Nabath atau Nabathea. Mereka pula yang membangun kota Al-Bathra atau Petra dengan cara memahat batu-batu cadas menjadi gedung-gedung. Dari keluarga Nabith inilah lahir suku Ghassan, Aus, dan Khazraj.

Berbeda dengan Nabith, Qaidar bin Ismail dan keturunannya tetap bermukim di Makkah dan darinya lahir Adnan yang merupakan kakek ke-21 dari rasulullah. Putra Adnan yang bernama Ma’d memiliki putra bernama Nizar, dan dari Nizar lahir empat orang anak yang kelak akan memimpin keluarga besar masing-masing. Salah satu diantara mereka bernama Mudhar yang kelak mewarisi empat suku; diantaranya Ilyas bin Mudhar, Bani Sulaim, dan Bani Ghathafan.

Keturunan Ilyas bin Mudhar terpecah menjadi banyak kabilah seperti Bani Hudzail,  Asad, serta Kinanah.  Dari Kinanah muncul Fihr bin Malik bin an-Nadzr bin Kinanah yang kelak melahirkan Quraisy.

Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah seperti Jumh, Sahm, Ady, Makhzum, Taim, Zahrah serta keturunan Qushay bin Kilab yaitu Abdud Dar bi Qushay, Asad bin Abdul Uzza bin Qushay, dan Abdu Manaf bin Qushay.

Abdu Manaf memiliki beberapa orang anak yaitu Abdu Syams, Naufal, Al-Muththalib, serta Hasyim. Di kemudian hari Hasyim  menikahi Salma binti Amr yang menetap di Yastrib (Madinah) lalu memiliki putra yang bernama Syaibah. Hasyim keburu wafat sebelum berjumpa dengan putranya, akan tetapi saudaranya yang berama Al-Muththalib mengetahui kabar tentang Syaibah. Maka saat Syaibah cukup umur ia pun dibawa pulang ke Makkah oleh Al-Muththalib namun disangka penduduknya sebagai budak. Mereka menjuluki Syaibah Abdul atau hamba sahaya Muththalib; dan sejak saat itu hingga wafatnya Syaibah dikenal dengan nama tersebut.

 

Perniagaan Suku Quraisy

Banyak hal yang menjadikan Quraisy terpandang istimewa di kalangan bangsa Arab. Pertama mereka adalah bangsa yang terkenal dengan kebiasaan berniaga ke Yaman saat musim dingin dan ke Syam ketika musim panas. Kebiasaan mereka merupakan hal yang luar biasa mengingat hampir semua komoditas perniagaan dari Asia dan Afrika Timur dibawa ke Yaman oleh bangsa-bangsa yang beragam. Kayu, rempah-rempah, serta kapur barus adalah beberapa contoh barang dagangan internasional yang dapat ditemui di Yaman.

Agar barang-barang tadi mampu menuju Afrika Utara, Asia Barat, serta Eropa dibutuhkan kafilah-kafilah besar yang diperankan oleh suku Quraisy. Barang-barang tadi bisa saja diangkut melalui kapal-kapal yang melintasi Laut Merah akan tetapi resikonya lebih besar dibanding melalui jalan darat.

Orang-orang Arab -khususnya Quraisy- berperan sebagai perantara. Mereka mengangkut barang-barang tadi menuju Makkah, sebagian untuk dijual kembali dan sebagian disimpan untuk perniagaan musim panas menuju Syam. Dan kakek buyut rasul yang bernama Hasyim wafat di Ghaza dalam perjalanan niaga menuju Syam.

 

Peran Suku Quraisy Dalam Pemerintahan Makkah

Kedudukan Quraisy di Makkah berawal dari keberhasilan Qushay bin Kilab memenangi perang saudara melawan Bani Khuzaah. Sejak saat itu kekuasaan Makkah berada di tangannya serta sukunya. Ia pun membangun Darun Nadwah yang dijadikan pusat pemerintahan. Di tempat ini kepala-kepala suku Makkah berkumpul untuk menjalankan roda pemerintahan. Diantara fungsi Darun Nadwah adalah memberi panji perang kepada orang-orang tertentu yang diangkat dari keluarga Qushay. Lembaga ini juga mengeluarkan qiyadhah atau izin untuk berniaga ke luar negeri.

Qushay juga memiliki hak hijabah atau menutup dan membuka pintu Ka’bah dan tak ada orang selain dirinya yang berhak melakukan hal itu. Ia juga menunjuk pihak-pihak tertentu untuk menjalankan siqayah atau pendistribusian air minum, kurma, dan kismis pada para jamaah haji. Kelak di masa Hasyim, makanan bagi jamaah haji ditambahkan dengan ats-tsarid atau roti yang diremuk dan disiram kuah. Ialah orang pertama yang meremukan roti hingga dikenal dengan nama Hasyim (peremuk); padahal nama aslinya adalah Amr bin Abdu Manaf.

[1] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Wa’ilah bin al-Asqa’, bab: Fadhlu nasab an-Nabi, II/254 dan at-Tirmidzi, II/201.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s