13 Detik yang Luar Biasa

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

“Kang Ryan siap.” seru seorang penguji dari atas gundakan tanah merah.

Jauh diujung sana, sekitar 50 meter, seekor kuda putih berambut pirang melangkah dengan keempat kakinya. Tepat disisi Lady -nama sang kuda cantik- Reyhan melangkqh mantap seraya menarik tali kekang hitam.

“Bismillah, sekarang giliranku.”

Lady dan Reyhan semakin dekat, kini hanya tinggal satu meter saja. “Siap pak?” tanya groomer berusia 18 tahun itu.

Saya mengangguk dan menaikkan kaki ke stirup, “Bismillahi majriha wa mursaha inna robbi laghofururrahim.” sepatu boot digerakkan sepanjang stirup dan ternyata…tanah merah tebal yang menempel menjadikan kaki tak bisa bergerak. “Han, maaf kaki saya nyangkut.”

“Baik pak.” tanpa ragu ia menyingkirkan gumpalan tanah merah yang menempel antara dasar sepatu dan stirup.

“Makasih ya Han. Jazakallah khoyr.” Saya tersenyum padanya sebelum mengalihkan pandangan ke trek lurus yang diapit polce line kuning-hitam.

“Ready?” Teriak penguji.

Jawabannya bukanlah ya atau tidak, melainkan sebuah bisikan pada Lady “siap sayang?”

Seperti biasa, Lady merespon dengan gerakan setengah melompat.

“Ladyyyy…trot!!!”

Sang kuda pirang pun berlari kecil. Semakin dekat ke garis start ia seolah tak dapat menahan nafsu untuk berlari. Tiada gunanya lagi menahannya untuk berekspresi…di hadapan para penonton dan kuda-kuda lain. “CAAAAANTEEERRR!!!” teriak saya sama bersemangatnya.

Suasana berubah secara mendadak. wajah-wajah penonton yang tadinya jelas menjadi kabur. Garis finish sudah jauh di belakang, sementara detik demi detik seolah berjalan sangat lambat. “Apakah aku berada di dimensi lain?”

“NOCKIINNNGGG!!!” Teriak entah siapa.

Teriakan itu menyadarkan saya dari impian sedetik. Segera saya ambil sebuah arrow dari balik quiver hijau-merah, memasangkannya di busur, membidik sedetik kemudiaan meluncurkannya….

Tidak ada waktu untuk melihat hasil karena 30 meter di depan sudah ada target berikutnya. Dan 30 meter di atas kuda secepat Lady artinya hanya sekitar 4 detik.

Target berikutnya semakin dekat. Saya biarkan ia terlewat beberapa meter sebelum menembakan arrow kedua. Arrow meluncur dan saya pun sudah melewati garis finish.

13 detik. Itulah waktu yang saya tempuh bersama Lady dalam ujian panahan berkuda beberapa minggu lalu.

Kini keadaan telah kembali normal. para penonoton maupun penguji berada jauh disana. Meraka tampak demikian kecil dari kejauhan.

Tanah merah yang becek nampak ironis dengan langit biru yang mulai cerah. Saya menengadah ke langit, tempat 3 pesawat jet terbang rendah beberapa saat sebelumnya.

Ternyata saya merindukan suasana tanah suci.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s