Baiyun: Busur Tatar Saya Yang Pertama

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Saya senang berlatih menggunakan barebow namun tetap ada yang mengganjal di hati. Kalimat “ini bukan yang gue lihat di China!” terus menggaum seiring anak-anak panah yang menancap di target. Merasa tak nyaman saya puj mulai browsing, keywordnya “horse bow”

Puluhan gambar busur pun muncul di layar dan semuanya mewakili busur yang saya lihat di Yiwu. “Ini dia yang gue cari.”

Persoalan berikutnya adalah seller mana yang kredibel dan berapa harga yang wajar. Karena dikusai hawa nafsu, saya pun tidak pikir panjang dan mencari gambar yang palin cantik. “Nah ini dia.” Sebuah busur tatar warna putih demikian indah dipandang. Saya pun mulai ngechat sang seller yang mengklaim tarikan busur itu bisa mencapai 40 lbs. Saya pun langsung membeli mengingat busur terakhir yang diajarkan coach H pada saya adalah hunting bow 45 lbs.

Beberapa hari pun berlalu hingga sebuah mobil pick up berhenti tepat di depan rumah. “Paket!” Sahut seorang kurir berambut keriting yang sudah saya kenal. Sebuah kardus panjang warna coklat yang dilapisi lakban berpindah dari tanggannya ke tangan saya. Bagai anak kecil yang mendapat kado ulang tahun, saya pun berlari masuk ke dalam rumah dan segera membuka bingkisan itu.

Sebilah pipa paralon yang dicat putih terbaring di dalamnya. Di tengahnya terdapat bagian handle dari kayu berlapis kulit coklat. Tepat di kedua ujungnya menempel kayu sonokeling warna coklat muda dengan sebuah lubang untuk mengikatkan tali busur. Inilah busur pertama saya; Bai Yun atau si Awan Putih. Namanya saya ambil dari bandara di propinsi Zhejiang yang kami kunjungi beberapa minggu sebelumnya.

Tak butuh waktu lama hingga saya mulai berlatih dengan Baiyun. Meski belum pernah mempelajari teknik dasar memanah horsebow namun saya senang sekali menggunakannya. Tentu saja cara yang saya gunakan keliru; karena saat itu satu-satunya cara memanah yang saya pahami hanyalah cara panahan modern.

Kekeliruan berikutnya datang dari ketidakpahaman akan bahan yang digunakan untuk membuat busur. Rasanya hampir mustahil bahan pvc yang mudah patah dapat menanggung beban tarikan sebesar 40 lbs. Kecurigaan mulai muncul karena ia begitu ringan dan jarak tembak terjauh hanya 10 atau 11 meter. Baiyun tak berumur lama. Ia pun akhirnya patah dan tak lagi dapat digunakan dengan layak. Duka dan kecewa memenuhi hati bahkan mood saya jadi turun drastis. “Dukibulin gue.”

Biar bagaimana pun panahan adalah pelipur lara di tengah redupnya karir saya. Satu musim penuh tidak bisa membimbing jamaah umroh merupakan pukulan telak bagi jiwa sementara panahan adalah satu-satunya yang dapat mengalihkan saya dari rasa pahit itu.

Awan duka memang demikian tebal namun tak berarti sinar mentari tak dapat menembusnya. Seorang kawan tiba-tiba mengontak saya, “antum main horsebow ya akh?”. Si Mas’ud ternyata melihat foto Baiyun yang saya posting di FB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s