Recurve: Pertama Kali Saya Belajar Memanah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Hal pertama yang saya kerjakan saat kembali ke Indonesia adalah browsing. Target pencarian adalah tempat memanah terdekat dengan rumah saya. Alhamdulillah pucuk dicinta ulam tiba, apa yang saya cari ternyata hanya berjarak sekitar lima kilo dari rumah.

Website itu tidak menarik baik gambar maupun menunya, hanya saja peta lokasi dan alamatnya amat jelas.

Saya memulai chat dengan kontak person yang ternyata sang coach atau pelatih utama. Setelah memperkenalkan diri saya pun bertanya kapan jadwal latihan berikutnya dan berapa biayanya. Semua saya tanyakan dalam bahasa indonesia yang jelas, baik, benar, sesuai EYD, dan tanpa secuil pun bahasa alay. Diluar dugaan si coach menjawab dengan bahasa Inggris yang fluent. “what the…” gumam saya dalam hati.

Hari yang ditentukan pun tiba. Setelah memarkir mobil saya pun melangkah di barisan konblok coklat yang dikelilingi pepohonan hijau. Di sebelah kiri nampak bangku kayu coklat yang diduduki dua orang pria paruh baya. Dua buah busur putih tersandar ke bangku plastik hijau disamping. Di sebelah mereka duduk dua orang pemuda yang sibuk membranching (memasang tali busur) sementara tumpukan anak panah warna hitam berjejer siap digunakan oleh para archer.

Di sebelah kanan tampak sebuah shooting range yang diatapi fiber dan pohon rindang; benar-benar mengusir panas dan silau cahaya. Beberapa orang archer sibuk dengan busur mereka. Ada yang membidik ada pula yang sudah menembak. “ssstttt…” bunyi arrow meluncur sebelum menancap di target seraya menghasilkan bunyi “debbb…”

Tepat di hadapan saya berdiri pria paruh baya berkulit gelap. Wajahnya menunjukkan bahwa ia keturunan Arab meski logat jawanya demikian kental. Celana jeans dan kaos biru berlogo club panahan menunjukkan bahwa ia seorang yang sporty. Nampaknya ia coach yang tempo hari chatting dengan saya.

“Coach H?” tanya saya.

“Benar. Dengan mas siapa?”

“Ryan.”

“Oh ya…yang kemarin chatting?” wajahnya sumringah seolah mendapat informasi yang penting.

Setelah berbincang sejenak, saya pun diperkenalkan pada busur dan anak panah untuk kali pertama. Sebuah panah recurve warna putih dengan berat tarikan 22 lbs/pound. Awalnya saya bingung karena busur ini tak mirip dengan yang saya lihat di China, tapi biarlah.

Setelah penjelasan tentang dasar-dasar memanah, saya langsung dibawa ke shooting range tepat di hadapan sebuah target berjarak 3 meter.

“Tangan kiri lurus…” coach H memberi aba-aba, “tarik hingga string menempel pada pipi.” “pandangan mata tertuju pada point (ujung anak panah).” “bidiiikkk…”

“Lepassss!!!!” seiring datangnya aba-aba terakhir saya pun melepaskan tali busur. Anak panah melesat ke lingkaran merah yang berbatasan dengan warna kuning yang tepat berada di tengah sasaran.

Bukan main gembiranya saya. Itulah kali pertama saya bisa menembakkan arrow meski hanya berjarak 3 meter. Coach H memberi pujian dan motivasi dan saya pun terus mencoba hingga rasa letih tak terbendung lagi.

Tak terasa kini saya telah menembak dari jarak 40 meter akan tetapi kenangan 3 meter terus hidup di hati. Mustahil dapat menembak jauh bila tak dimulai dari dekat; pasti hasilnya ngawur.

Kini saya tak lagi berguru pada coach H yang fokus pada panahan modern; sementara saya memilih fokus pada panahan tradisional. Akan tetapi ialah sosok yang mengajari saya dasar-dasar memanah. Ia ibarat guru SD yang membuka jalan pada muridnya untuk menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi. Mudah-mudahan Allah memberinya hidayah taufik. Juga keaelamatan dan keaejahteraan bagi kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s