Yiwu: Dimana semuanya bermula

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Lorong panjang seakan tak berujung, diapit dua baris toko peralatan olahraga yang menjajakan bola, kaus jersey, gawang kecil, hingga syal warna-warni. Jangan lupakan pula hiruk-pikuk bahasa mandarin yang dihasilkan entah berapa puluh bibir.

Bayangan saya masih terkenang toko pedang tadi; betapa menakjubkan pedang Cina bersarung coklat yang tadi saya tawar harganya. Meski bentuknya sama namun ia jauh lebih berat dari pedang taichi dan harus digunakan dengan dua tangan. Untung saya sudah memegang kartu namanya; bila lupa cukup lihat alamat yang tertera. Sekarang kembali window shopping.

Sekitar beberapa ratus meter dari toko pedang (jangan remehkan tiap distrik di pasar Yiwu bila tidak ingin tersasar) langkah saya pun memelan lalu berhenti. Pandangan menoleh ke kiri dan mata membelalak; mulut menganga mirip orang menemukan cinta sejatinya, “Ma sya’ Allah indah sekali…”

Sebuah rak besi menempel di sudut toko sementara beberapa busur warna coklat, hijau, hitam, serta bermotif kulit ular menggantung menunggu pembeli. Beberapa centimeter di sebelahnya berdiri beberapa quiver coklat dan hitam yang masing-masing berisi selusin anak panah bersayap putih, biru, dan merah. Baik penjaganya yang orang Cina maupun tamunya yang dari Pakistan memandang saya yang terpaku di pintu masuk.

“Ni hao…” sapa saya.

“Hao..” jawab si pemilik toko berwajah bulat sambil tersenyum.

“Assalamualaikum.” lanjut saya ke pria Pakistan bermata tajam dan janggut lebat yang mengenakan pakaian tradisional.

“Alaikum salaam.” jawabnya lembut sementara sebuah senyum tersungging di bibirnya.

Sebuah kalkulator hitam di antara mereka berdua tak menjawab kecyali menunjukkan beberapa digit angka.

Inilah yang selama ini saya cari. Panahan. Sebuah kegiatan yang telah lama saya dengar namun bolak-balik tertunda oleh beberapa alasan klise. Namun disini, di Yiwu China, saya membulatkan tekad untuk mulai berlatih panahan sepulangnya ke Indonesia in sya’ Allah.

Dan satu hal lain yang mendorong saya bersemangat untuk memanah karena adanya anjuran dari rasulullah terhadapnya, seperti yang tertera dalam hadits berikut ini:

Dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir:

سمعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، وهو على المنبرِ ، يقول وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah di atas mimbar. Tentang ayat ‘dan persiapkanlah bagi mereka al quwwah (kekuatan) yang kalian mampu‘ (QS. Al Anfal: 60) Rasulullah bersabda: ‘ketahuilah bahwa al quwwah itu adalah skill menembak (sampai 3 kali)’” (HR. Muslim 1917)https://muslim.or.id/13849-anjuran-berlatih-memanah-dan-menembak.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s