Suatu Hari Nanti

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

 

stock-photo-indian-chicken-biryani-biriyani-or-fried-rice-with-chicken-leg-or-drumstick-in-a-white-plate-506660380
https://www.shutterstock.com/image-photo/indian-chicken-biryanibiriyani-fried-rice-leg-506660380?src=4Vm6jDBoAABfRqxaUOnaNQ-1-51

Asap tipis menyeruak dari tumpukan nasi putih kecoklatan. Tepat diatasnya teronggok daging kambing coklat besar yang sangat wangi, membangkitkan selera siapapun yang memandang. Jangan lupakan irisan bawang bombay manis atau kapulaga yang memancarkan aroma khas. Empat orang pria besar mengelilingi nampan putih sementara seorang pelayan Bengali datang dengan nampan lain berisi nasi briyani plus ayam bakar.

“Ayo silakan,” Pak Uri mempersilakan para hadirin untuk menyantap hidangan baik dengan sendok atau tangan. Rasa bahagia terpancar jelas di wajah pengusaha yang siang tadi baru saja mendapat persetujuan dari sebuah instansi untuk pengembangan proyek perumahan miliknya.

“Sebentar pak!” Sela Jumali. Pemuda Madura ini dengan cekatan menghamparkan plasik putih di atas permadani hijau kemudian menuangkan isi nampan keatasnya. Briyani kambing pun siap untuk disantap.

Sambil tertawa jenaka, Pak Kusnadi mendistribusikan sambal arab yang tidak pedas namun gurih, adapun membagikan minuman menjadi bagian saya.

Betapa malam itu tak dapat saya lupakan. Bukan hanya karena nikmatnya hidangan atau suasana unik restoran di Jeddah. Gemuruh orang berbincang dalam bahasa Arab maupun Urdu, langit malam yang cerah terlihat dari jendela, atau panas tungku yang terasa meski kami duduk agak jauh dari dapur.

Beberapa jam sebelumnya Pak Uri telah ‘mengultimatum’ kami untuk tidak makan malam di restauran karena ia ingin berbagi kebahagiaan. Dan setelah sholat isya’ kami pun dipandu Jumali ke salah satu rumah makan yang menyediakan nasi briyani.

Ada kebahagiaan dan rasa sedih dalam suasana hangat itu. Saya bahagia karena dapat berbagi dengan orang-orang yang amat menyenangkan. Dan kalau boleh jujur, mungkin rombongan ini adalah yang terbaik diantara grup-grup lain yang pernah saya bimbing.

Pak Uri menjelaskan bagaimana ia tiba-tiba ditelepon instansi agar segera kembali ke tanah air untuk menandatangani perjanjian kerjasama. Pak Kusnadi menambah ramai suasana dengan lawakannya yang unik dan elegan; sangata keren untuk ukuran seorang insinyur kimia. Jumali hanya menanggapi sesekali dengan senyuman, saya yakin karena ia masih merindukan putranya yang baru lahir beberapa hari lalu.

Adapun rasa sedih muncul dari fakta bahwa besok saya akan berpisah dengan mereka. Dan memang 90% jamaah yang pernah saya bimbing begitu berharga dan terus hidup dalam kenangan. Memang ada beberapa orang curang dan arogan yang tidak layak untuk dikenang namun jumlahnya sangat sedikit.

Saya sadar ketika kembali ke tanah air nanti kami akan kembali pada kehidupan masing-masing dan belum tentu dapat berkumpul lagi. Pak Uri kembali ke proyeknya di Lampung, Pak Kusnadi kembali ke Cilegon untuk mengantar istrinya lalu terbang ke perusahaannya di Uni Emirat Arab, serta Jumali yang sesegera mungkin ingin memeluk putranya di Makkah. Adapun saya, tentu saja kembali ke Tangerang Selatan tercinta; tempat orang-orang berharga menanti.

Happy ending. Itulah harapan saya pada tiap grup yang saya bimbing. Dan akhir yang bahagia ini tak semata untuk di dunia akan tetapi juga untuk di akhirat kelak. Karena suatu hari nanti kita akan kembali. Tak peduli dimanapun kampung halaman kita, namun pada akhirnya kita semua akan kembali ke tempat yang sama yaitu akhirat. Bukankah nenek moyang kita -Adam dan Hawwa- berasal dari surga? Dan bukankah Allah telah menjanjikan bahwa tiap anak Adam akan kembali ke akhirat kemudian ditempatkan di surga atau neraka?

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Kami berfirman, “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran alas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS: Al-Baqarah: 38)

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang yang menyambut peringatannya dengan ikhlas dan itiba’ (mengikuti petunjuk rasulullah); karena siapa yang melakukannya maka Allah akan menghilangkan kesedihan terhadap dunia yang tak diperoleh serta menghilangkan ketakutan terhadap akhirat yang akan dihadapi . Semoa Allah memudahkan jalan kita menuju kampung akhirat yang dipenuhi nikmat abadi, yaitu surga-Nya.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS: Al-Baqarah: 39)

Dan semoga Allah menyelamatkan kita dari menghabiskan waktu untuk berpaling dari peringatan-Nya hingga mendapat akhir yang buruk, di dunia maupun akhirat.

 

English

 

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s