Kemenanganmu akan datang, in sya’ Allah

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

stock-photo-architecture-medieval-spain-arches-moor-alhambra-3616b993-3b7a-45f7-91f7-1946a5c40ac7
Photo by @g8torcesca

 

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS: Al-Baqarah 287)

Terbuang dan terpisahkan dari apapun yang kita cintai memang menyakitkan. Keluarga, teman-teman, karir, atau harta benda; ketika semua raib kita akan terbebani oleh berbagai kenangan yang melekat. Betapa banyak orang mengutuk nasib buruk yang menimpanya dan tak sedikit pula yang meratap tanpa henti dan memutuskan untuk mengakhiri hidup. Jujur, semua itu wajar mengingat manusia merupakan makhluk yang tergesa-gesa dan mudah mengeluh. Akan tetapi, perlu diingat bahwa Allah tak akan membebani kita dengan cobaan yang tak mampu kita emban.

Mari kembali ke tahun 132 Hijriyah (750 M) saat Daulah Umayyah ditumbangkan oleh kekuatan dari timur yang kelak dikenal sebagai Daulah Abbasiyah.

Seorang pemuda berusia 20 tahunan dikagetkan oleh tangis sang anak. Setelah ditangkan, bocah 4 tahun itu pun menceritakan apa yang ia saksikan di luar rumah. Barisan panji hitam Abbasiyah berkibar di sekeliling kediaman mereka, dan ketika sang ayah mengintip keluar maka panji-panji hitam bukan hanya berkibar di pekarangan rumah mereka melainkan di seantero desa.

Sang pemuda –Abdurrahman bin Muawiyah- segera menggandeng adiknya yang baru berusia 13 tahun kemudian lari. Istri, anak-anak dan keluarganya yang lain ia tinggalkan karena sadar pihak Abbasiyah tak akan menyakiti mereka. Yang mereka incar hanya satu, keturunan asli Daulah Umayyah, yang dianggap rival sekaligus harus dihabisi. Sejak peristiwa di desa hingga enam tahun berikutnya, Abdurrahman akan menjalani sebuah petualangan luar biasa yang nyaris menyerupai dongeng.

Di tepi sungai Eufrat kedua kakak-beradik berenang sementara para pengejar tak mampu mengikuti. Tak kurang akal, mereka pun memberikan amnesti apabila kedua kakak-beradik bersedia kembali. Sang adik tergoda namun Abdurrahman terus berusaha meyakinkannya bahwa semua itu hanya tipuan belaka. Qoddarullah sang adik memutuskan untuk menepi. Naas baginya, karena bukan amnesti yang menunggu melainkan pedang. Abdurrahman menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana sang adik dibunuh.

Lolos dari kejaran, Abdurrahman berencana untuk lari ke Kabilah Nafzah di bagian barat Afrika Utara. Bukan perkara mudah untuk bepergian dari perbatasan Syiria-Irak ke tempat keluarga ibunya berada karena dimana-mana ada pasukan Abbasiyah dan mata-mata. Dibutuhkan waktu enam tahun demi melintasi Syam, Mesir, Libya, dan Qairuan; itupun dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Begitu tiba di wilayah Kabilah Nafzah, Abdurrahman justru menghadapi bahaya lain yang datang dari orang-orang khawarij. Kelompok yang begitu mudah mengkafirkan dan menumpahkan darah sesama muslim serta memberontak pada penguasa ini dikenal amat membenci Daulah Umayyah. Mengapa? Karena sejak zaman Muawwiyah bin Abi Sufyah, daulah ini istiqomah dalam menjalankan perintah rasul untuk memerangi kaum tersebut (khawarij).

Tak mendapat tempat di Afrika Utara, Abdurrahman justru disambut hangat oleh penduduk Andalusia (sekarang Spanyol & Portugal) yang banyak dibantu oleh Daulah Umayyah. Disinilah nampak kebesaran Allah dan rasa sayang-Nya terhadap para hamba. Setelah dibebaskan dari kezaliman Visigoth, penduduk asli Andalusia pun banyak yang masuk Islam secara sukarela. Mereka bahkan berhasil masuk ke Perancis sebelum dihentikan Karel Martel dalam Pertempuran Poitiers. Sejak kekalahan itu umat islam justru sering terjebak dalam konflik internal yang menyebabkan hilangnya stabilitas dan rasa aman di seantero negeri.

Allah menakdirkan masuknya Abdurrahman ke Andalusia sebagai jalan keluar bagi kedua pihak. Bagi Abdurrahman, inilah negeri dimana dirinya dan sisa-sisa keluarga Bani Umayyah dapat hidup dengan aman. Dan bagi penduduk Andalusia, kehadiran pemimpin dari Daulah Umayyah merupakan alasan kuat untuk menertibkan negeri yang carut-marut tersebut.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Andalusia hingga wafatnya 34 tahun kemudian, Andalusia kembali menjadi kekuatan Islam di Eropa setelah tahun-tahun yang kelam. Inilah takdir yang menempel pada pria bergelar Ad-Dakhil atau “Yang Memasuki (negeri Andalusia).”

Demikianlah perjalanan hidup. Baik apa yang menimpa Abdurrahman Ad-Dakhil maupun kita semua; sedih dan senang merupakan hal yang harus kita hadapi dan terima dengan penuh kesabaran dan rasa syukur. Memaki takdir tak akan mengubah apapun, boleh jadi justru akan menghadirkan murka Allah. Alangkah baiknya bila kita justru menundukkan diri di hadapan Allah dan mengemis pertolongan-Nya. Karena hanya Ia-lah tempat berlindung dan hanya Ia yang mampu mengabulkan permintaan para hamba.

English

2 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    Terharu… bacanya. Terima kasih, 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s