Asyiknya Mempelajari Hal Baru

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Dari luar toko menyeruak seorang pria besar berkulit coklat. Baju kotak-kotak yang ia kenakan menjadi pemandangan baru selain barisan koper dan tas di seluruh sudut toko.

Pria besar itu tersenyum kemudian mengucap salam. Barangkali karena melihat pakaian yang saya kenakan ia pun langsung menyapa dengan bahasa Arab. Saya pun merasa senang berjumpa seorang arab di negeri yang jauh lalu bercakap dengan bahasa yang saya anggap bahasa ibu tiri (bahasa ibu kandung sudah tentu Bahasa Indonesia).

Puas beramah-tamah, si Arab menyentuh sebuah koper alumunium warna abu-abu kemudian menanyakan harganya pada gadis penjaga toko.

Beberapa detik kemudian hati saya berkecamuk akibat perang hebat antara cemburu dan kagum. Si Arab berkomunikasi menggunakan bahasa Mandarin yang fasih. Adapun saya yang memiliki darah Cina justru tak paham sama sekali.

Sepanjang jalan pulang menuju hotel saya dihantui peristiwa tadi; betapa saya amat termotivasi untuk bisa berbahasa Mandarin. Bukan hanya untuk keperluan bisnis tapi juga dalan upaya memperkenalkan arti tauhid. Pengalaman saya dengan orang-orang Latin mengajarkan bahwa akan selalu ada manusia yang ingin mengetahui tentang Islam, Allah, rasulullah, al-qur’an, dan bermacam hal yang berkaitan dengan satu-satunya dien yang diridhoi Allah ini.

Alhamdulillah proses belajar saya dimudahkan oleh Allah. Pertama ada Om Hasan yang mendorong untuk berani memcoba walau salah. Yang kedua ada Suhu Samian yang berpesan, “Kalo sampeyan serius mau belajar coba buka situs #$%*ch÷×!&*.”

Alhamdulillah berkat dorongan mereka saya menjadi pede dan mulai paham. Lebih daripada itu, saya pun mulai meninggalkan bahasa “hah hoh” yaitu sebuah lingua franca (campuran bahasa yang dipahami oleh orang-orang dari beragam negara) yang primitif namun efektif.

Begini cara kerjanya. Misal anda ingin membeli sepatu, maka tunjuklah dengan “hah”

Setelah itu penjaga toko pun mulai menangkap maksud anda “ce ke? yang ini?”

Anda respon lagi untuk membenarkan “hoh.” Kemudian tunjuk kalkulator sambil “hah.”

Penjaga toko akan menangkap maksud anda lalu mengetik harga barang yang anda minta, “she yuen” misalnya.

Bila tidak setuju dan hendak menawar, anda gelengkan kepala sambil berkata, “hoh.” diikuti mengetik harga yang diinginkan “hah.”

Percaya atau tidak, melalui bahasa hah hoh ini kita bisa deal.

Setelah dua hari melalui negosiasi alot, tukang busur yang nyaris tak paham bahasa inggris itu mencapai mufakat dengan saya. “yipai.”

Begitu saya menyodorkan uang barulah kami menyadari miskomunikasi.

Maksud saya adalah bolehkah harganya menjadi 100 yuan per buah; adapun yang ia tangkap adalah saya ingin langsung beli 100 buah.

Kami sama-sama tertawa dan tak lama kemudian toko-toko mulai mematikan lampu dan menutup pintu. Sudah jam 5 sore rupanya.

Setelah sampai Indonesia saya masih mengontak tukang busur tadi; sambil mengirim foto.

“kamu masih ingat saya?”

“masih.” jawabnya.

Seorang pemula memang sering melakukan kesalahan, akan tetapi keberanian untuk mencoba akan membawa manfaat bagi kelanjutan proses belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s