Pengalaman Indah di Negeri China

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

20180413_135755.jpg

Barisan kapal raksasa nampak dari jendela; dilanjutkan susunan peti kemas warna merah, hijau, atau biru. Saya pun membayangkan muslim pertama yang tiba di sebuah negeri asing yang belum mengenal ajaran tauhid, yakni dienul islam.

Betapa mereka tiba bersama angin musim. Mereka berniaga dan tinggal beberapa lama di tengah kaum yang masih belum mengenal Allah.

Kekhasan tingkah laku mereka yang unik, karena dibangun di atas sunnah rasul menjadikan orang-orang setempat menjadi penasaran dan memperhatikan.

Cara dagang mereka, cara beribadah mereka, cara mereka bermuamalah, serta keluhuran akhlak yang mereka bawa.

Tak heran bila perlahan terjalin interaksi dan diskusi. Agama apa ini? Dan para da’i atau mereka yang terpelajar secara agma pun siap untuk menjelaskan. Inilah dakwah, menjelaskan dengan burhan namun tanpa paksaan. Silakan anda renungkan; dan Allah satu-satunya Pemberi hidayah. Banyak yang kemudian masuk islam.

Berada di tempat yang amat jauh dari rumah membuat saya sadar betapa besarnya jasa orang-orang yang mendakwahkan kemurnian tauhid baik pada mereka yang belum masuk islam maupun sudah.

Prakteknya, kadang kita menjumpai diantara orang-orang ini yang mengajak berdiskusi, ada saja rasa penasaran mereka. Tentang siapa tuhan kita atau kenapa kita harus sholat? Tentu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lebih dari dua itu.

Dalam kunjungan ke beberapa negara non-muslim (semoga Allah memberi penduduknya dan kita hidayah taufiq) diskusi macam ini menjadi hal biasa, bahkan saya pernah dipanggil kepala keamanan bandara hanya untuk menjelaskan seperti apa itu islam dan seperti apa ibadah di Makkah. Saya berharap kini si komandan telah menjadi seorang muslim (Allahumma aamiyn).

Semoga Allah merahmati para da’i yang tak lelah mendakwahkan kemurnian tauhid; Entah di Nusantara, Cina, Thailand, Philipina, Bulgaria, Italia, dan negara manapun.

Kereta berhenti di Stasiun Guangzhou. Kami turun dengan sambutan hujan musim semi yang menusuk.

Hujan boleh saja membasahi tubuh namun hati ini terasa bahagia. Bukan sekedar karena kehadiran penjual payung namun juga karena Islam hidup di negara yang kami kunjungi.

English

Latin

中文

3 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s