Bangkok: Pasar Chathucak

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

لَا إِلٰهَ إِلَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَ يُمِيتُ وَ هُوَ حَيٌّ لَا يَمُتُ، بِيَدِهِ الْكِيْرُ وَ هُوَ عَلٰى كُلِّى شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Laa ilaaha illa Allahu wahdahu laa syarika lahu, lahu al-mulku, wa lahu al-hamdu, yuhyi wa yumit, wa Huwa hayyun laa yamutu. Biyadi-Hi al-khoyr, wa Huwa ala kulli syai’in qodir.”

“Tidak ada Illah (sesembahan dan pembuat syariat) yang layak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dialah Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”[1]

Kami memulai petualangan di salah satu icon kota Bangkok ini dengan membaca doa masuk pasar yang dicontohkan oleh rasulullah. Selain untuk mengikuti petunjuk beliau, juga sebagai saranan memohon perlindungan Allah dari hal-hal negatif yang biasa ada di pasar. Berdusta, memanipulasi, bicara yang tak pantas, hingga melalaikan sholat merupakan beberapa efek negatif dari pasar; namun ini bukan berarti pergi ke pasar merupakan suatu hal yang haram. Sama sekali bukan! Berkunjung atau berdagang di pasar merupakan hal yang dibolehkan dalam Islam, namun setiap muslim harus mengerti adab-adab yang berkaitan dengan pasar, minimal doa masuk pasar.

Kami masuk melalui salah satu gerbang yang tak lebih dari gang sempit dihadapan trotoar abu-abu. Supir tuktuk dan pedagang asongan melirik para tamu yang baru tiba di pasar yang hanya buka di Jumat, Sabtu, dan Ahad tersebut. Kami pun memasuki jalan sempit itu.

Masya Allah, bagaikan sebuah labirin besar, penampilan gerbang sempit tadi bagai sebuah ilusi. Ternyata dibaliknya terdapat deretan kios berjejer rapat yang menjual berbagai macam produk. Apa yang anda cari untuk hadiah? Pernak-pernik? Kaos? Celana? Sutra Thailand? Teh Thailand? Sarung tinju? Mainan? Daster? Dupa? Jajanan? Untuk mendapatkan itu semua, seseorang harus menyusuri gang demi gang yang dikerumuni manusia. Uniknya lagi, semakin kita ke dalam semakin pula kita terhipnotis oleh banyaknya barang bagus yang bisa dibeli.

Langkah membawa kami ke ujung lain pasar. Apakah petualangan berakhir? Tentu tidak, karena persis di hadapan kami ada bangunan pasar lain yang siap dijelajahi. Hanya saja untuk masuk kesana kami harus melewati seorang tukang es kelapa yang memandang aspal kelabu dengan wajah muram. Di tangan kanannya sebuah kelapa segar menanti siapapun yang haus; di tangan kirinya sebuah parang warna hitam seolah mengintimidasi. Entah karena haus atau terintimidasi, saya pun rela mengeluarkan 30 Baht untuk menyeruput manisnya kelapa yang didinginkan balok-balok es warna putih.

Semakin dalam kami masuk ke dalam pasar semakin banyak pula pilihan hingga kelompok pun harus dipecah. Istri saya sibuk memborong daster khas Thailand sementara ibu saya menyelesaikan transaksi dengan penjual teh. Anak saya duduk manis memperhatikan turis-turis yang berlalu di depan toko sambil menyeruput teh dingin yang diberikan oleh si pemilik toko.

catucak7.jpg

Kini saya menyusuri lorong seorang diri. Mencari produk apa yang layak untuk dipasarkan di Indonesia. Setelah beberapa menit menengok kesana kemari, langkah saya pun terhenti di depan sebuah toko. Bagaikan menemukan cinta yang telah lama hilang, kebahagiaan pun memenuhi jiwa ini. Seorang pria bule baru saja menyelesaikan transaksi beberapa puluh Baht untuk sebuah belati kecil. Kini giliran saya.

“Swaadi kaab.” Sapa saya pada si kakek yang menjawab ramah, “kaab.”

Tanpa basa-basi saya segera menunjuk sebuah krabi atau pedang Thailand bersarung merah. Mulanya saya bertanya dalam bahasa Inggris namun si kakek tak mengerti. Rupanya ia tak bisa bahasa Inggris. Lalu saya pun menggunakan bahasa Melayu dan hasilnya sama saja. “perlukah saya menggunakan bahasa Arab?” batin saya, namun saya urungkan ide tersebut karena hampir tidak ada manfaatnya. Beruntung disana ada kalkulator yang menjadi penerjemah kami. Menggunakan Lingua Franca (bahasa asing seadanya yang bisa dimengerti siapapun juga) dan angka-angka, kami pun mencapai kesepakatan untuk pedang itu. Kini tinggal berpikir soal bagaimana cara mengirimnya ke Indonesia.

Betapa kecewanya saya karena pihak kargo tidak dapat mengirim senjata. Saya pun harus puas dengan beberapa celana selutut untuk latihan. Alhamdulillah, rasa kecewa tadi dapat terobati dengan terhidangnya nasi briyani plus ayam goreng khas Saman Islam; rumah makan halal di Pasar Cathuchak.

English

Latin

 

[1] HR. Al-Hakim II/100, hadits shahih. Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya. Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no.524 dan lain-lain dari Sahabat Shuhaib. Menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar: “hadits tersebut adalah hasan.” Syaikh Bin Baz berkata: “Hadits itu diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan sanad yang hasan.” Lihat Tuhfatul Akhyaar hal. 37. Lihat Shahiih al-Kalimith Thayyib no. 179, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihaah no. 2759, dan Shahiih al-Adzkaar no. 617/450, shahih. Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 114. Bogor: Pustaka mam Asy-Syafi’i, 2005.

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s