Damnoen Saduak: Pasar Apung

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

اَللهُ أَكْبَرُ (٣){سُبْحٰنَ الَّذِى سَخَرَ لَنَا هٰذَا وَ مَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَ إنّٰا إلٰى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} اَللَّهُمَّ إِنَّ نَّاسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هٰذَا الْبِرَّ وَ التَقْوَى، وَ مِنَ العَمَلِ مَا تَرضَى، اَللّٰهُمَّ هَوَّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هٰذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي الَاَهلِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَ كَاٰبَةِ المَنْظَرِ وَ سُوْءِ المُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِdamnoen8.jpg

                “Allah Akbar (3x) subhanna ladzi sakhoro lana hadza, wa ma kunna lahu mukriniyn. Wa inna ila robbina lamunqolibuwn. Allahumma inna nasalaku fi safarina hadza al birro wa taqwa, wa min amali ma tardho. Allahumma hawwin alayna safaarina hadza wathwi anna bu’dah. Allahumma anta shohibati fi safar wa kholifatu fil ahli. Allahumma inni audzubika min ma’sai safar, wa kaabati al-mandhor, wa su’i munqolabi fi al-mali wa al-ahli.”

“Allah Maha Besar (3x) Mahasuci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali pada Rabb kami (di hari kiamat nanti). Ya Allah sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini. Kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah permudahlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah Engkaulah pendampingku dalam perjalanan ini dan yang mengurus keluargaku. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga.”

Setelah dua jam meluncur di jalan yang lengang, melewati provinsi Samut Sakhon dan Samut Songkhram yang dihuni banyak orang Myanmar, sekitar 100 kilometer selatan Bangkok; taxi kuning-hijau yang dikemudikan Suwit pun berhenti di lapangan parkir beralas pasir putih.

Selain taxi kami, banyak pula taxi-taxi lain baik yang sewarna, atau merah, atau pink, berbaris di lapangan parkir; sementara para pengemudinya duduk santai mengelilingi meja-meja bundar di bawah atap asbes. Selamat datang di Pasar Apung Damnoen Saduak.

Sebelum memilih paket-paket wisata yang tersedia (hanya berpesiar di sungai atau mengunjungi desa gajah dan kera) para petugas mempersilakan kami untuk ke toilet atau membeli air minum terlebih dahulu; setelah itu berlanjut ke meja kasir yang dijaga seorang pria paruh baya berbaju putih. Ia menawarkan beberapa paket dengan harga yang berbeda; beda harga beda pula warna karcisnya. Kami pun memutuskan untuk memilih paket pesiar selama dua jam dengan pasar besar, pabrik gula tradisional, serta rumah makan muslim sebagai beberapa destinasinya.

Selesai membayar kami pun menuju dermaga yang memisahkan daratan dengan kanal selebar lima meter yang dipenuhi kapal-kapal langsing bertenaga mesin. “ngot, ngot, ngot,” deru mesin solar yang membatukkan asap tipis warna hitam.

Setelah rombongan turis bule di depan kami mendapat perahu, maka giliran kami pun tiba. Sebuah kapal coklat beratap hijau datang sementara pemuda bertato berdiri di bagian paling belakang untuk mengengatur jalannya perahu.  Cui namanya, seorang pemuda Thai yang meski tangannya dipenuhi tato namun wajah dan sifatnya ramah.

Setelah semua penumpang duduk dengan benar (tidak boleh miring atau mengeluarkan tangan dari perahu karena bisa tertabrak perahu lain) perahu kami pun mulai menyusuri kanal sempit yang dibatasi tembok beton di kiri-kanan. Diatas tembok-tembok tadi berdiri banyak sekali pohon kelapa yang melindungi kami dari terik matahari. Kapal lain melintas di hadapan kami menghasilkan ombak di aliran air warna coklat. Sementara para tukang perahu mengucapkan salam dengan membunyikan mesin, “ngot, ngot,” para turis di dalamnya saling tersenyum dan melambaikan tangan.

Beberapa meter di depan tampak sebuah perahu yang diikat ke dermaga. Sementara ia terayun-ayun, dua orang pria sibuk menawarkan kelapa muda dengan es. 30 Baht, demikian tulisan di papan coklat yang tersandar di dermaga.

Setelah agak jauh kami pun memasuki sebuah perkampungan yang didominasi toko-toko kayu warna coklat. Tiap toko menawarkan berbagai suvenir seperti baju, tas, patung, hiasan, tuk-tuk, hingga sutra khas Thailand. Para penjaga toko yang hampis semuanya wanita (hampir semua pria menjadi tukang perahu) melambai dan memanggil, “swadi kaab, welcome sir, welcome madam.” Kami pun memutuskan untuk mampir di beberapa toko, dimana salah satunya milik ibunya Cui.

Puas melihat dan menawar kami pun melanjutkan perjalanan ke pabrik gula yang menawarkan gula aren yang mirip gula Jawa. Seorang pemuda tengah mengaduk cairan coklat dengan sendok raksasa bergagang kayu. Begitu turis datang ia pun mulai menari dan menyanyi; semakin ramai semakin menjadi pula tingkahnya.

Selain gula, disana juga terdapat kebun kelapa yang dialiri kanal-kanal kecil warna hijau. Beberapa turis menyeberangi jembatan kayu kecil sekedar untuk berfoto.

Kami kembali menyusuri sungai dan hari semakin siang. Cui pun membawa kami ke sebuah restoran halal yang dimiliki muslim Thai. Begitu kami tiba, mereka segera mengucapkan “Assalamualaikum” lalu menambatkan perahu kami di tepi sungai. Mereka menyambut kami dengan ramah hingga lupa bahwa ini bukan Indonesia. Kehangatan yang dibangun diatas islam inilah yang menjadikan kehidupan indah.

Kami memesan beberapa nasi goreng seafood yang luar biasa lezat. Senang sekali rasanya melihat mereka memasak, apalagi selain enak penyajiannya pun unik. Udang goreng yang gemuk-gemuk serta potongan cumi-cumi warna ungu diletakkan diatas daun pisang hijau yang nampaknya baru saja dipetik. Jangan tanyakan wanginya, apalagi rasanya. Pokoknya lezat.

Perjalanan pun berlanjut ke Pasar Besar yang menjual berbagai macam souvenir dan makanan; bedanya disini kita bisa turun dan menyusuri lorong-lorong pasar. Setelah puas kami pun kembali ke atas perahu.

Tak terasa kami telah berlayar selama satu jam lebih. Cui bertanya apakah kami ingin melihat tempat lain atau kembali ke dermaga. Kami pun memutuskan untuk kembali dan Cui menyalakan mesin perahunya.

Kembali ke darat, Suwit menyambut kami dengan wajah puas seolah ia sendiri yang pesiar. Mengenakan peci putih hadiah dari turis Indonesia; ia menanyakan kesan-kesan selama kami pesiar.

“Alhamdulillah kami senang sekali.”

Kami pun menuju mushola untuk menunaikan sholat jamak-qasar taqdim; namun belum sempat memasukinya, seorang wanita Thai menahan kami. Ia buru-buru masuk kemudian menyapu mushola kecil berpagar kayu itu, membersihkan lantai coklatnya lalu menghamparkan sajadah. Setelah itu baru kami dipersilakan masuk.

“kapun kaah / terima kasih (untuk wanita).”

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s