Bangkok: Perjalanan Pendekar

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَ أَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيْم، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَ لاَ أَقْدِرُ، وَ تَعْلَمُ وَ لاَ أَعْلَمُ، وَ أَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هٰذَا لأمْر خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِي وَ مَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (أَوْ قَالَ: عَاجِلِهِ وَ اٰجِلِهِ) فَقْدُرْهُ لِي وَ يَسِّرْ هُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَ الأَمْرَ شَرُّ لِي فِي دِيْنِي وَ مَعَاشِي وَعاقِبَةِ أَمْرِي (أَوْ قَالَ: عَاجِلِهِ وَ اٰجِلِهِ) فَصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَقْدُرْلِيَ الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ

“Alahumma inniy astakhiruka biilmika wa astaqdiruka biqudrotika wa asaluka min fadhlika al-adhim. Fainnaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta allamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadza al-amro (sebutkan masalah atau pilihan yang anda hadapi) khoyru liy fi diyni wa maasiy wa aqibati amriy (or say: aajilihi wa aajilihi) faqdurhuliy wa yassirhuliy tsumma baarikliy fiyhi. Wa in kunta ta’lamu anna hadza al-amro syarru liy fi diyni wa maasiy wa aqibati amriy (or say: aajilihi wa aajilihi) fashrifhu anniy washrifni anhu. Waqdurliy al-khoyr haysu kaana tsumma ardhini bihi.”

 “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Dan aku memohon kekuatan kepada-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan ke-Mahakuasaan-Mu. Aku memohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang Maha agung. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa sedang aku tidak kuasa. Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetehui; dan Engkaulah yang Maha mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (sebutkan persoalan atau pilihan yang anda hadapi) lebih baik dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatknya kepada diriku –atau Nabi bersabda ‘di dunia atau akhirat’- takdirkanlah (tetapkanlah) untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berikanlah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini membawa keburukan bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya kepada diriku, -atau Nabi bersabda ‘di dunia atau akhirat’ maka singkirkanlah persoalan tersebut dan jauhkanlah aku dari padanya. Takdirkan (tetapkanlah) kebaikan untukk dimana saja kebaikan itu berada kemudian berikanlah keridhaan-Mu kepadaku.”[1]

 Kami tiba di alamat yang tertera pada aplikasi peta namun bukannya bahagia justru kesedihan yang memenuhi hati saya. Setelah berkali-kali bertanya, supir taksi yang enggan masuk ke daerah tersebut, serta tidak adanya pesan balasan dari sasana yang kami tuju; kini kami harus menghadapi kenyataan bahwa alamat dan lokasi tidak sesuai. Satu-satunya hiburan adalah keheranan pada warga lokal di daerah bronx yang kami susuri. Mungkin dalam hati mereka bertanya-tanya, “kok ada turis jenggotan dan berjilbab panjang keluyuran di daerah ini?”

Kecewa sudah pasti, namun disisi lain saya pun menyadari bahwa boleh jadi ini merupakan jawaban dari Allah atas doa yang saya panjatkan (saya meminta untuk dipilihkan satu dari dua khru/guru terkemuka) untuk mempelajari Muay Boran atau Tinju Tua khas Siam. Beda halnya dengan Muay Thai yang menggunakan delapan senjata (dua tinju, dua sikut, dua dengkul, dan dua kaki), mengenakan sarung tinju, serta disesuaikan dengan peraturan tinju modern; Muay Boran mencakup tamparan, bantingan, serta kuncian. Selain itu Muay Boran menggunakan sarung tinju dari tali tambang yang dililitkan ke tangan.

Sepanjang perjalanan pulang, ibu terus menghibur saya. Beliau bukan ha

muay boran
http://mastermindmuaythai.com/muay-thasao-one-of-four-major-muay-boran-styles-which-forged-the-muay-thai-we-know-today-part-1-of-4/

nya bertanggung jawab memperkenalkan dunia haji-umrah pada saya namun juga kesenangan terhadap bela diri. Pada usia 3 tahun beliau mengajak saya

ke bioskop untuk menonton film Bloodsport yang dibintangi Van Damme. Perjalanan kami mirip Frank Dux dalam film tersebut, menyusuri daerah yang terkesan kumuh dan rawan serta didominasi jalan-jalan kecil. Bedanya kami tidak bertemu seorang kakek yang berkata, “Okay USA.”

Keesokan harinya

Pagi-pagi benar saya mendapat jawaban dari sasana yang dimaksud namun hati ini sudah tak tertarik lagi. Betapa tidak, jawaban baru datang setelah enam hari; tepat ketika saya harus check-out hotel dan kembali ke Indonesia. Akhirnya kami pun memutuskan untuk jalan-jalan ke Mall Siam Paragon untuk menunggu waktu penerbangan. Pulang dari sana kami menyetop sebuah taxi.

Pintu dibuka dan seorang supir luar biasa besar dan kekar menyambut kami. Mengenakan jaket hoody warna biru, celana jeans selutut, topi kupluk dan kacamata hitam, serta menggendong tablet; ia lebih mirip rapper dibanding supir taxi. Untungnya ia amat ramah.

Dalam perjalanan menuju bandara kami mengrobrol banyak hal; mulai dari berapa lama di Bangkok hingga kesan-pesan terhadap negeri Thailand. Di tengah-tengah obrolan saya pun menyelipkan sebuah penyesalan soal gagalnya belajar Muay Boran. Mos, nama supir itu memandang serius pada saya lalu berkata, “Saya seorang petinju!”

“Oh ya?” entah mengapa saya segera diliputi kebahagiaan. Tema obrolan pun berubah menjadi Muay Boran.

“Dalam Muay Boran ada gaya selatan, utara, timur, dan barat. Semuanya berbeda.” Jelas Mos.

“Anda yang mana?”

“Selatan.” Jawabnya.

“Kenapa anda ingin mempelajari Muay Boran?”

“Karena menonton film Samurai Ayothaya.” Jawab saya.

Mos bingung, meski menatap dari balik kaca mata hitam namun mulutnya menampakkan rasa heran. Saya pun segera meralat, “Maksud saya, bela diri yang saya pelajari mirip dengan Muay Boran; hanya saja kami lebih banyak menggunakan tamparan dibanding tinju.”

“Oh.” Mos mengganguk paham.

“Selain itu kami lebih banyak menggunakan sikut untuk menangkis sedangkan kalian banyak menggunakannya untuk menyerang. Itu yang hendak saya pelajari.”

“Sikut.” Mos kembali mengangguk.

Taxi berhenti karena lampu merah. Mos segera memanfaatkan momen itu untuk mengajari saya beberapa jurus. Ia menyikut kemana-kemari dengan kecepatan tinggi namun baik badan, kaki, maupun sikutnya tak ada yang membentur kaca, setir, atau dashboard. Tampaknya ia memang seorang petarung berpengalaman.

“Keluarga kami telah 30 tahun berkecimpung dalam Muay Boran. Ayahku petarung dan kakekku petarung. Kami telah melatih petarung dari Jepang, Amerika, Phililpina, dan Malaysia. Tapi Indonesia belum.” Kata Mos bangga.

“Kalau begitu saya yang akan jadi murid dari Indonesia, In sya’ Allah.”

Kelak bila kembali ke Bangkok saya akan berlatih ditempatnya. Barangkali ini jalan yang Allah pilih untuk saya. Apa yang Allah pilihkan untuk kita setelah sholat sunnah istiqoroh (dua rakaat) merupakan pilihan yang terbaik dan tak akan disesali.

English

Latin

 

[1] HR. Al-Bukhari no. 1162, 6382, dan 7390

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s