Jakarta: Perjumpaan & Perpisahan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

lounge.jpeg

Hati saya berbunga-bunga ketika pesawat mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Betapa tidak, setelah menempuh perjalanan empat jam menuju Istanbul, menunggu waktu transfer kurang lebih empat jam pula, lalu kemudian terbang ke Jakarta selama 12 jam; rasanya tubuh ini remuk. Memang selama perjalanan itu saya sempat beberapa kali tidur namun tetap saja letihnya luar biasa. Sepengalaman saya letih ini tidak dapat diobati hanya dengan istirahat dan makan saja; dibutuhkan lebih dari itu. Dibutuhkan perjumpaan dengan orang tua, istri, dan anak tercinta untuk mengobatinya.

Kami turun dari pesawat dan menyusuri boarding room yang sama dengan keberangkatan. Terlintas di benak saya gambaran Pak Rudi yang panik karena tas jinjingnya tertinggal di salah satu kursi. Ia tidak diizinkan keluar lagi dari pesawat hingga saya yang baru hendak masuk segera balik arah. Alhamdulillah tas coklat berisi uang dan handphone itu masih ada. Ketika menuruni eskalator menuju konter check in saya pun teringat rombongan kami tengah mengantre di beberapa konter. Beberapa orang menanyakan banyak hal mulai dari teknis seperti apa nama hotel di Istanbul hingga bagaimana hukumnya seorang wanita yang tiba di Makkah namun masih dalam keadaan menstruasi. Kembali menapakkan kaki di bumi pertiwi pertanda semakin dekatnya kita dengan keluarga tercinta; namun di sisi lain ia pun menjadi tanda akan berpisahnya rombongan berisi orang-orang yang menyenangkan ini. Sekitar satu jam lagi kami pun akan kembali kepada kehidupan masing-masing dan belum tentu dapat berkumpul lagi.

Selesai pemeriksaan paspor kami pun menuju konveyor untuk mengambil barang-barang kami. Alhamdulillah para jamaah mematuhi instruksi yang saya sampaikan di Jeddah. “Setibanya di conveyor segera ambil troli, baru menunggu datangnya koper.” Saya juga menginstruksikan para jamaah untuk mengambil koper miliknya atau milik keluarganya saja, tidak perlu mengurusi milik orang lain. Bukan mengajarkan untuk bersikap individualistis, namun secara psikologis kondisi para jamaah di conveyor ini sudah berubah. Mereka telah dihinggapi rasa rindu keluarga dan ingin cepat-cepat tiba di rumah. Mereka menjadi demikian sensitif dan seolah lupa telah menghabiskan waktu bersama-sama di Tanah Suci.

Para jamaah pun telah memperoleh troli masing-masing. Instruksi selanjutnya adalah salah seorang anggota keluarga berdiri di samping conveyor dan mengumpulkan koper-koper miliknya dan keluarga sementara salah seorang anggota keluarganya mengawasi troli. Kadang ada orang yang menyangka troli kita tidak ada pemiliknya kemudian dibawa pergi.

Selesai mengumpulkan barang troli pun dibawa ke tempat yang jauh dari conveyor dan keramaian, lalu perwakilan keluarga menemui saya dan Taufiq yang bertugas mengumpulkan dus-dus zamzam. Tempat favorit kami adalah dekat pintu masuk konveyor. Saya rutin menginstruksikan jamaah untuk tidak berebutan ketika mengambil zamzam, sabar dan tidak usah mencontoh grup lain yang kadang-kadang rusuh. “Malu dong bu, pak, kita kan baru pulang ibadah. Masa mengambil zamzam harus rebutan dan marah-marah?

Alhamdulillah mereka mematuhi saran saya. Pertama datang Bu Yuyun membawa delapan buah paspor yang mewakili jumlah rombongannya. Paspor-paspor itu kemudian dicoret bagian belakangnya oleh Mas Taufiq lalu kami memberi dus putih berisi 5 liter zamzam sejumlah paspor yang diberikan. Setelah itu datang Pak Anwar dan Bu Ani, Pak Bakri dan Bu Rosa, Bu Erni dan Nek Ema, dan terakhir Dokter Keiko dan empat orang anggota keluarganya. Alhamdulillah tanpa ribut-ribut dan tanpa waktu lama pembagian zamzam pun selesai. Kami semua berpamitan dan pulang ke tempat tinggal masing-masing.

Jadi teringat ketika kami tengah menikmati santap malam sambil bertelekan pada sofa empuk. Para jamaah saya, 19 orang yang terdiri dari 5 keluarga juga tengah menyantap makan malam di meja-meja kecil yang terpisah. Sebagian dari mereka memanfaatkan sisa waktu sebelum boarding untuk massage. Semuanya masih terbagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang hanya saling mengintip dan menunggu respon pihak seberang.

Kita boarding jam 8 kurang 15 ya.” Kata Taufiq.

Oke. Tapi ana makan dulu ya. Lapar nih.” Jawab saya sambil melirik meja buffet berisi sayuran hijau, sosis goreng, serta panci sup. Ketika tak dapat memutuskan mana dulu yang diambil, tangan saya sudah menyambar sebotol cola dingin.

Selesai dengan cola dan kawan-kawannya, saya pun berdiri ke tengah ruangan untuk memberi pengarahan. Suatu hal penting yang dapat mempengaruhi kelanjutan perjalanan hingga pulang kembali ke tanah air.

Bapak ibu yang saya hormati, sambil makan kita adakan pengarahan sebentar ya.”

Bapak-bapak yang tengah memelototi televisi menoleh, demikian pula pasangan suami istri yang tengah meyeruput kopi atau teh. Tiga orang yang tengah bersandar malas di bangku massage mendadak menegakkan tubuh bagai tentara. Sebuah lingkaran kecil pun terbentuk di sekeliling saya. Tepat di sudut mata, tiga orang kawan saya memasang wajah setengah hormat setengah cekikikan.

Bapak ibu sekalian.” Kata saya seraya menoleh ke segenap jamaah yang tampak telah siap menerima pengarahan. “Kita akan berangkat ke tempat yang jauh. Letih dan jauh dari keluarga. Tentunya dalam perjalanan panjang ini kita akan mengalami keletihan atau suntuk. Hal-hal yang belum tentu sesuai keinginan kita. Namun jangan jadikan semua itu sebagai alasan untuk berbuat tidak baik kepada rekan-rekan seperjalanan.

Jamaah dan tukang pijit, para pelayan, dan kawan-kawan saya kini menyimak dengan wajah serius.

Sebaliknya, kita jadikan perjalanan ini sebagai sarana untuk memohon pertolongan Allah dan meminta apa yang menjadi keinginan kita. Bukankah safar merupakan salah satu waktu diijabahnya doa?

Lounge menjadi hening. Semua suara hilang seluruhnya kecuali desingan pesawat di luar jendela.

Kita bisa bepergian tiap hari namun tidak akan pernah ada kepergian yang sama. Tiap kepergiaan memiliki kisahnya masing-masing dan tak akan terulang. Maka mari jadikan kepergian kita ini kepergiaan yang diberkahi oleh Allah.” Saya diam sejenak kemudian melanjutkan, “Bukankah bapak-ibu pergi untuk beribadah pada Allah?

Sebagian mengangguk dan sebagian menjawab, “Betul.

Maka ingat dua hal yang akan menjadikan ibadah kita diterima di sisi Allah. Bahkan dua hal ini juga kunci diselamatkannya kita di dunia maupun akhirat. Keduanya adalah ikhlas karena Allah dan itiba’ atau mencontoh tata-cara ibadah yang diajarkan oleh rasulullah.” Jeda sejenak saya pun melanjutkan, “Ingat pula dua hal yang dapat menghancurkan ibadah maupun kehidupan kita. Ia adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Keduanya adalah kesombongan. Bukankah iblis diusir dari surga karena sombong? Maka jauhilah dua hal ini.

Jamaah tampak semakin antusias.

Semoga Allah memberkahi keberangkatan kita dan menerima amal ibadah kita. Juga menyelamatkan kita di dunia maupun akhirat.

Aaamiiinnnn.” Jawab para hadirin serempak.

Terakhir bapak ibu sekalian. Saya ingin membagikan kopian dari buku karangan saya. Kopian ini berisi sejarah singkat penaklukan Konstantinopel atau Istanbul. Karena disini ada lima keluarga maka masing-masing saya berikan satu kopian ya.

Seorang bapak berambut putih, seorang pria tua jangkung, seorang ibu muda bermata sipit, seorang bapak dengan aura kewibawaan, dan seorang ibu muda yang tampak sekali glamornya masing-masing mendekat dan menerima kopian buku saya.

Baik bapak ibu sekalian, mari kita menuju boarding room. Silakan mengikuti Mas Taufiq ya.

Kembali pada kenyataan.

Pak Ryan, tolong doakan anakku ya, bulan depan ia mau melanjutkan studi di Australia.” Kata Bu Anis. Yang ia maksud anaknya adalah Dokter Keiko.

Iya bu, semoga Allah berikan yang terbaik untuk agama, dunia, dan akhirat.

Bu Anis tersenyum dan berbalik. Namun baru satu langkah ia pun kembali menghadap saya, “Tiga tahun lagi aku berangkat haji dengan travel ini. Semoga Pak Ryan yang bimbing.” Ia tersenyum ramah.

Allahuma aamiyn. Iya bu, in sya Allah. Mohon doanya agar kita bisa bertemu lagi ketika haji ya bu.

                Bu Anis dan keluarganya pun pergi, dan merekalah rombongan terakhir yang meninggalkan saya dan Taufiq.

Kami berdua berjalan keluar seraya mendorong troli berisi koper saya dan beberapa botol zamzam. Setelah meleawati pintu, Taufiq pun meminta izin untuk kembali ke kantor. Saya selipkan selembar US Dollar sebagai bentuk terima kasih. Ia pun tersenyum dan pergi.

Kini saya seorang diri. Mendorong troli menuju musholla untuk melaksanakan sholat maghrib dan isya’ sebelum pulang. Semoga Allah menerima amal ibadah kami. Semoga Allah memudahkan para pembaca yang ingin mengunjungi dua kota suci atau kembali kesana. Dan semoga Allah memberikan manfaat melalui karya tulis sederhana ini. Tiada gading yang tak retak dan saya menyadari pasti ada saja kekurangan dari tulisan ini. Maka saya memohon perlindungan Allah dari memberikan keburukan pada umat Islam. Saya juga memohon perlindungan-Nya dari kejahatan orang-orang yang dengki dan suka mencari-cari kesalahan orang lain.

سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَثْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إَلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إلَيْكَ

“Mahasuci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi benar selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.”

English

Latin

 

6 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    “Allahuma aamiyn”. Terima kasih Bapak Ryan, untuk berbagi kisah perjalanan, ilmu pengetahuan, pengalaman dan doa-doanya. Hati saya berbunga-bunga membaca catatan ini. Alhamdulillah, welcome back di Jakarta tempat bertemu dan perpisahan dengan para jamaah. Semoga dapat melanjutkan perjalanan ibadah lagi ke dua kota suci, waktu yang akan datang. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ryan Mayer berkata:

      allahumma aamiin. tks atas doa dan supportnya bundo. semoga dalam perjalanan berimut dapat bersua bundo. mohon doanya pula karena beberapa hari lagi saya harus survey ke thailand.

      sampai jumpa dalam kisah2 berikutnya in sya’ allah. 😁😁😁😁

      Disukai oleh 1 orang

      1. My Surya berkata:

        Allahumma aamiin, terima kasih kembali Bapak Ryan.
        Semoga selamat dan sukses selalu perjalanannya. Wahai, sampai Thailand jugaaaa, senangnya keliling-keliling di muka bumi. Semoga jumpa banyak hikmah, berbagi kisah lagi dengan mudah, insyaAllah. 🙂 🙂 🙂

        Disukai oleh 1 orang

      2. Ryan Mayer berkata:

        siap bundo. in sya’ allah😁😁😁😁

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s