Istanbul: Misir Carsisi (Pasar Mesir)

on

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

pasar mesir2

“Sudah berapa?” tanya Munya pada saya dalam bahasa Inggris. Gadis gemuk itu bolak-balik bertanya pada saya tiap kali jamaah mengambil lembar kerudung entah yang merah, kuning, bunga-bunga, biru, dan lain-lain.

“Baru tiga.” Jawab saya sementara Bu Erni sibuk mengobok-obok tumpukan jilbab di rak sebelah.

“Berarti tujuh lagi.”

Gadis ini memang cerdas karena mampu bercakap dalam bahasa Inggris dan Arab sama fasihnya. Bahasa Inggris tidak mengherankan karena Misir Carsisi atau Pasar Mesir ini memang salah satu tujuan wisata di Istanbul. Lalu apa manfaat dari bahasa Arab? Jawabannya karena sejak abad ketujuh belas masehi bahasa tersebut biasa digunakan oleh para pedagang dan pembeli dalam transaksi komoditas ekspor terutama rempah-rempah. Zeki menambahkan bahwa seorang Turki yang mampu berbahasa Arab dianggap memiliki pengetahuan agama diatas rata-rata.

Para jamaah asyik menanykan harga barang ini dan itu. Lukisan, jilbab, set cangkir dan ceret, atau tasbih warna-warni. Dengan cekatan pula Munya melayani mereka semua tanpa terlihat lelah.       pasar mesir3

“Yaahhhhh!!!” Hampir tiap pejalan kaki di lorong maupun mereka yang tengah berbelanja berteriak serempak kala keadaan di dalam pasar menjadi gelap gulita. Rupanya mati lampu tidak hanya menjadi ciri khas Indonesia; di Istanbul pun terjadi hal yang sama. Toko-toko terpaksa berlomba memasang genset agar pelanggan tidak lari atau melarikan barang mereka. Dimulai dari toko sosis dan daging di sebelah, lalu toko mainan di depan, kemudian toko-toko lainnya. Toko  Munya yang bernama Kodjaoglu sendiri entah kenapa gagal menyalakan jenset padahal ada pelanggan di lantai dasar dan lantai dua.

Bu Erni dan Bu Ros tampak tak terpengaruh dengan gelapnya toko. Keduanya terus sibuk memilih jilbab-jilbab hingga jumlahnya mencapai sepuluh atau lebih. Munya pun dengan lincah mengambil kalkulator, lalu mengetik angka demi angka sebelum menunjukan hasilnya.

Dibangun pertama kali tahun 1660 M, pasar yang juga dikenal dengan nama Spice Bazaar ini mulanya tempat pedagang rempah-rempah yang mayoritas berasal dari Mesir menjajakan dagangan mereka. Kala itu Kekaisaran Utsmani masih memegang kendali perniagaan rempah-rempah yang membentang dari Nusantara, Yaman, Hijaz, Syiria, hingga Venezia. Dan sebagaimana halnya pasar-pasar lain di Turki, Misir Carsisi juga dibangun dekat dengan Masjid agar kehidupan duniawi dan ukhrowi tidak terpisah jauh. Sementara orang-orang mengkaji ilmu syar’i, para saudagar dengan mudah berkumpul di rumah Allah kala adzan berkumandang.pasar mesir1

Hari ini Misir Carsisi tidak hanya menjadi tempat berkumpul pedagang rempah saja. Penjual sosis dan daging ham, jagal domba, roti, Turkish delight, pakaian, perhiasan, kacang-kacangan, serta buah-buahan. Semua berkumpul menjadi satu di dalam gedung beratap tinggi mirip kanopi yang menutupi jalan setapak antara dua deretan toko di Pasar Baru Jakarta.

Ketika semua jamaah telah puas berbelanja kami pun berpamitan dengan Munya dan penjaga toko lainnya. Munya yang juga saudara Zeki melepas kepergian kami dengan melambai-lambaikan tangan bak anak kecil, “Dadaah, terima kasih, kembali lagi ya.”

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s