Istanbul: Mengarungi Selat Bosporus

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

bosporus1

“Toooottttt…” teriak cerobong kecil kapal seraya menyemburkan asap tipis warna putih. Bunyi mesin Istanbul City (nama kapal yang kami tumpangi) mirip suara mesin lokomotif diesel. Bising dan kasar namun entah mengapa menggambarkan kegagahan. Awak pelabuhan yang tadi melepaskan tali pengikat tampak semakin kecil ketika Istanbul City berayun menuju tengah laut. Udara di dek luar biasa dingin hingga lima detik tanpa sarung tangan menjadikan tangan beku dan sulit digerakan. Namun dinginnya udara tidak membuat kami patah arang untuk mengabadaikan momen ini. Sesi foto dan video terus berlanjut sementara goyangan di kapal semakin kuat; tanda kami telah memsuki perairan yang lebih dalam.

“Halo bapak dan ibu sekalian, selamat datang di acara Bosporus Cruise.” Suara Zeki membahana dari speaker di dek. Dari dalam anjungan saya mendapati guide kami tengah duduk di sebelah kapten. Sementara tangan kapten memegang kemudi, tangan Zeki memegang mikrofon. Ia terus bercerita sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar satu jam setengah ini.

bosporus2

Perjalanan kami dimulai dari sebuah dermaga kecil yang berbatasan dengan Galata. Terombang-ambing seorang diri di tengah laut, nelayan tua membalas lambaian tangan kami dengan senyum yang lugu. Berada tak jauh darinya, burung camar warna hitam sibuk mandi dan beberapa kali mencelupkan kepalanya ke dalam dinginnya air seolah hendak pamer pada orang-orang Indonesia yang menggigil hebat. Kapal kami berjalan terus menuju Laut Marmara sementara semakin banyak camar yang melintas di dekat kami. Ada yang putih dan ada pula yang hitam. Sebagian hanya terbang melintas, sebagian lain menangkap ikan, dan beberapa yang lain sibuk mandi.  Saya memandang sedih ke arah Menara Galata yang menjulang tinggi diantara atap-atap rumah; berharap pada kesempatan lain dapat singgah di wilayah kuno yang pernah menjadi koloni pedagang Genoa.

Kapal kami semakin jauh dari daratan dan angin pun semakin kencang. Beberapa jamaah saya –terutama yang berusia lanjut- tidak mampu bertahan dari terpaan angin dingin hingga memilih untuk masuk ke dalam; menikmati pemandangan seraya memesan teh atau kopi hangat.bosporus3

“Toootttt…” kapal lain yang melintas di depan kami membunyikan klakson sebagai salam yang segera dibalas oleh sang kapten. Kami yang berada di dek juga turut melambaikan tangan pada penumpang di dek sebelah sebagai bentuk solidaritas di tengah laut yang dalam. “Sekarang kita telah memasuki Selat Bosporus.” terang Zeki, “Di sebelah kiri anda adalah Eropa dan yang di kanan adalah Asia.”

Dari tengah laut terkesan tidak ada yang berbeda pada Istanbul bagian Eropa maupun Asianya. Rumah-rumahnya sama petak dan menumpuk di atas bukit dan pelabuhan peti kemasnya pun mirip. Kapal-kapal tanker demikian ramai hingga selat itu terasa tak lebih dari sebuah gang sempit.

“Nah lihat di sebelah kiri anda,” terang Zeki lagi. Sebuah bangunan indah warna putih berdiri di tepi laut. Ciri fisiknya lebih condong pada Perancis dibanding Turki. “Itu adalah Istana Dolmabahce.” Istana yang namanya dapat diartikan sebagai ‘Dipenuhi Taman’ ini dibangun tahun 1843 atas perintah Sultan Abdulmecit I. Sang sultan merasa Topkapi Saray kalah megah dibanding istana-istana Eropa lainnya hingga ia pun memerintahkan proyek pembangunan yang berlangsung selama 13 tahun. Dipenuhi taman dan berada lebih dekat dengan pelabuhan, Mustafa Kemal Ataturk mempertahankan status istana ini sebagai tempat tinggal orang nomor satu Turki kala Kekaisaran Utsmani dibubarkan tahun 1924.bosporus4

Setelah melewati Dolmabahce kami pun menjumpai bangunan lain yang tak kalah indahnya. Sebuah pulau kecil yang diubah menjadi resort berdinding putih dengan jendela kaca yang memperlihatkan isi gedung; meja-meja makan yang ditata rapih. Di halaman resort itu tertancap bendera kuning klub sepakbola Galatasaray yang menjadi kebanggaan kota Istanbul bagian Eropa. “Bahkan didalamnyua ada kolam renang.” Terang Zeki.

Saya masuk sebentar untuk menghangatkan diri seraya beramah-tamah dengan para jamaah. Mereka semua rupanya tengah asyik dalam percakapan tentang sinema Turki yang banyak ditayangkan di televisi Indonesia. “Ih kayaknya itu rumah yang di film deh.” Tunjuk Bu Erni seraya menyebut nama judul sinetron Turki.

“Bapak ibu sekalian, suara saya terdengar tidak?” tanya Zeki.

“Enggak kedengeran!!!!” teriak Farel seraya tertawa. Ibunya nampak tidak suka dengan perbuatan itu.

“PASTI TERDENGAR!” teriak Zeki, “Kalau tidak saya tidak akan mendengar jawaban anda!”

Menatap dari jendela, bayangan jembatan Bosporus yang menyambungkan Asia dan Eropa tampak semakin jelas. Diatas jembatan inilah mobil dari kedua benua hilir-mudik selama 24 jam. Saya jadi teringat cerita bibi dan sepupu saya yang pernah berjalan kaki melintasi jembatan dari Eropa ke Asia. Ketika saya tanya berapa lama waktu yang dibutuhkan, bibi menjawab, “Satu jam lebih.”

Istanbul City kini hanya beberapa meter dari jembatan yang demikian besar dan tinggi di atas permukaan air. Di tengah jembatan berkibar bendera Turki ukuran jumbo yang demikian gagah. Kapal kami melintas di bawahnya dan terus ke utara hingga nyaris memasuki Laut Hitam. Saya jadi membayangkan ketakutan yang melanda pelaut Eropa kala melintasi bagian paling sempit dari selat ini dimana pada bagian Asianya terdapat Anadolu Hisari sedang di bagian Eropanya ada Rumeli Hisari. Kedua bangunan tadi merupakan benteng penjaga selat yang dibangun oleh dua sutan Utsmani, Anadolu oleh Sultan Bayazid Yildirim sementara Rumeli oleh cicitnya, Fetih Mehmed. Kala itu tiap kapal Kristen yang melintas antara Laut Tengah dan Laut Hitam wajib membayar pajak bila tidak ingin diberondong meriam-meriam benteng. Penguasaan atas selat sempit ini pula yang membantu Fetih Mehmed menaklukan Constantinople tahun 1453.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s