Istanbul: Sentra Kerajinan Kulit

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

best
Image: Ryan Mayer

Zyvana mempersilakan kami duduk di kursi kecil tak berlengan yang berjejer bak permen warna-warni di dalam kotaknya. Merah, ungu, biru, atau hijau. Sementara seorang pelayan membagikan sloki kecil berisi teh Turki, wanita asal Kroasia itu berdiri di atas cat walk seraya menjelaskan cara kerja toko ini. Dengan rambut pirang panjang dikuncir, wanita bermata biru ini nampak modis dalam balutan jaket musim dingin warna abu-abu, jeans biru, dan bot cantik warna coklat. “tuan dan nyonya sekalian cukup mencatat nomor baju yang dikenakan si model. Cukup mengatakan pada kami nomor berapa yang anda minati maka kami akan mempersiapkannya untuk anda.” Ujarnya dalam bahasa Inggris berlogat Eropa timur.

Zyvana turun dari panggung dan si pelayan menutup pintu ruang peraga. Alunan musik dari beberapa speaker hitam di keempat sudut ruangan membahana seiring munculnya sosok cantik dari ujung panggung. Rambutnya sama panjang dengan Zyvana namun berwarna coklat. Ia berjalan di atas panggung dalam balutan jaket musim dingin warna merah. Di bagian pinggangnya menempel kertas bulat dengan nomor 17.

Setelah mencapai ujung panggung, ia berbalik menuju ruang ganti kemudian sirna digantikan model lain. Kali ini seorang pria muda dengan tubuh atletis berjalan tenang dengan jaket kulit warna coklat. Perpaduan antara keelokan pakaian dengan rambut dan janggut pirangnya memberi kesan macho pada si model. Para penonoton mulai berdecak kagum dan saling berbisik, “Yang ini bagus.”

Kepala saya mulai pusing dan jantung berdebar-debar. Para model itu merupakan makhluk Allah yang amat menawan; meskipun demikian kita tak boleh terus menikmati pemandangan yang demikian. Bila terlena, baik hafalan Al-Qur’an maupun hadits, bahkan agama kita bisa hilang. Lebih dari itu semua, setiap mukmin diwajibkan untuk menjaga pandangan mereka dari pria atau wanita yang bukan mahramnya. Perintah ini tercantum daam surat An-Nur ayat 31,

وَ قُلِ لِلْمُعْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبصَارِهِنَّ وَ يَحففَظْنَ فُرُوْجَهٌنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلَّا مَا ظَحَرَ مِنْهَا وَ الْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلىٰ جُيُوْبِهِنَّ وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْتِهِنَّ اَوْ اٰباٰءِهِنَّ اَوْ اٰباٰ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْناٰءِهِنَّ اَوْ اَبْناٰءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَو بَنِيْ اِخْوانِهِنَّ اَوْ بَنِيْ اَخْوَاتِهِنَّ اَوْ نِسَاءِهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِالتَّابِعِيْنَ غيْرِ اُولىِ الْالرْبَتِ مِنَّ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلىٰ عَوْرٰتِ النِّساٰءِ وَ لاَ يَضْرِبْنَ بِارْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِفْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ وَ تُوْبُوْا  اِلَ اللهِ جَمِيْعًا اَيَّهُ الْمُعْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ

تُفْلِحُوْنَ.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.”

Saya pun memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan para supir bus yang menyeruput kopi hangat di bawah hujan salju. Alhamdulillah sebagian jamaah pria pun turut keluar.

Selesai peragaan busana, para jamaah tampak seperti orang terhipnotis (terutama ibu-ibu). Mereka segera menjelajahi lantai dua untuk berburu jaket-jaket yang telah ditandai nomornya. Bu Erna segera deal dengan kasir begitu pula Bu Ros. Tak mau ketinggalan, Bu Yuyun yang sempat ragu dan memint saran saya akhirnya turut menambah koleksi busana.

Saya merasa sangat beruntung singgah di factory yang sama sekali tidak mirip pabrik ini. Zyvana dan kawan-kawan sama sekali tidak menujukan kesan menawarkan barang dagangan. Sama sekali tidak. Mereka justru membuat para tamu merasa nyaman seperti di rumah. Disambut dengan senyum yang tidak berlebihan, para jamaah disuguhkan minuman sebelum diperkenalkan pada koleksi mereka. Zyvana sendiri tampak mengindari kata ‘beli’ dan justru memfokuskan presentasi pada alasan kenapa bulu domba yang digunakan, “Karena bulu domba Turki amat lembut dan ringan. Ia terasa sejuk di musim panas namun dapat memberi kehangatan pada musim dingin.” Terangnya.

Banyak pelajaran yang saya petik disini. Saya tak sabar untuk pulang ke tanah air dan menerapkannya di bisnis busana muslim kami sendiri. Silakan singgah di page FB kami: Toko Online Hafair atau akun instagram: mouras_olshop.

English

Latin

4 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    Sistem penawaran yang apik, tanpa kesan menjual namun menyajikan kenyamanan sesuai kebutuhan konsumen.

    Wah, 😀 kalau aku di sana tentu tergoda salah satu produknya. Untunglah hanya menyimak pengalaman. Jadi terpengalaman tentang model penjualan seperti ini. Ku pikir, ide bagus kalau mau menerapkan cara senada.

    🙂 🙂 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ryan Mayer berkata:

      banget banget bundo😀

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s