Istanbul: Museum Panorama

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

panorama4.JPG
Image: Ryan Mayer.

Jarak antara lapangan parkir dan pintu masuk museum sebenarnya tidak jauh, hanya sekitar 50 meter. Meskipun demikian langkah demi langkah di jalan berbatu antara dua taman terasa begitu berat bagai berjalan diatas lembutnya pasir gurun. Pohon-pohon tanpa daun bagai menatap angkuh, demikian pula rerumputan hijau pucat yang tampak malas-malasan menghadapi musim dingin.

Ironisnya sebuah kedai es krim warna merah jambu justru menjadi daya tarik di tengah dinginnya pagi. Sang penjaga melambai-lambaikan tangan menjajakan es krim seolah matahari tengah bersinar demikian terik.

Setelah melewati pintu x-ray kami pun disambut hangat wanita penjaga museum yang mengenakan hijab biru muda. Dengan ramah ia membagikan brosur sementara kami memandang kagum pada patung lilin Sultan Fetih Mehmet seukuran orang dewasa. Bermata tajam dan janggut hitam, sang sultan seolah mengingatkan para turis yang datang berkunjung untuk bersikap sopan. Kami pun mulai berfoto dengan sang sultan sebelum Zeki mengajak kami ke ruang berikut.

panorama2.JPG
Image: Ryan Mayer.

Untuk menuju ruang berikut kami harus menuruni undakan tangga. Ketika pertama kali tiba apa yang nampak sejauh mata memandang adalah deretan lukisan yang menggambarkan kota Constantinople; entah tentang bangunan-bangunannya atau proses pengepungan yang dipimpin Sultan Fetih Mehmed. Zeki menerangkan pada kami tentang sejarah kota serta alasan dibalik serangan tahun 1453 M. Sementara para jamaah menyimak dengan antusias, pandangan mata saya justru mengarah pada sebuah layar televisi yang menerangkan proses penaklukan kota secara visual. Demikian baik kualitas film itu hingga tanpa sadarkan diri sebuah rombongan turis Indonesia lewat di samping, “Ayo ikuti aku” teriak seorang wanita.

“Sepertinya saya kenal suara ini.” Saya menoleh kearah rombongan yang berisik itu, “Ah, ternyata benar.” Si wanita Turki berambut coklat yang saya temui di Topkapi dan rombongan Indonesia lain telah tiba.

Tidak hanya saya yang menyaksikan datangnya rombongan itu. Di tengah asyiknya ‘kelas sejarah’, Zeki sempat melirik kearah si guide wanita dan entah kenapa segera mengajak kami menuju ruang berikutnya.

panorama3.JPG
Image: Ryan Mayer.

Sekali lagi kami menjumpai tangga namun kali ini lebih kecil dan menuju ke atas. Semakin mendekati tujuan telinga ini disambut oleh bunyi-bunyian yang asing; rasanya seperti tengah berada di tengah tawuran antar sekolah atau kerusuhan massal. Begitu anak tangga berakhir saya pun dikejutkan oleh sosok pria tegap berseragam ala Yeni Ceri warna hijau. “Allah Akbar, ini jin menjelma jadi tentara Utsmani?” saya terkejut campur penasaran. Setelah diperhatikan dengan seksama rupanya ia adalah petugas keamanan yang menjaga panggung bulat yang dibatasi pagar kaca seukuran perut orang dewasa.

“Iiiiigggghhhh….” suara ringkik kuda membahana diikuti bunyi ledakan keras, “Booommm!!!”  ternyata Zeki mengajak kami untuk mengambil bagian dalam penaklukan Constantinople. Di sekeliling pagar berjejer meriam-meriam besar warna abu-abu lengkap dengan bola-bola besi yang siap dimuntahkan menuju tembok kota. Beberapa alat pengepungan seperti ketapel raksasa dan menara serang juga hadir. “Woooooooo!!!” teriakan para prajurit yang mempertaruhkan nyawa membuat bulu kuduk merinding sementara musik yang dimainkan anggota mehter demikian jelasnya hingga pihak yang menyerang dan yang diserang dapat merasakan kehadirannya.

Sultan Mehmet nampak berada di belakang kami. Mengenakan zirah keemasan, ia memperhatikan dengan seksama di atas kuda putih. Para Yeni Ceri yang bersenjatakan panah, kapak, pedang, dan senapan mengelilinginya dengan tatapan tajam menuju tembok benteng. Pasukan kuda menyerang sementara pasukan Romawi melontarkan bom dari balik dinding. Korban pun berjatuhan namun dengan sigap pasukan medis Utsmani menggotong korban yang terluka atau gugur ke tempat yang aman.

panorama1
Image: Ryan Mayer.

Beberapa pasukan Utsmani nampak berhasil memanjat benteng sementara yang lain didorong jatuh dari ketinggian. “Duaarrr!!!” sebuah menara benteng hancur berkeping-keping akibat tembakan meriam sultan yang demikian besar hingga harus ditarik oleh 60 ekor sapi. Mendapati lubang besar di tembok, pasukan Utsmani lainnya menerobos masuk hingga berhasil naik ke tembok benteng dan membunuh para penjaganya. Sebagian yang lain bahkan berhasil naik ke menara yang lebih tinggi dan menancapkan bendera Utsmani. Saya langsung teringat Ulubatli Hasan, salah satu Yeni Ceri senior yang demikian loyal pada sultan Fetih Mehmet.

Sungguh luar biasa pengalaman yang ditawarkan oleh Museum ini. Sebuah tempat belajar sejarah terbaik yang diresmikan oleh Perdana Menteri Recep Tayip Erdogan pada 31 Januari 2009.

English

Latin

8 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    Perjalanan wisata sejarah yang mengesankan. Aku suka pemaparan dari awal sampai akhir, mengembalikan ingatan pada penaklukan Konstantinopel. Terbaik. Two thumbs up from me.
    Termasuk paragraf pertama, satu kalimat terakhir. Senyum-senyum bacanya setelah mikir. Beautiful description. Hehe. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ryan Mayer berkata:

      masa sih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

      Disukai oleh 1 orang

      1. My Surya berkata:

        Iya, 🙂

        Disukai oleh 1 orang

      2. Ryan Mayer berkata:

        kalo gitu terima kasih banyak bundo🙏

        Disukai oleh 1 orang

  2. My Surya berkata:

    sama-sama. Perumpamaan yang pas, ‘rumput bermalasan’, karena mereka memang nempel di tanah. Warna hijau pucat, karena layukah? Ini yang sempat terpikirkan, akhirnya angguk2 mengerti, iya juga yaa. Makanya senyum ngebayangin. 🙂

    Pohon yang terlihat angkuh, juga. Karena tak ada daunnya yang merunduk. Terlihat reranting saja yang menjulang tinggi. Begini alasan senyum hadir memaknainya. 😀

    “Jadi inspirasi untuk jeli memperhati sekitar.”

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ryan Mayer berkata:

      G😊E😋E🤗R😙

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s