Istanbul: Manisan Tradisional Khas Turki

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

baklava3.JPG
Image: Ryan Mayer.

Akhirnya tur hari ini selesai juga. Selesai makan malam tiap keluarga kembali ke kamar masing-masing; sementara satu-satunya kawan saya di kamar adalah dinginnya udara Istanbul. Duduk sejenak seraya menyalakan televisi yang menayangkan film seri kesukaan saya, Dirilis Ertugrul. “Betapa bahagianya hari ini.” Ujar saya dalam hati, “Turnya seru dan jamaah tidak ada yang komplain.” Tiba-tiba saja pikiran ini menerawang pada sebuah peristiwa mengharukan yang terjadi siang tadi.

Saya dan para jamaah tengah berada di toko oleh-oleh khas Turki kala para abhi atau brother (maksudnya para penjaga toko) merayu kami dengan cara yang elegan. Ketika kami bertanya tentang baklava atau kue manis khas Turki, mereka tidak langsung menunjukan produk yang dimaksud atau menyebutkan harganya. Mereka justru meminta untuk menunggu beberapa menit hingga datang salah satu abhi dengan nampan besar di tangan. Seiring datangnya abhi, aroma lezat menjajah penciuman, membawa sebuah pesan yang tegas pada otak, “Kue ini rasanya manis, ayo beli!”

“Please.” Salah seorang abhi yang berkacamata meminta kami untuk mencicipi potongan-potngan kecil berwarna emas. “Orang Turki jarang yang menggunakan gula, kami menggunakan madu untuk pemanis rasa.” Lanjutnya dalam bahasa Inggris.

Ia tidak bohong. Baklava ini luar biasa lezat hingga tidak perlu waktu lama bagi saya untuk memesan, “Bir kilo lutfen (one kilo please).”

Dokter Keiko yang dari awal terus mempromosikan baklava kini membujuk saya untuk mencoba loqum atau manisan khas Turki. Lebih populer dengan nama Turkish Delight, loqum tampak seperti kue moci namun lebih wangi. Manisan ini biasa dibuat dalam ukuran sebesar kue tart dan para pembeli dipersilakan untuk memesan berapa kilo yang ia inginkan. Sang pedagang kemudian akan mengirisnya sesuai permintaan lalu menimbangnya di hadapan kita. “Ma sya’ Allah, lezatnyaaaa…”

Setelah berhasil melepaskan diri godaan loqum, saya menyusuri deretan rak yang memajang madu, sari buah delima, sabun, serta bubuk teh aneka warna. Ketika tengah asyik-asyiknya menikmati aroma teh dan melati mata saya dikejutkan oleh pemandangan yang tak lazim di luar toko.

baklava1.JPG
Image: Ryan Mayer.

Sepasang suami istri dengan pakaian yang lusuh menatap penuh harap. Yang pria tampak berusia empat puluhan dengan jaket coklat lusuh dan topi yang tidak tampak seperti topi. Istrinya memakai gamis syar’i dengan cadar yang selurunya berwarna abu-abu. Feeling saya mengatakan bahwa mereka orang Arab, karena orang Turki jarang yang berbusana seperti itu. Saya segera meninggalkan deretan teh menuju pintu keluar.

“Assalamualaikum, apa kabar paman?” tanya saya dalam bahasa Arab. Ia nampak terkejut karena saya berbicara dalam bahasa Arab.

Sebuah senyum tersungging diwajahnya yang lesu, “Wa alaikumus salaam. Alhamdulillah kami sehat.”

“Anda dari mana?”

“Suriah.” Ucapnya seraya menunjukkan paspor lusuh berwarna hijau. Saya ambil paspor itu dan memeriksanya. Ia tidak berbohong.

Saya segera memeluknya, membisikkan doa, sementara dengan cepat beberapa puluh lira berpindah ke tangannya. Hingga saat ini saya masih bisa merasakan hangat tubuhnya yang bercampur dinginnya Istanbul. Ia menangis dan mendoakan keberkahan; demikian pula istrinya.

Ketika membalik badan ternyata beberapa orang jamaah yang dipimpin Pak Nugie ternyata ada di hadapan saya. Pak Nugie bertanya apakah mereka orang Suriah? Ketika saya mengiyakan ia pun berkomentar, “Tadinya kami mau kasih tapi dia mau nerima Rupiah enggak ya?”

Saya pun kembali pada si paman untuk menyampaikan maksud Pak Nugie dan kawan-kawan. Sebuah senyum kembali muncul di wajahnya sementara matanya masih berkaca-kaca. Saya memberi kode pada Pak Nugie untuk segera mengeluarkan Rupiah dari kantong masing-masing. Ada yang merah dan ada yang biru. Tangis si paman semakin menjadi-jadi sementara sang istri menengadah ke langit. Tangannya terangkat sementara mulutnya tiada henti melantunkan doa-doa.

Inilah kebahagiaan yang tak terbayar. Memiliki kemampuan untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara seiman yang ditimpa bencana. Berbagi apa yang kita miliki pada saudara seiman yang selama ini hanya kita dapati kabarnya dari media massa saja.

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s