Istanbul: Mata Air Basilica

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

basilica1.JPG
Image: Ryan Mayer’s file.

“Kita ke Basilica Cistern yuuuukkk.” Dokter Keiko membujuk, “Mumpung sudah disini.”

Kunjungan ke Basilica tidak tercantum dalam jadwal namun tidak singgah di tempat yang luar biasa menarik itu sama artinya dengan penyesalan. Saya meminta pendapat jamaah yang lain, ternyata mereka setuju. Senyum bahagia merona di wajah Dokter Keiko.

Menyeberangi jalan berbatu yang memisahkan Hagia Sophia dengan Basilica Cistern, sebuah trem warna merah melintas di hadapan kami. Di dalamnya orang-orang Turki nampak asyik mengobrol sementara sebagian yang lain memandang penasaran ke arah kami. Mungkin mereka bertanya-tanya, “orang dari mana mereka?”

Dari luar, Basilica Cistern tampak seperti persegi panjang yang tidak menarik. Berlapis cat abu-abu kekuningan, bangunan sempit itu hanya memiliki sebuah pintu masuk kecil yang dijaga seorang satpam tua berwajah galak. Kantung matanya yang nampak jelas seolah berkata, “kalian kok masih saja datang sih, saya sudah ngantuk nih!” Diatas pintu masuk sempit itu terpampang papan putih bertuliskan Yerebatan Sarnici atau The Basilica Cistern.

Kami diizinkan masuk setelah menyerahkan tiket pada pak satpam. Sebuah tangga kecil di ruangan gelap seolah membawa kami menuju kehampaan. Gelap dan mendebarkan. Inilah cara paling sederhana untuk melukiskan apa yang ada di dalamnya.

basilica2.jpg
Image: https://www.tripadvisor.co.uk/LocationPhotoDirectLink-g293974-d294555-i107731869-Basilica_Cistern-Istanbul.html

Dibangun pertama kali pada abad ke-4 Masehi, bangsa Romawi menjadikan ruang bawah tanah yang demikian luas ini sebagai kolam penampungan air agar sewaktu-waktu kota dikepung musuh maka penduduknya tidak kekurangan air minum. Ruangan yang pada masa jayanya dapat menampung 100.000 ton air ini tersambung dengan aqueduct yang membentang sepanjang 19 kilmeter dari kota menuju Belgrad Ormani atau Hutan Belgrade. Meski namanya mengandung arti ibukota Serbia namun hutan yang dimaksud masih berada di dalam kawasan Istanbul; hanya saja di tempat itu memang bermukim banyak orang Serbia.

Perasaan kagum bercampur janggal memenuhi hati ketika saya melangkah di sebuah jalan setapak yang dihalangi pagar di kedua sisinya. Terletak dekat tangga terdapat sebuah kafe yang menawarkan pada pengunjung sensasi makan minum di tengah kegelapan. Di sebelah kafe, terdapat foto booth yang keberadaannya agak merusak mood. Berbeda dengan seantero ruangan yang diterangi secara minimalis oleh lampu-lampu kecil bercahaya merah; foto booth itu nampak terang-benderang baik karena banyaknya lampu sorot disana maupun akibat senyum sumringah para turis yang berfoto dengan pakaian tradisional Turki yang warnanya pun cerah.

Jalan setapak membawa saya masuk semakin jauh ke dalam kegelapan. Di bawah kaki kami ikan-ikan emas yang besar menari diantara tiang-tiang penyangga jalan setapak maupun pilar-pilar besar Yunani kuno yang menopang atap di atas kami. Di dasar kolam nampak uang-uang receh yang memantulkan cahaya sementara beberapa turis kegirangan melempar koin-koin hingga jumlahnya semakin banyak. Semakin dalam jalan makin menyempit dan menurun. Kini ikan-ikan yang menari hanya berjarak satu celupan jari dari kami. Tepat di ujung jalan terdapat patung kepala Medusa yang diletakkan secara terbalik untuk menyangga tiang. Kaisar Constantine sengaja memasangnya terbalik sebagai penghinaan bagi sisa-sisa penganut ajaran pagan sekaligus sebagai jimat penangkal bahaya.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s