Istanbul: Hagia Sophia

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

hagia1.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

Pucuk dicinta ulam tiba. Seolah menjadi klimaks dari padatnya rangkaian acara hari ini, Hagia Sophia atau Aya Sofia menyambut kami dengan angkuh; bagai raksasa yang jemu menanti rombongan semut kecil. Tidak semua jamaah ikut masuk ke dalam museum yang dahulu berfungsi sebagai gereja kemudian masjid itu. Pak Anwar dan Bu Ani, Pak Rudi dan Bu Ros, serta keluarga Pak Nugie memilih untuk menikmati sore hari dengan duduk-duduk di bangku taman memandangi air mancur, daun-daun yang berguguran, juga trem yang melintas di jalan kota tua.

Kami memasuki bangunan yang pertama kali dibangun tahun 360 M ini melalui sebuah gerbang besar yang dikawal sepasang pintu kayu warna coklat yang tampak telah berusia satu abad. Melintasi gerbang seolah memasuki ruang hampa udara. Sedikit banyak dugaan saya benar karena saat melangkah suara pantulan sepatu menggema di ruang yang tiang-tiangnya tidak sama baik bentuk maupun arsitekturnya. Zeki menjelaskan bahwa hal itu memang disengaja karena bangunan ini dibangun menggunakan material kuil-kuil agama pagan yang semakin lama semakin kehilangan umat.

hagia3.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

Kami melewati pintu lain menuju ruang utama museum. Memandang kearah kaki tampak sia-sia karena memang tidak ada yang istimewa kecuali lantai marmer warna putih. Namun lain halnya bila kita melongok kearah langit-langit. Disitulah kemegahan arsitektur Hagia Sophia memancing detak kagum. Kubah-kubah raksasa yang menutupi atap tidak memiliki satu rangka atau tiang pun yang menopangnya. Arch atau lengkungan raksasa itu murni disusun secara manual menggunakan batu bata dan semen dengan tingkat kemiringan yang luar biasa.

Dibawah kubah-kubah besar itu bangsa Romawi menghias dinding dengan mosaik-mosaik yang hampir seluruhnya bertemakan agama Kristen dan kaisar-kaisar Romawi seperti Leo VI dan Basil II. Lukisan Bunda Maria menggendong Yesus serta dua orang suci tengah membungkuk di kedua sisinya juga terpampang jelas di langit-langit. Ada pula lukisan Yesus dewasa duduk di singgasana sementara seorang pria tua membungkuk di hadapannya. Terakhir, jangan lupakan pula lukisan besar yang menggambarkan seorang malaikat berwarna emas tengah memandang ke bawah dengan galak. Di tangannya terdapat sebuah pedang berwarna keemasan. Zeki bercerita bahwa orang-orang Kristen Orthodox meyakini bahwa malaikat itu benar-benar menjaga tempat ini.

Di bawah mosaik-mosaik tergantung beberapa bandul besar berwarna hijau. Di dalamnya tertulis kaligrafi Arab berwarna keemasan. Dua diantaranya mengapit lukisan Bunda Maria. Yang kanan bertuliskan Allah sementara yang kiri berlafadzkan Muhammad. Selain bandul-bandul tadi, kaligrafi Arab juga banyak tersebar di dinding museum. Fenomena unik ini merupakan dampak dari penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmet Al-Fatih pada 29 Mei 1453 M. Sang sultan tidak melakukan pengrusakan atau pembantaian, ia justru memberi jaminan keamanan terhadap penduduknya yang mayoritas beragama Kristen Orthodox. Sikap toleran inilah yang kemudian membuat banyak penduduk kota masuk Islam, termasuk para pendetanya. Sultan tidak mengambil harta atau nyawa penduduk kota; ia hanya mengambil Hagia Sophia untuk dijadikan masjid.

hagia2.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

Puas melihat-lihat dan berfoto di lantai dasar kami pun menuju lantai dua melalui sebuah ramp atau jalan menanjak yang menghubungkan satu lantai dengan lantai lainnya. Berbeda dengan tangga yang menggunakan undakan, ramp lebih mirip jalan menanjak yang mulus. Zeki menjelaskan bahwa sebab orang Romawi membangun ramp agar mereka dengan mudah dapat mengangkut tandu raja dari satu lantai ke lantai lain.

Pemandangan di lantai dua tidak jauh berbeda dengan yang saya lihat di bawah. Hanya saja disini terdapat sebuah dinding tipis yang membatasi ruang dekat tangga dengan bagian yang lebih dalam. Zeki bercerita bahwa ruang di balik sekat ini menandakan surga sementara yang dekat tangga masih bagian dari dunia. Saya jadi teringat raudhah, satu dari taman-taman surga yang Allah turunkan ke muka bumi.

Kami meninggalkan Hagia Sophia bersamaan dengan ditutupnya museum. Di luar, matahari terbenam yang demikian merah seolah mengucapkan selamat tinggal pada dinding Hagia Sophia yang sewarna. Hembusan angin musim dingin pun bertambah hebat hingga Pak Rudi yang biasa mengunjungi anaknya di Upsala (Swedia) mengirimkan pesan whatsapp, “Bisa segera kembali? Ibu-ibu sudah pada kedinginan.”

Bukan isapan jempol yang dikatakan seorang manajer jempolan di era ode baru itu. Nenek Uti tengah duduk menggigil di atas bangku taman yang terbuat dari batu. Demikian pula Bu Ros yang wajahnya menjadi lebih putih dari biasanya. Pak Rudi menyambut kami dengan wajah puas ketika saya dan rombongan yang masuk ke museum muncul di hadapannya.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s