Istanbul: Masjid Sultan Ahmet

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

sultan ahmet1.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

Semakin siang hawa Istanbul terasa semakin dingin. Matahari seolah diam memperhatikan angin musim dingin yang terus menusuk tubuh; meski topi, hoody, sarung tangan, dan jaket menjadikan saya tampak seperti robot. Yang lebih mengerikan lagi adalah fakta kami harus berwudhu di ruang terbuka. Apabila angin saja terasa menusuk tulang maka tak perlu ditanya sensasi apa yang muncul ketika air keran mengalir di tubuh.

Saya tayamum saja.” Kata Zeki. Bingung juga kami, orang Indonesia yang mati-matian menahan dingin saja rela berwudhu kok orang Turki justru enggan?

Bagian dalam masjid tidak hanya menawarkan kehangatan untuk tubuh namun juga untuk qolbu. Bagi saya pribadi, sholat bukan sekedar kewajiban yang harus ditunaikan. Ibadah yang satu ini juga sarana untuk mengadu pada Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta; juga untuk memohon jalan keluar dari tiap persoalan yang saya hadapi. “Iyyaaka na’budu wa Iyyaaka nastaiyn. Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Selesai sholat saya duduk sebentar untuk melepas lelah. Karpet merah yang terbentang luas melindungi bagian bawah tubuh dari dinginnya lantai batu. Puluhan cahaya kecil dari kandil raksasa di atas menjadi penerang orang-orang yang sholat; mosaik bunga-bunga coklat di langit-langit terlalu sayang untuk dilewatkan. Hanya satu hal yang saya sesalkan; bahwa tidak semua orang masuk ke masjid yang dibangun tahun 1609 M ini untuk menunaikan sholat. Sebagian hanya sibuk berfoto ria lalu keluar kembali. Untung saja di masjid yang meski dinamakan blue mosque namun tidak bercat biru ini para turis hanya diberi ruang sempit untuk mengambil gambar. Hanya sekitar dua meter dari pintu masuk terdapat pagar kayu warna coklat yang membentang dari ujung ke ujung. Sampai situ sajalah para turis boleh bersenang-senang karena fungsi asal masjid adalah untuk sholat. Beda halnya dengan ruang untuk mengambil gambar, sebuah kantor di sisi kanan masjid tampak sepi padahal banyak orang berlalu-lalang didepannya. Ruang itu merupakan sebuah islamic centre, tempat orang bisa menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam.

sultan ahmet2.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

Tak lama kemudian saya dan para jamaah berkumpul di meeting point yang telah ditentukan. Hampir semua orang telah berkumpul kecuali Bu Erni dan Nek Ema. Saya dan Zeki kemudian berpencar untuk mengitari masjid namun jejak keduanya tak jua ditemukan. Ketika kembali ke meeting point ternyata orang yang kami cari telah berdiri diantara para jamaah lain.

“Saya kira belum ada orang makanya saya langsung pergi.” Terang Bu Erni, “Kan sudah jam tiga tapi tidak ada orang. Jangan-jangan sudah pada ke Hagia Sofia?”

“Kan baru jam tiga. Sedangkan komitmen kita berkumpul disini jam tiga lewat lima belas.” Sela bu Anis tajam.

Kami pun beranjak meninggalkan Masjid Sultan Ahmet. Begitu agak jauh dari masjid saya pun menoleh ke belakang memandangi masjid yang tidak biru itu. Kubah-kubah besar warna abu-abu seolah bertumpuk di bagian tengah sedangkan enam buah menara ramping beratap runcing menjulang tinggi ke angkasa. “Tidak sia-sia para pekerja menghabiskan tujuh tahun untuk mendirikan bangunan ini. Hingga saat ini ia tetap cantik. Sultan Ahmed boleh berbangga.” Ujar saya dalam hati.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s