Istanbul: Istana Topkapi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

 

topkapi2.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

Bus putih kembali menyusuri jalan sempit yang berbatasan dengan tembok kota tua. Namun kali ini di sisi kiri nampak laut biru yang meski sempit namun dipenuhi kapal-kapal kecil maupun besar. Di seberang sana tampak rumah-rumah bercat putih memenuhi bukit yang di atasnya terdapat menara hijau beratap runcing. Jembatan besi kecil dilalui beberapa mobil sementara para pemancing memanfaatkan hari minggu untuk mengail ikan. Tujuan berikutnya adalah Istana Topkapi yang berada di distrik Fetih.

Pintu bus terbuka bersamaan bunyi mendesis yang kini tak asing di telinga. Menuruni tangga bus, saya mendapati sebuah masjid besar berwarna abu-abu kebiruan yang tak lain adalah Masjid Sultan Ahmet atau Blue Mosque. Terletak lebih ke belakang lagi terdapat bangunan megah berwarna merah yang dihiasi kubah-kubah hitam dan menara beratap lancip yang menjulang tinggi. Itulah Hagia Sofia. Namun bukan kedua bangunan bersejarah itu yang menjadi tujuan awal kami.

Setelah berjalan kaki sekitar lima menit seraya mengamati penjual simit, lirikan tukang jagung bakar yang sedang memanggang jagung besar cantik warna kuning, panggilan tukang kenari panggang dari balik kompor yang mengebulkan asap putih nan wangi, serta kelihaian tukang es krim Turki memindahkan cairan dingin warna pink dari satu con (kerupuk) kepada con lainnya. Tentu saja Farel dan kedua sepupunya, dokter Keiko dan kedua adik laki-lakinya, dan beberapa jamaah lain tersihir oleh para pedagang yang tak kalah lihai dari pemain akrobat.

Semakin jauh kami berjalan semakin tampak gerbang Istana Topkapi atau Topkape Saray dalam bahasa Turki. Sebuah gerbang besar yang dijaga dua orang tentara bersenjata menanti tiap pengunjung. Kami semua harus melewati gerbang x-ray sementara tas-tas kami melewati conveyor khusus. Setelah itu baru diizinkan untuk melangkah di jalan setapak yang membawa pengunjung ke bagian tengah istana. Di kiri dan kanan jalan setapak warna putih tampak pohon-pohon besar berdiri kokoh tanpa daun yang rontok akibat musim dingin. Bunga-bunga aneka watna tampak serasi dengan rerumputan hijau pucat yang masih bercampur sisa-sisa salju. Selat Bosporus yang kebiruan tampak di sebelah kanan kami, lengkap dengan kapal-kapal yang melintasinya.

Mendekati gerbang istana dalam yang bergaya kastil Eropa abad pertengahan dengan dua buah menara lancip dan pagar-pagar pertahanan di atas gerbang; saya mendengar teriakan wanita yang amat janggal, “Mari bapak dan ibu, ikuti aku. Kita segera masuk ke dalam yah.”

Seorang wanita Turki berambut coklat tengah mengomandoi rombongan turis Indonesia yang ternyata satu pesawat dengan kami. Zeki melirik kearahnya dan keduanya saling berbalas senyum.

“Anda kenal dia bey (pak)?” tanya saya.

“Ya. Dia juga satu perusahaan dengan saya. Tapi tidak tahu apakah home guide atau bukan.” Terang Zeki dengan wajah serius yang seolah tak pernah berubah. “Kalau saya home guide.”

topkapi3.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

Meski sama-sama pernah ke Indonesia untuk mendalami bahasa dan budaya nusantara namun Zeki dan guide wanita tadi jelas berbeda dalam karakter. Keduanya menyenangkan namun Zeki lebih serius.

Dibangun oleh Mehmet Al-Fatih pasca penaklukan Constantinople, Topkapi Saray merupakan sebuah kompleks istana yang terdiri dari balairung, kediaman sultan dan anggota keluarga kerajaan, masjid, dan akademi tempat berlangsungnya pelatihan pasukan elit Yeni Ceri. Anak laki-laki berbakat dari penjuru wilayah Utsmani direkrut dan diberi pendidikan agama Islam, kemiliteran, dan administrasi lalu dilihat kecenderungannya masing-masing. Tak heran bila anak-anak ini kelak ada yang berkarir sebagai komandan militer, menteri, atau petugas administrasi kerajaan. Hal yang sama juga berlaku bagi anak perempuan yang berbakat. Mereka dikumpulkan dan dilatih menjadi dayang-dayang istana yang terampil dalam banyak hal. Kelak anak-anak yang dikumpulkan ini banyak yang menikah dengan sesama dan membentuk keluarga.

Bangunan pertama yang kami kunjungi adalah balairung yang menyimpan singgasana sultan. Ciri utama bangunan ini adalah beberapa tiang marmer warna putih yang disambung oleh lengkungan-lengkungan yang dicat coklat dan putih. Kami melewati sebuah gerbang kecil sekedar untuk berhadapan pada undakan tangga yang membawa masuk pada ruangan lebih kecil yang memiliki beberapa jendela. Di dalamnya terdapat singgasana yang digunakan sultan untuk menerima utusan dari kerajaan lain. Seukuran tempat tidur ukuran double, singgasana sultan memiliki empat buah pilar menyangga kanopi coklat kekuningan. Di bawah kanopi itu terhampar alas duduk warna merah yang ditemani bantal panjang dengan warna yang sama. Saya dapat membayangkan para sultan Utsmani duduk diatasnya sementara utusan dari negeri asing membungkuk memberi hormat.

Searah dengan pintu masuk balairung terpampang sebuah kaligrafi Arab yang berisi pujian terhadap Allah. Zeki menjelaskan tulisan tersebut sengaja dipasang di atas gerbang agar tiap kali sultan keluar balairung ia akan teringat akan kebesaran Allah. Teringat bahwa kekuasaan dan kejayaan yang ia dapatkan semua berasal dari Allah.

Tujuan berikutnya adalah museum. Sama halnya dengan balairung, museum juga dijaga oleh seorang petugas bertubuh besar dan bertampang galak. Bedanya bila di balairung tidak ada antrean pengunjung maka disini si petugas harus berteriak menyuruh para jamaah untuk terus berjalan dan tidak terlalu lama berfoto ria di dekat etalase-etalase yang menyimpan pedang rasulullah dan beberapa sahabat seperti Abu Bakar As-Shidiq, Ali bin Abi Thalib, serta Amr bin Yasir. Mantel putih yang pernah beliau kenakan juga turut dipajang di atas papan beralas kain warna hitam. Ada pula potongan kayu yang konon merupakan sisa dari pintu ijabah (Maksudnya mungkin pintu multazam di Ka’bah, wallahu a’lam), gigi dan rambut rasul yang disimpan dalam tabung kecil keemasan, serta bekas talang air yang dipajang di atas Ka’bah.

Di tempat yang satu ini kita tidak dapat berlama-lama karena si penjaga terus melirik dan menggiring sebagaimana gembala menggiring ternaknya. Mendekati cikis atau pintu keluar saya mendengar lantunan ayat Al-Qur’an yang demikian merdu. Makhrojnya (pembacaan huruf) demikian pas dan suaranya demikian jernih. “Bagus sekali speakernya.” Gumam saya dalam hati.

“Ih kirain rekaman.” Dokter Keiko berteriak heboh seraya memegang kedua pipinya.

Saya dan para jamaah lain pun menengok ke arah dokter Keiko dan ternyata kami pun sama terkejutnya ketika melihat apa yang ada di hadapan kami. Seorang ustadz berusia lima puluhan tengah duduk di sebuah meja yang bersebelahan dengan pintu keluar. Surban putih melilit kopiah merahnya sementara sepasang matanya terus tertuju pada mushaf Al-Qur’an. Ia seolah telah terbiasa dengan kehadiran banyak orang serta keterkejutan mereka. Ia terus melantunkan bacaan Al-Qur’an melalui sebuah mikrofon kecil warna hitam; sekali lagi suara indahnya pun bergaung memenuhi ruangan.

topkapi1.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

“Tradisi ini sudah berlangsung semenjak zaman dulu.” Terang Zeki, “tepatnya sejak  peninggalan-peninggalan tadi dipindahkan dari Mesir.”

Saya membayangkan telah berapa orang ustadz yang ditugaskan oleh para Sultan Utsmani untuk melantunkan ayat-ayat suci di tempat ini. Apabila peninggalan-peninggalan ini pindah dari Mesir sejak zaman Sultan Selim menaklukan negeri itu tahun 1517 M, maka telah lima abad tradisi ini terus berlangsung. Ma sya’ Allah.Sebelum meninggalkan Topkapi Saray kami berkeliling sejenak di sisi istana yang menghadap Selat Bosporus. Angin musim dingin bertiup seolah hendak membuat kami rontok seperti pepohonan yang berdiri tegak diatas rerumputan. Saya dan sebagian jamaah sibuk berfoto ria sementara sebagian yang lain memandang kapal-kapal tanker yang berlayar pelan di atas air. Tinggi di atas permukaan laut, Topkapi Saray juga memberi kami keleluasaan untuk menengok rel kereta yang sama tuanya dengan tembok kota. Keduanya kini tak lagi berfungsi sementara mobil-mobil melintas tak acuh antara rel kereta dan sisi selat.

Puas memandangi Bosporus kami pun meninggalkan Topkapi Saray melewati dapur istana yang memiliki banyak pilar yang disambungkan oleh lengkungan-lengkungan warna putih. Atap dapur yang berwarna abu-abu mirip sekali dengan alat penyedot asap yang biasa digantung di atas kompor-kompor restoran. Disinilah dulu para sultan Utsmani membayar gaji para Yeni Ceri kemudian mengajak mereka makan melalui piring-piring bulat besar. Satu piring cukup untuk empat orang dan para sultan memiliki banyak piring untuk pasukan elitnya yang berlatar belakang Kroasia, Serbia, Bulgaria, Albania, dan bangsa-bangsa Eropa lainnya.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s