Istanbul: Makam Abu Ayyub al-Anshari

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

eyup1.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.
Berjalan 15 menit melewati reruntuhan tembok kota wana putih kemerahan, bus putih kami berhenti di sebuah lapangan parkir beralas konblok abu-abu. Dari kaca depan nampak gundukan tanah tinggi yang ditutupi pagar hijau. Di baliknya terdapat nisan-nisan batu warna abu-abu dan pohon-pohon besar yang seolah menaungi. “Bapak ibu sekalian, kita sudah sampai di makam Eyup Sultan.” Terang Zeki sebelum pintu bus terbuka diiringi bunyi desis, “Deeessshhh.”

Seolah hendak menyambut kami, matahari yang sedari tadi malu-malu kini menampakkan keperkasaan. Terbit lebih tinggi lagi dan memancarkan kehangatan pada tubuh yang sedari tadi dibalut dinginnya pagi Istanbul. Seorang pria tua berjanggut putih dan berkupluk biru tampak mendorong gerobak yang dipenuhi roti bulat berwarna coklat. “Marhaba (apa kabar)? Simit?” tanyanya.

Saya memandang kagum ke arah tumpukan roti coklat berlapis wijen yang tengahnya bolong itu. Simit tampak seperti donat besar namun rasanya jelas berbeda. Lebih alot daripada donat, simit biasa disantap menggunakan lapisan selai diatasnya. Menyantap satu buah simit seharga dua Lira boleh jadi mengenyangkan perut kita.

Setelah semua jamaah berkumpul Zeki pun memandu kami menuju pintu masuk makam Eyup Sultan. Melewati jalan setapak yang diapit dua bukit kuburan yang lebih tinggi dari ukuran orang dewasa, saya dapat merasakan betapa tuanya jajaran batu abu-abu kehijauan yang kami pijak. Dari celah pagar hijau muncul kucing-kucing gendut yang lucu. Ada yang berbulu kuning, hitam, atau abu-abu. Semuanya mengeong ketika kami lewat dan segera menjadi manja saat dipanggil. Tampaknya kucing-kucing ini diberi makan oleh para peziarah, buktinya bekas sobekan simit betebaran disekitar tembok.

“Ih kucing dikasih sosis.” Teriak Farel. Merasa penasaran, saya pun menoleh kearahnya. Ternyata Farel dan kedua adik sepupunya, -Audrey dan Rayhan- tengah menonton seorang kakek Turki berjanggut putih tengah memberi beberapa buah sosis warna merah jambu pada seekor kucing gendut abu-abu. “Eeoooonnnggg,” kata si kucing sambil menyambar sosis dari tangan sang kakek.

Kami pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah gerbang kecil yang memisahkan areal makam dengan sebuah lapangan kecil yang di tengah-tengahnya berdiri gagah sebuah pohon beringin raksasa. Pohon besar ini seolah memisahkan masjid dan makam Eyup Sultan yang berdiri berhadap-hadapan.

“Essalam alaekum,” seorang kakek turki bertubuh mungil menyapa saya.

“Alaikumus salaam.” Jawab saya sambil menjabat tangannya erat.

Muncul kakek yang lain, kali ini saya yang memulai salam, “Assalamualaikum.”

Ia segera berhenti lalu menatap saya dengan mata berbinar. Kumis abu-abunya ikut bergerak ketika mulutnya terbuka, “Alaeikum selaam.” Jawabnya dengan nada penuh bangga, seperti seorang rakyat jelata bersalaman dengan gubernur.

Memang demikianlah orang Turki. 99% dari mereka adalah muslim, baik yang sekuler maupun agamis. Zeki pernah bercerita pada saya bahwa hampir tidak ada orang Turki yang beragama Kristen. Kalaupun ada maka hal itu amat mengherankan. “Yang ada Kristian hanya orang-orang asing.”

Orang-orang Turki yang sekuler hampir tidak pernah sholat atau menjalankan syariat Islam namun mereka bangga dengan agamanya. Hampir miriplah dengan keadaan di Indonesia, namun kita boleh berbangga karena jumlah muslim yang sholat (terutama berjamaah di masjid) di negeri kita lebih banyak. Adapun orang-orang Turki yang agamis memancarkan semangat keislaman yang luar biasa. Ucapan, “Selam alaekum.” Biasa terlontar dari lisan kelompok satu ini apabila berjumpa dengan kami, orang asing yang agamanya sama dengan mereka. Mereka juga biasanya mengenakan pakaian yang lebih santun dan lebih menutup aurat. Kaum wanita Turki yang agamis juga mengenakan pakaian yang lebih longgar dan membungkus rambut indah mereka –entah pirang, coklat, atau hitam- dengan jilbab. Mereka tampak anggun dengan busana syar’i yang disandingkan dengan berbagai motif sepatu boot yang luar biasa sedap dipandang mata.

Kami pun dibawa Zeki ke pintu masuk makam Eyup Sultan. Tokoh satu ini tak lain dari salah seorang sahabat rasulullah dari kalangan anshar. Rumahnya mendapat kehormatan sebagai tempat tinggal pertama rasulullah saat beliau hijrah ke Madinah. Bernama Khalid bin Zaid bin Kulayb, sahabat satu ini lebih dikenal dengan kun’yah atau nama panggilannya yaitu Abu Ayyub Al-Anshari. Dalam rentang waktu antara 674-678 M, Abu Ayyub ikut serta dalam pengepungan Constantinople yang dipimpin Yazid bin Muawiyah. Disanalah beliau sakit kemudian wafat. Sebelum wafat, Abu Ayyub berwasiat agar ia dikuburkan di sebuah tempat yang paling dekat dengan kota Constantinople. Maka wasiatnya pun dijalankan dan ia dikubur di areal yang kini menjadi Distrik Eyup. Seiring berjalannya waktu, orang-orang Yunani Kristen mendengar kabar tentang makam sahabat ini dan tidak sedikit dari mereka yang kemudian menjadikannya salah satu tempat suci. Ketika bangsa Turki mulai mengokohkan pengaruh mereka di Anatolia, mereka juga sering berziarah ke makam Abu Ayub.

Untuk memasuki mouseleum berdinding putih kehijauan ini kita harus melepas alas kaki kemudian melewati sebuah pintu kecil. Memasuki ruangan berlapis karpet merah dan berhiasan dinding motif bunga-bunga dan kaligrafi; para peziarah terpecah menjadi dua kelompok yang saling mengerubungi dua ruang berlapis kaca. Di sisi kiri terdapat ruang besar yang memiliki dua jendela berteralis. Di dalamnya terdapat sebuah bangunan batu berlapis kain hijau yang merupakan makam Abu Ayyub. Di sisi kanan ruangan terdapat sebuah etalase yang menempel pada tembok. Orang-orang berkerumun disekelilingnya untuk memotret beberapa peninggalan Abu Ayyub yang disimpan dalam pigura dan tabung kaca.

Puas melihat-lihat serta mendoakan sahabat agung tersebut, saya pun keluar. Ternyata Nek Sri dan eyang Uti, dua dari delapan orang anggota keluarga Pak Nugie tengah duduk di lantai marmer masjid. “Sudah masuk nek?” tanya saya.

“Sudah. Ini lagi nunggu yang lain.” Kata Nek Sri.

“Saya masuk ke masjid dulu ya nek.”

“Iya.”

Saya pun membuka pintu masuk masjid yang terbuat dari kain tebal berwarna coklat. Dibutuhkan tenaga untuk menggesernya, karena kain itu demikian besar dan tebal. Saya merasa bukan kain yang digeser melainkan kayu.

Interior masjid didominasi warna merah karpet yang berpadu dengan puluhan cahaya kuning yang berasal dari kandil yang menggantung di plafon. Seorang petugas tengah membersihkan karpet menggunakan vacum cleaner sementara beberapa orang pria dewasa tengah melaksanakan sholat. Saya sendiri tidak yakin untuk sholat karena teringat beberapa hadits nabi tentang larangan menjadikan kuburan sebagai masjid.[1][2][3]

[1] عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Dari Jundab, dia berkata: Lima hari sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku mendengar beliau bersabda: “Aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku memiliki kekasih di antara kamu. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasihNya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim menjadi kekasihNya (QS. 4:125-pen). Jika aku menjadikan kekasih di antara umatku, pastilah aku telah menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu telah menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid-masjid! Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu!” Shahih. HR. Muslim (no.532)

[2] عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا اشْتَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَتْ بَعْضُ نِسَائِهِ كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ وَكَانَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتَتَا أَرْضَ الْحَبَشَةِ فَذَكَرَتَا مِنْ حُسْنِهَا وَتَصَاوِيرَ فِيهَا فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ صَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّورَةَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

Dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhoinya-, dia berkata: “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sebagian istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah, yang dinamakan Gereja Mariyah. Dahulu Ummu Salamah dan Ummu Habibah –semoga Allah meridhoi keduanya- pernah mendatangi negeri Habasyah. Keduanya menyebutkan tentang keindahannya dan patung-patung/gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya, lalu bersabda: “Mereka itu, jika ada seorang yang sholih di antara mereka mati, mereka membangun masjid di atas kuburnya, kemudian membuat patung/gambar orang sholih itu di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk manusia di sisi Allah. Shahih. HR. Bukhari (no. 1341) dan Muslim (no. 528).

[3] أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

Dari ‘Aisyah dan Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridhoi mereka- mengatakan: “Ketika kematian datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau mulai meletakkan kain wol bergaris-garis pada wajah beliau, sewaktu beliau susah bernafas karenanya, beliau membukanya dari wajahnya, ketika dalam keadaan demikian, lalu beliau mengatakan: “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashoro, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”. Beliau memperingatkan apa yang telah mereka lakukan. Shahih. HR. Bukhari (no. 435, 436), dan Muslim (no. 531).

Waktu berkunjung pun berakhir dan Zeki mengumpulkan kami di bawah pohon beringin yang menjadi meeting point. Setelah puas berziarah sekaligus mengabadikan burung-burung merpati a abu-abu yang terbang mengitari air mancur kecil, kami pun kembali ke bus. Di tengah jalan Dr. Keiko menghampiri saya dan bertanya dengan suara pelan, “Gimana sih hukumnya berdoa disini?”

Saya diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dokter muda yang terlihat sangat easy going di balik long john hitam dan jaket merahnya. “Kalau untuk mendoakan ahli kubur tidak masalah karena rasulullah pernah menganjurkan umatnya berziarah kubur untuk mengingat kematian.”

Ia mengangguk.

“Tapi kalau berdoa dalam artian meminta pada mayit agar dikabulkan doa-doanya, jelas ini haram dan bagian dari kemusyrikan.”

Ia terdiam sebentar. Mata bundarnya tampak menerawang ke nisan besar di atas bukit. Beberapa detik kemudian ia pun mengangguk lagi. (tanpa saya sadari ternyata beberapa jamaah lain turut menyimak).

English

Latin

 

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s