Istanbul: Tiba di Hotel

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

bus 2.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

Bus kami berjalan menyusuri Istanbul. Masih dua jam lagi hingga datangnya waktu subuh sementara berdiam diri di Bandara Internasional Ataturk tidak menghasilkan apapun kecuali masuk angin. Itulah sebabnya guide kami memutuskan untuk segera berangkat ke hotel untuk sarapan. “Lebih tepatnya sahur.” Gumam saya dalam hati.

“Baik bapak ibu, selamat datang di Istanbul. Nama saya Zeki, saya akan memandu anda, ah…” Zeki berhenti sebentar untuk mencari kalimat yang tepat, “Selama 2 malam tiga hari disini.”

Saya dan para jamaah serius menyimak uraian Zeki. Sebagian karena membutuhkan informasi mendalam mengenai Istanbul dan sebagian lagi karena takjub dengan cara Zeki berbahasa Indonesia.

“Kita ada disini,” sambung Zeki serya menunjuk sebuah titik di peta kota Istanbul yang tergantung di bagian depan bus. “Nanti kita akan, ah…berjalan-jalan ya, di Istanbul. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah, ah… seperti…” ia melirik ke arah run down acara di tangan kirinya, sementara tangan kanan mengenggam erat mikrofon, “Hagia Sofia, Mesjit Sultan Ahmet, juga, ah…Grand Bazar dan Bosporus Cruise.”

Zeki terus bercerita sementara para jamaah mulai menjepret pemandangan Istanbul yang masih didominasi gedung-gedung modern. Belum nampak tanda-tanda bangunan bersejarah seperti bekas tembok kota dan Museum Hagia Sofia.

bus 3.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

Sementara Zeki terus bercerita tentang sejarah Istanbul, khayalan saya terbang ke beberapa abad yang telah lama berlalu. Bagaikan karakter game Asassin Creed yang dapat kembali ke abad sebelumnya melalui sebuah mesin, saya pun seolah-olah berada di sebuah dunia lain yang sama sekali asing.

Berdiri di hadapan sebuah tembok raksasa yang tengah dipugar, saya melihat sosok pria berkulit putih dan bermata bulat. Wajahnya begitu tenang namun sorot matanya memancarkan suatu harapan. Saya berjalan menuju sisinya dan segera mengenali siapa sosok tersebut. Ia adalah Constantine I, Kaisar Romawi yang memugar kota kecil Byzantion menjadi metropolitan bernama Nova Roma. “Hmm, jadi aku berada di suatu waktu pada tahun 324 M.”

Selain menemani Constantine mengawasi pembangunan, pandangan mata saya pun beralih pada tukang-tukang yang sibuk memugar tembok kota sementara gerobak-gerobak yang ditarik sapi hilir mudik mengangkut material seperti pasir dan batu bata. Di sisi lain kota tampak kapal-kapal dagang dengan layar tunggal atau dua berjalan pelan menuju kota. Boleh jadi di dalamnya terdapat banyak komoditas seperti sutra, rempah-rempah, jagung, atau persenjataan.

Tidak mengherankan bila Constantine dianggap kaisar yang luar biasa. Visinya terhadap kota kecil ini merupakan pikiran cemerlang yang tiada tara. Menyulap kota ini menjadi pusat pemerintahan Kekaisaran Romawi merupakan hal yang amat tepat mengingat letaknya yang berada diantara Asia dan Eropa. Dari sini pasukan maupun diplomat mudah untuk dikirim ke berbagai provinsi Romawi seperti Syiria, Mesir, Balkan, atau perbatasan Jermania. Hal yang demikian tidak dimiliki oleh kota Roma. Di ibu kota baru ini pula sang kaisar dapat memerintah dengan tenang tanpa mengkhawatirkan intrik politik yang mewarnai kehidupan Roma. Constantine pun dielu-elukan juga dikenang. Ketika wafat, Nova Roma pun diberi nama lain yaitu Constantinople atau Kotanya Constantine.

Tiba-tiba sosok Constantine berubah menjadi butiran pasir yang tertiup angin. Demikian pula pemandangan para tukang yang tengah memugar tembok kota. Gelap sejenak, teriakan wanita dan anak-anak pun mendominasi. Teriakan garang para pria dan suara orang mengerang kesakitan pun menyusul. Seberkas cahaya muncul dari balik kegelapan hingga mata pun dapat melihat apa yang gerangan terjadi.

Di sekeliling saya tampak pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh para prajurit yang mengenakan tanda salib di dada mereka. Rumah-rumah dibakar atau dijarah sementara sebagian wanita meronta-ronta di atas pundak prajurit-prajurit bercelana pendek yang tertawa terkekeh-kekeh. Saya naik ke tembok kota untuk melihat pemandangan laut yang ternyata dipenuhi kapal-kapal layar berbendera singa bersayap. “Venezia.” Gumam saya seraya menyadari bahwa peristiwa yang nampak dihadapan ini adalah penjarahan Constantinople oleh gabungan tentara salib dan Venezia bulan April 1204 M.

Sebuah bendera merah marun berlambang elang berkepala dua jatuh dari menara benteng sementara singa Venezia dan berbagai lambang salib berkibar. Kota telah jatuh ke tangan orang-orang Kristen dari barat dan sebuah era baru yang dikenal dengan nama Kekaisaran Latin pun dimulai. Penjarahan dan pengrusakan oleh sesama Kristen inilah yang kemudian membekas selama berabad-abad dalam jiwa umat Kristen Orthodox hingga sebagian dari mereka kelak lebih senang Constantinople dikuasai muslim Turki daripada Kristen Eropa Barat. Bahkan Lukas Notaras, gubernur terakhir kota ini dengan terang-terangan memuntahkan kebenciannya di hadapan Giovanni Giustianiani, pemimpin pasukan Katolik yang datang untuk membantu mempertahankan kota, “Lebih baik melihat surban Turki di Constantinople daripada topi orang Latin.”

Sekali lagi pemandangan berubah. Kali ini terdengar sebuah dentuman yang amat keras seolah petir besar tengah menyambar sebuah rumah hingga hancur berkeping-keping. Rupanya sebuah bola besi seukuran pria dewasa melesat dari moncong meriam menuju tembok keputihan Constantinople. Begitu benturan terjadi tembok pun rontok sementara orang-orang yang berada di atasnya bertaburan di udara sebelum mendarat di tanah dengan bunyi “Krak” yang menandakan adanya tulang-tulang yang patah.

“Allah Eckbar.” Terdengar kumandang takbir dari arah datangnya meriam yang diikuti ratusan, oh tidak, ribuan pria bersenjata yang berlari kencang menuju tembok yang bobol. Mereka terus memekikan takbir seraya memutar-mutar pedang mereka di udara. Pasukan berkudalah yang pertama kali mendekati tembok untuk melempar lembing-lembing ke arah prajurit Romawi yang berada disana.

Saya pun terbawa euforia, mengambil sebuah pedang dari salah satu prajurit yang gugur tertembak anak panah, kemudian bersama pasukan infanteri masuk ke dalam tembok kota. Begitu mendekati pasukan Romawi yang coba menghadang, kami pun segera terlibat perang satu lawan satu yang luar biasa mendebarkan. Gemerencing pedang beradu, suara orang sekarat, aba-aba dari komandan yang tak didengar lagi, semuanya mewarnai pagi hari itu.

Di tengah ributnya pertempuran saya masih dapat mendengar alunan musik yang berasal dari seruling, tambur, dan simbal. Saya menduga pasti para mehter tengah memainkan lagu penyemangat pertempuran. Ya, para mehter merupakan korps musik pasukan Utsmani yang dianggap sebagai korps musik militer pertama di dunia. Tiada lain tiada bukan saya tengah berada di hari Selasa tanggal 29 Mei 1453 M. Hari dimana Constantinople berpindah tangan dari Kekaisaran Romawi Timur kepada Kesultanan Turki Utsmaniyah. Pada periode inilah nama Constantinople kelak akan diubah menjadi Istanbul.

Para prajurit memekik kegirangan sementara yang lain meneriakan takbir, “Allah Eckbar.” Saya menoleh kearah datangnya teriakan-teriakan tadi. Rupanya para prajurit tengah menyaksikan Hasan Ulubati, salah seorang anggota Yeni Ceri atau pasukan elit Turki Utsmani, yang tengah menjatuhkan bendera elang berkepala dua dari atas menara jaga. Ia kemudian menancapkan bendera merah Utsmani untuk menandakan bahwa tembok dan menara tersebut telah dikuasai pasukan Utsmani. Kami semua bertakbir dan kembali menyerbu musuh dengan kekuatan yang lebih hebat.

Setelah bersusah-payah melewati tumpukan mayat saya pun tiba di menara tempat Hasan berada. ia tampak demikian letih sementara tangannya tetap mengenggam bendera. Beberapa Yeni Ceri bertopi putih dan berseragam merah tampak mengelilingi Hasan yang matanya tampak kehilangan sinar. Dari kejauhan, tampak seorang pria menunggangi kuda putih tengah menatap ke arah tempat kami berada. Ia adalah Muhammad bin Murad, seorang sultan muda berusia 21 tahun yang berhasil menaklukan Constantinople. Keberhasilan menaklukan ibukota terakhir Kekaisaran Romawi inilah yang membuatnya digelari Fetih atau Pembuka. Kini ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad Al-Fatih atau Fetih Mehmet.

bus 1.JPG
Image: Ryan Mayer’s document.

Alhamdulillah perut sudah bisa diajak damai. Begitu pula pegal-pegal dan rasa kantuk yang sedari tadi merongrong. Keduanya bersedia melepaskan saya setelah diperkenalkan pada bangku yang empuk, ruang makan yang hangat dan tertata rapi, serta dinginnya air kota Istanbul. Saya bangkit dari meja untuk menuju ruang shalat yang telah dijanjikan Zeki namun langkah saya dihadang oleh seorang nenek kecil yang tersenyum dari balik mata sipitnya.

Ia mengucapkan kata-kata yang tidak saya pahami sedikit pun. Bahasa tubuh dan gerak tangannya pun justru membuat saya semakin keheranan. Saya panggil seorang pelayan muda yang saat itu berada tak jauh. Pemuda pirang itu pun bertanya pada si nenek dalam bahasa Inggris namun hasilnya sia-sia. Ia bahkan tampak lebih kebingungan dari saya dan memutuskan untuk segera angkat kaki.

Kini tinggalah saya dengan si nenek yang jelas-jelas etnis Cina. Mata saya pun mengarah pada seisi ruangan dimana turis dengan ciri fisik yang sama dengan si nenek duduk dimana-mana. Herannya tidak ada yang memperhatikan nenek ini, atau mereka memang beralagak tidak memperhatikan? Lucunya lagi nenek ini kok ngotot bertanya pada saya? Atau jangan-jangan ia mengenali saya sebagai seorang Cina? Jarang lho ada Cina yang mengenali saya sebagai sesama.

Wajah putus asa nampak betul di wajah keriput si nenek, namun sejenak kemudian secercah senyum kembali muncul dan kali ini ia berbicara pada saya dengan lancar. Tentunya dengan bahasa Cina yang tak saya pahami. Saya hanya tersenyum mendengarkan hingga datanglah salah seorang pemuda Cina yang mengucapkan sepatah dua patah kata padanya. Si nenek pun pamit dan menuju tempat air mineral berada.

Kini tak ada lagi nenek-nenek yang memisahkan saya dengan lift. Zeki tampak tengah menggiring sekelompok jamaah ke dalam lift. Ia akan membawa mereka ke sebuah kamar di lantai 13 tempat kami melaksanakan sholat subuh. Pintu lift pun tertutup dan lampu kuning berkedip menandai lantai-lantai yang tengah dilewati lift.

Saya menunggu disana hingga datang rombongan jamaah lainnya. “Sudah makan pak?” tanya mereka.

“Alhamdulillah sudah. Bapak ibu sudah makan?”

Mereka mengangguk. Tak lama kemudian terdengar bunyi “Ting” dan pintu lift terbuka. Bagai kondektur bus di Jakarta, Zeki segera keluar untuk memanggil ‘calon penumpang’. “Ayo bapak ibu, kemari. Kita sholat di lantai tiga belas.”

Pekik takbir menghilang bersama tembok Constantinople dan para Yeni Ceri. Wajah lancip Mehmet juga berubah menjadi wajah sendu Zeki. “Baik bapak ibu, kita telah sampai di hotel. Kita makan dulu, ah… setelah itu baru sholat yah.”

 

Ruang sholat kami adalah sebuah kamar suite yang terbagi menjadi dua ruangan. Diantaranya terdapat sebuah kamar mandi. Jamaah wanita menempati kamar yang agak ke dalam sementara saya dan para pria di kamar depan. Total rombongan kami adalah 8 pria dan 12 wanita.

Di ruang kecil inilah kelima keluarga yang tadinya masih malu-malu melebur menjadi satu. Dihadapkan pada masalah yang sama, yaitu tidak mengetahui arah kiblat, kami pun sibuk membuka handphone dan mengaktifkan kompas. “Ka’bah ada dimana kalau dari sini pak?” tanya pria kekar bertopi hitam bernama Nugie.

“Mekkah ada di tenggara Istanbul.” Jelas saya.

Ternyata jarum pada masing-masing kompas menunjukkan arah yang sama. Arah tenggara berada di jendela besar yang menyajikan pemandangan natal di Istanbul. Tidak ada gegap gempita atau orang-orang yang pergi ke gereja. Natal di Istanbul tidak beda dengan hari-hari lainnya.

Seorang remaja bernama Farel mengumandangkan adzan. Berbadan gempal dan berambut jabrik, keponakan Pak Nugie ini kelak akan menjadi semacam tangan kanan saya selama program umroh berlangsung. “Allah Akbar… Allah Akbar.”

Begitu kumandang adzan selesai kami pun berdoa lalu Pak Nugie mengumandangkan iqamah sambil memperbaiki posisi sajadah. Farel yang cerdas pun mengkritik perbuatan pamannya, “Lho qomat kok sambil benerin sajadah? Gak sah tuh. Ulangi qomatnya!”

Pak Nugie tetap tak bergeming dan menyelesaikan iqamah. Namun rasa malu tampak benar di wajahnya yang dihiasi bekas cukuran janggut.

Selesai sholat berjamaah ada yang berbeda dengan grup kami. Kini masing-masing anggota keluarga yang berbeda sudah saling membantu melipat sajadah-sajadah dan menggeser sofa ketempatnya semula. Obrolan antar keluarga pun bertambah intensif bahkan para ibu sudah mulai menunggu kawannya dari keluarga lain.

“Alhamdulillah.” Ucap saya dalam hati. Satu hal yang amat dinanti oleh seorang tour leader adalah meleburnya jamaah menjadi satu-kesatuan yang kompak. Dan saya pun kini mendapati apa yang saya harapkan.

English

Latin

 

 

 

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s