Istanbul: Kedatangan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

سَمِعْتُمْ بِمَدِينَةٍ جَانِبٌ مِنْهَا فِـي الْبَرِّ وَجَانِبٌ مِنْهَا فِي الْبَحْرِ؟ قَالُوا: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَغْزُوَهَا سَبْعُونَ أَلْفًا مِنْ بَنِي إِسْحَاقَ، فَإِذَا جَاءُوهَا نَزَلُوا، فَلَمْ يُقَاتِلُوا بِسِلاَحٍ وَلَمْ يَرْمُوا بِسَهْمٍ، قَالُوا: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، فَيَسْقُطُ أَحَدُ جَانِبَيْهَا -قَالَ ثَوْرٌ( أَحَدَ رُوَاةِ الْحَدِيْثِ) لاَ أَعْلَمُهُ إِلاَّ قَالَ:- الَّذِي فِي الْبَحْرِ، ثُمَّ يَقُولُوا الثَّانِيَةَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، فَيَسْقُطُ جَانِبُهَا اْلآخَرُ، ثُمَّ يَقُولُوا: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، فَيُفَرَّجُ لَهُمْ، فَيَدْخُلُوهَا، فَيَغْنَمُوا، فَبَيْنَمَا هُمْ يَقْتَسِمُونَ الْغَنَائِمَ، إِذْ جَاءَ هُمُ الصَّرِيخُ، فَقَالَ: إِنَّ الدَّجَّالَ قَدْ خَرَجَ، فَيَتْرُكُونَ كُلَّ شَيْءٍ وَيَرْجِعُونَ.

Pernahkah kalian mendengar satu kota yang satu sisinya ada di daratan sementara satu sisi (lain) ada di lautan?” Mereka menjawab, “Kami pernah mendengarnya, wahai Rasulullah!” Beliau berkata, “Tidak akan tiba hari Kiamat sehingga 70.000 dari keturunan Nabi Ishaq menyerangnya (kota tersebut), ketika mereka (bani Ishaq) mendatanginya, maka mereka turun. Mereka tidak berperang dengan senjata, tidak pula melemparkan satu panah pun, mereka mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,’ maka salah satu sisinya jatuh (ke tangan kaum muslimin) -Tsaur [2] (salah seorang perawi hadits) berkata, “Aku tidak mengetahuinya kecuali beliau berkata, ‘Yang ada di lautan.’” Kemudian mereka mengucapkan untuk kedua kalinya, ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,’ akhirnya salah satu sisi lainnya jatuh (ke tangan kaum muslimin). Lalu mereka mengucapkan untuk ketiga kalinya: ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,’ lalu diberikan kelapangan kepada mereka. Mereka masuk ke dalamnya dan mendapatkan harta rampasan perang, ketika mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan perang, tiba-tiba saja datang orang yang berteriak meminta tolong, dia berkata, “Sesungguhnya Dajjal telah keluar,’ lalu mereka meninggalkan segala sesuatu dan kembali.’”[1]

Setelah mengarungi udara selama 12 jam, kami pun berpisah dengan gelapnya malam. Awan-awan putih yang sedari tadi setia menemani kelap-kelip lampu kecil di sayap sirna berganti pemandangan baru yang lebih nyata. Ribuan cahaya kuning muncul di bawah bagai jutaan api unggun di tengah tanah lapang raksasa. Semakin lama cahaya-cahaya tadi menampakkan apa yang sedari tadi disembunyikannya. Gedung-gedung, mobil-mobil berukuran mikro yang bergerak menyusuri kelok-kelok jalan, serta kapal-kapal laut yang entah berangkat dari mana dan hendak kemana. Kesemuanya itu mengarah pada satu kesimpulan. Kami telah tiba di Istanbul.

Rem pada sayap mulai bekerja sementara pesawat kami merendahkan terbangnya. Rasa geli campur mual mulai menari-nari di perut. Pramugari pirang duduk dengan tenang menghadap penumpang. Bibirnya tetap tersenyum namun matanya bekerja bak kamera pengawas. Bola mata birunya seolah mengatakan, “Kita tengah landing jadi jangan satupun dari kalian berani meninggalkan bangku!”

Roda pesawat menyentuh daratan dan pesawat mulai menyembul diikuti bunyi terpaan angin yang amat bising, “Bwuuuuussssshhhhh….”. Kami berjalan di darat dengan kecepatan yang mungkin setara dengan motor balap. Demikian kencang hingga seisi pesawat menjadi hening tanpa komando. Semua wajah menghadap ke depan tanpa banyak gerak seolah tengah menghitung berapa lama lagi pesawat akan benar-benar berhenti. Ketika ia benar berhenti maka dari sana-sini terdengar suara “Klik” tanda dilepasnya tali pengaman penumpang. Kepala kabin berseru melalui mikrofon bahwa para penumpang belum diizinkan untuk melepas tali pengaman namun tiada yang menghiraukannya. Rupanya semua orang ingin segera turun dari pesawat. Semakin banyak lagi bunyi “Klik” terdengar.

Kami berjalan menyururi gang pesawat yang dihiasi karpet marun. Rombongan jamaah dengan koper atau ransel semuanya melangkah menuju arah yang sama. Di kiri dan kanan berdiri para awak kabin pria dan wanita. Para pria mengenakan jas biru tua dan kemeja putih sementara yang wanita kemeja putih berlapis gaun biru sepaha yang menutupi celana panjang. Wajah-wajah putih dengan bola mata hijau, biru, atau coklat itu tersenyum seraya mengucapkan “Thank you.”

Pramugari terakhir yang kami lewati adalah seorang wanita langsing berambut pirang. Dari wajahnya tampak kalau ia berusia empat puluhan, namun pakaian yang sopan, pelayanan yang prima, dan karakter yang tenang seolah mengatakan ia sosok yang lebih muda lagi. Di sebelahnya pintu masuk pesawat telah dibuka dan kami pun akhirnya menginjakkan kaki di Istanbul.

Angin dingin segera menyerang tanpa ampun ketika kami meninggalkan pesawat. Dalam sekejap tubuh, kepala, bahkan kaki saya yang terbungkus sepatu dikepung ganasnya suhu 0 derajat celcius. Hembusan angin putih keluar dari mulut menemani kalimat, “Ayo bapak ibu sekalian.”

Tujuan pertama kami adalah toilet. Tempat sebagian orang memerdekakan diri dari keinginan untuk buang air kecil; dan sebagian yang lain berganti pakaian. Sepasang petugas cleaning service berbaju oranye berdiri di samping pintu masuk toilet seolah pemandu wisata yang baru kali pertama bertemu kliennya. Yang pria tampak berusia empat puluhan dengan wajah mirip George Clooney. Adapun yang wanita lebih menawan lagi, tampak seperti Ayu Azhari mengenakan hijab bermotif bunga-bunga. Dalam hati saya bergumam, “Kalau di Indonesia mungkin mereka jadi artis sinetron.”

ataturk
Image: Dokumen Ryan Mayer.

Dari tempat yang sunyi, toilet dan areal sekitarnya menjelma menjadi kamar ganti berukuran besar. Dimana-mana kaum pria mengenakan jaket, sarung tangan, dan topi kupluk; sementara para wanita tidak bisa seleluasa itu. Mereka harus mengantri di toilet. Peci-peci mulai sirna dan kupluk aneka warna pun membalut kepala para pria yang antusias berfoto ria, “Kita di Istanbul nih.”

Saya berdiri diantara counter imigrasi dan taman kecil berhias rumah-rumahan yang menjadi areal idaman bagi penggemar fotografi. Beberapa orang jamaah saya juga turut mengabadikan momen sementara dua orang terakhir masih mengantre pemeriksaan paspor.

“Tadi dia nanya mana visa Turkinya,” ujar Bu Erni dalam logat Minang yang kental. Ibu muda berpenampilan borjuis ini rupanya lupa bahwa visanya terpampang pada lembaran kertas putih di dalam paspor.

“Ini bu.” Ujar saya seraya menunjuk kertas putih tadi.

Ia kaget antara malu dan geli, “Ya ampun, saya pikir ada dimana. Pantesan dia juga kebingungan.” Lanjutnya seraya menoleh ke arah wanita berseragam iru yang menjaga counter.

Kini saya dan Bu Erni serta ibunya yang akrab dipanggil Nek Ema berjalan menuju tempat jamaah lain berkumpul. Rupanya koper-koper kami telah diangkut ke dalam troli oleh dua orang yang berjas abu-abu gelap yang saya pikir anggota FBI; ternyata mereka adalah porter. Wajar saya kalau dugaan saya salah, tubuh mereka ramping dan kekar sementara wajah keduanya tampan dan macho. Jauh dari penampilan seorang porter pada umumnya.

Di sebelah kedua porter tadi berdiri seorang pria berusia empat puluhan yang mengenakan sweater warna pink. Mata sayu dan kesan murung menghiasi wajahnya yang putih kemerahan. Rambut coklatnya pun dihiasi putih-putih uban yang tumbuh tak disana-sini. Ia adalah guide lokal kami.

“Bapak ibu sekalian,” katanya dengan meninggikan nada pada kata ‘an’. “Kita akan menuju hotel untuk sarapan. Ah.. lalu setelah itu bapak ibu sholat disana yah.” Bahasa Indonesianya sangat bagus dan mudah dimengerti meski terdapat logat Turki yang kental dalam cara pengucapannya. “Ayo.”

Kami pun mengikuti sang guide menuju halaman bandara tempat bus putih yang dilengkapi wifi menanti. Para porter sibuk memasukan koper ke dalam bagasi sementara supir kami merokok dengan tenang di samping pintu masuk bus. Bertubuh kecil dan ramping, supir kami tampak necis dengan rambut coklat yang disisir ke belakang ala mafia serta kumis dengan warna yang sama.

Jamaah telah masuk ke dalam bus dan pintu-pintu bagasi pun telah dibanting. Saya memanjat tangga bus tepat ke arah Pak Rudi yang menghangatkan dinginnya pagi dengan sebuah komplain, “Gagang koper saya ini lepas dibanting mereka. Gimana ini?” ujarnya dalam logat Sumatera Selatan.

“Wah wah wah, saya benar-benar sudah bertugas nih.” Kata saya dalam hati seraya mengingat salah satu job desc seorang tour leader adalah menghadapi komplain jamaah dan mencari solusi terbaik untuk mengatasinya, “Oh gitu ya pak.” Kata saya sambil mengamati gagang koper tadi, “Kami mohon maaf. Insya Allah nanti saya coba panggil bell boy, biasanya mereka terampil memperbaiki koper.”

English

Latin

[1] HR. Muslim. kitab al-Fitan wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/43-44, Syarh an-Nawawi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah.

6 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    Membaca rangkaian perjalanan ini hingga mendarat di Istambul, dengan kondisi orang-orang dan suasananya terbayang-dikit aslinya gimana juga 0 derjat celcius suhunya, Bbbrrr… I ever dream go there. Masih impian. 😀 Terima kasih untuk berbagi.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ryan Mayer berkata:

      allahumma aamiyn, semoga terwujud impian bundo😊

      Disukai oleh 1 orang

  2. My Surya berkata:

    Terimakasih Bapak Ryan, 🙂 untuk turut mendoakan impianku menjadi nyata. Semoga impian-impian Bapak juga Allah permudah mewujudkannya, yaa. Dan menjalani kenyataan sepenuh hati. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ryan Mayer berkata:

      terima kasih kembali bundo =)

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s