Jeddah: Pasar Balad

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

pasar balad
Image: http://kaltim.prokal.co/read/news/253724-pedagang-arab-sangat-mengenal-karakter-jamaah-indonesia
 Bukan travel umrah bila tidak membawa jamaah ke Pasar Balad. Begitu Musa membuka pintu bus, jamaah segera menghambur keluar seolah tak sabar untuk memborong oleh-oleh. Bersama Wahyudi mereka menyeberangi jalan raya yang memisahkan lapangan parkir dan areal pasar; adapun saya berjalan belakangan bersama Pak Nugie dan Nek Sri yang kakinya sakit.

Setibanya di areal pasar jamaah segera berpencar. Bu Yuyun dan keluarga masuk ke restoran Mang Doel untuk menyantap baso kuah khas Indonesia. Selain Baso Mang Doel, ada pula restoran Garuda yang menyajikan kuliner khas Indonesia seperti nasi goreng dan pecel lele. Anda bisa melepas kerinduan akan tanah air di kedua restoran atau di kios-kios kebab berbentuk lingkaran.

Berkurang delapan orang, sisa rombongan mengikuti Wahyudi menuju deretan toko yang menjual kaus-kaus sablonan bergambar Ka’bah atau tulisan ‘I Love Jeddah’, abaya, mainan anak seperti unta-untaan, minyak wangi, coklat, kurma, gantungan kunci, dan lain-lain. Dari jarak dua puluh meter kita lihat nama toko-toko tadi serupa tapi tak sama. Ali Murah, Sultan Murah, atau Gani Murah. Alhamdulillah mereka tidak menukar huruf U pada kata Murah dengan huruf A.

Sebagaimana tradisi para pedagang disana, begitu rombongan travel nampak di pinggiran Mall Corniche, mereka segera berlari ke dalam lalu keluar lagi untuk mengibarkan bendera travel yang jamaahnya mereka lihat. “Ayo Travel X kesini, masuk dulu dan lihat-lihat.” Teriak mereka sambil mengibar-ngibarkan bendera ke udara. Begitu satu toko mulai mengibarkan bendera, toko-toko lain ikut pula. Bahkan mereka memiliki kartu as yang memungkinkan para jamaah memilih toko mereka, “Disini ada toilet. Di lantai dua.” Tentu saja siapa yang kebelet buang air kecil dengan senang hati akan memilih toko yang dimaksud. Setelah jamaah travel masuk ke dalam toko, sang pengibar bendera kembali ke halaman untuk mengamati keadaan. Begitu dilihatnya jamaah travel lain ia pun berlari ke dalam dan mengulang aktifitas tadi namun kali ini dengan bendera yang berbeda, “Ayo Travel Y kesini, masuk dulu dan lihat-lihat.

Kondisi dalam toko penuh sesak dengan jamaah yang melihat-lihat atau menawar harga. Di sebelah jamaah ada rak yang menggantung baju, dan di sebelah rak penyimpan mainan ada jamaah yang lain. Begitu pula di depan etalase minyak wangi pastia ada jamaah dan selalu ada jamaah di depan lemari pendingin penyimpan kurma. Barangkali para jamaah rela bersesak-sesakan disini karena dilayani karyawan Indonesia yang sabar atau orang-orang India yang sudah ‘terindonesiakan’ alias memahami karakter orang Indonesia. Selain itu ada pula hal lain yang membuat belanja di Pasar Balad menjadi aktifitas yang mengasyikan yaitu kemudahan untuk transaksi baik menggunakan Rupiah, Real, maupun Dollar.

Kondisi di lantai dua agak sepi meski di depan toilet biasanya ada antrean jamaah. Lebih enak memilih barang di lantai dua namun kita harus hati-hati, terutama bila membawa anak kecil karena banyak sekali barang mudah pecah seperti lukisan atau guci.

Biasanya saya hanya masuk sebentar kemudian keluar menuju bangku panjang dari batu. Di luar lebih enak karena selain mendapat udara sejuk saya juga sering bertemu kawan lama yang sama-sama membimbing jamaah. Namun tidak enaknya pasti ada saja asap rokok, peminta-minta, dan tukang jam yang menjajakan dagangan dengan sedikit memaksa.

Jangan lupakan keberadaan tukang kacang goreng yang menjajakan dagangan mereka diatas sebuah gerobak pasir warna hijau. Kacang-kacang tadi diletakkan diatas tumpukan pasir putih yang panas karena di bawah gerobak terdapat kompor. Harganya murah, paling sekitar dua hingga lima real. Saya sering diberi gratis oleh mereka walau saya tidak pernah minta. Beda dengan kebanyakan penduduk nusantara yang suka basa-basi, orang di Saudi relatif lebih tegas. Bila mereka katakan halal artinya benar-benar gratis; namun bila mereka mencantumkan harga jangan pula anda minta gratis.

Selain toko-toko di Pasar Balad, kita juga bisa berbelanja di Mall Corniche yang jaraknya hanya selemparan batu dari bangku batu di trotoar. Yang dijual di dalam agak berbeda dan lebih bermerek dan di dalam dapat kita temui para pekerja migran asal Philippina tengah bersantai. Selain para Pinoy, ada pula pekerja dari India, Bangladesh, Pakistan, Indonesia, atau Thailand dan tidak semuanya beragama Islam. Sebagian ada yang beragama nasrani dan tidak berjilbab namun mereka tahu cara menjaga sopan santun dengan berbusana abaya hingga lekuk tubuhnya tak nampak.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s