Thawaf Wada’: Perpisahan Sementara

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

with ka rini n abang yudhi
Image: Ryan Mayer’s document

Restoran telah sepi dan para jamaah sedikit demi sedikit berkumpul di sekeliling meja bundar. Bu Yuyun dan kedua anaknya. Farel dan ibunya. Nek Ema dan Bu Erni. Eyang Uti dan Nek Sri. Pak Anwar dan Bu Ani, serta Bu Ros dan Pak Rudi. Tak lama kemudian muncul keluarga Dokter Keiko dan Pak Nugie serta Wahyudi. “Alhamdulillah sudah lengkap, mari bapak ibu kita berangkat.” Kami bergerak meninggalkan pelayan restoran merapikan meja.

Biasanya thowaf wada’ dilakukan pada pagi hari terakhir di Makkah namun kali ini kami mengerjakannya setelah makan malam; sekitar pukul 22.00 waktu Saudi. Perubahan jadwal ini merupakan konsekuensi dari penerbangan menuju Istanbul yang direncanakan sore hari hingga saat dzuhur kami sudah harus tiba di bandara King Abdul Aziz Jeddah.

Kami pun menyusuri jalan yang sama saat pertama kali tiba di Makkah dalam keadaan berihram. Rencananya saya akan memimpin namun qoddarullah seorang askar menghentikan kami persis di depan eskalator. Ia melarang Pak Nugie dan Nek Sri yang menggunakan kursi roda untuk thowaf di lantai dasar. Kami harus melaksanakan thowaf di jalur khusus kursi roda.

Bapak ibu dengan pak Wahyudi ya, saya harus mendampingi Pak Nugie dan Nek Sri karena kursi rodanya tidak boleh turun.

Wahyudi pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memasang wajah sedih. Dari pagi ia telah meminta saya untuk memimpin thowaf karena suaranya habis dan tenggorokannya radang. Saya sendiri telah menjelaskan bahwa radang yang sama juga menyerang saya namun ia tetap memaksa. Kini Wahyudi tidak punya pilihan lain, kasihan sahabat saya yang baik hati itu.

Beda halnya dengan lantai dasar yang penuh sesak, thowaf di areal khusus kursi roda jauh lebih lancar hingga berlari pun sebenarnya amat memungkinkan. Namun demikian secara jarak kami harus menempuh perjalanan yang lebih jauh dibanding mereka yang thowaf di lantai dasar. Tapi sisi positifnya bisa lebih santai, paling harus bersabar bila para pendorong kursi roda sewaan menyuruh minggir karena mereka biasa mendorong dengan kecepatan tinggi, “Haji haji tariq! Haji haji jalan!”. Yang dimaksud tariq bukan berarti jalan secara harfiah melainkan minggir.

Dalam ibadah haji, thowaf wada atau thowaf perpisahan hukumnya wajib sebelum jamaah meninggalkan Makkah. Rasul bersabda,

لَا يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُوْنَ اٰخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ

Janganlah seseorang kembali hingga akhir pelaksanaan hajinya adalah (thowaf) di Ka’bah.[1]

Jadi barang siapa yang telah melaksanakan thowaf wada’ maka ia jangan datang ke masjid lagi. Cukup berada di penginapan hingga tiba waktu berangkatnya bus. Apabila masih ingin sholat bersama imam Masjidil Haram maka cukup lakukan di mushola hotel atau emperan jalan saja. Adapun dalam ibadah umroh, thowaf wada’ hukumnya tidak wajib.

Setelah menyelesaikan tujuh putaran yang luar biasa panjang, kami pun beristirahat sejenak kemudian melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Kami semua sedih karena akan meninggalkan Makkah sementara tidak tahu apakah akan dapat kembali kesini. Namun demikian seorang mukmin tidak sepatutnya berputus asa sebagaimana tidak patut pula untuk merasa mampu melakukan segala hal. Apa yang dapat kami lakukan adalah merendahkan diri di hadapan Allah tuhan semesta alam. Kami beribadah pada-Nya semata, tidak meminta perlindungan kecuali pada-Nya, mengharap dapat kembali ke rumah-Nya, serta diganjar dengan surga firdaus kelak. Allahuma aamiyn.

[1] Shahih. HR. Muslim (no. 1327) dan yang lainnya, juga Al-Bukhari dengan riwayat yang semisalnya (no. 1755).

English

Latin

5 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    Aku di sini juga sedih membaca tentang thowaf perpisahan ini, semoga hanya sementara…

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ryan Mayer berkata:

      allahumma aamiyn. semoga begitu bundo. karena meninggalkan kota suci sama dengan misteri. entah bisa kembali atau tidak.

      Disukai oleh 1 orang

      1. My Surya berkata:

        Semoga Bapak Ryan and Team bisa kembali lagi, 🙂 #merangkaiharapandandoa

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s