Gua Hira

gua hira
Image: http://infoemuslim.blogspot.co.id/2015/11/foto-gua-hira-tempat-pertama-rasulullah.html#.Wb8BNDUQBdg

Saya teringat saat mendaki gunung bernama Jabal Nur bersama beberapa orang jamaah. Perjalanan kami dimulai dari pangkalan taksi di depan hotel Al-Masa’ dimana seorang kakek Arab yang ramah menyetujui tawaran kami. Dengan ongkos sepuluh real per orang, sang syaikh bersedia mengantar ke kaki gunung dan menunggu hingga kami kembali. Maka kami pun berangkat menggunakan GMC putih miliknya.

Meski usianya tergolong lanjut, syaikh berjanggut putih yang wajahnya dipenuhi keriput disana-sini ternyata diberkahi sifat ceria. Ia mengemudi sambil bercerita yang sesekali diselingi tawa. Di atas dashboard abu-abu terdapat sebuah tongkat kayu warna coklat.

Setelah melewati Masjid Aisyah mobil kami pun melaju ke luar kota Makkah hingga tiba di sebuah perkampungan yang didominasi rumah-rumah kotak warna putih. Jalannya yang sempit dan menanjak mengingatkan saya Rio de Janeiro Brazil. Di tengah jalan GMC kami berpapasan dengan sebuah taksi merah yang dikendarai pria India berkulit gelap. Kedua mobil berpapasan dan berhenti sebelah-sebelahan. Sang syaikh mengucap salam dengan ceria yang disambut hangat oleh si India. Keduanya bercakap sebentar layaknya seorang kawan akrab. Mereka tertawa-tawa lalu si syaikh meraih tongkat kayunya dan mementung kepala si India. Mereka berdua pun kembali tertawa, mengucap salam, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Kami masuk kampung semakin dalam dan jalanan pun semakin menanjak. Demikian curam dan tingginya tanjakan hingga seorang yang terguling ke bawah kemungkinan besar mendapat oleh-oleh berupa memar hebat di seluruh tubuh. Bahkan laju GMC kami pun agak tersendat hingga syaikh harus menekan gas kuat-kuat dalam posisi netral sebelum masuk ke gigi satu. Ia melakukannya dengan mata penuh gairah hingga saya yakin orang ini cocok diberi peran dalam film The fast and the furious. Setelah berjuang mendaki tanjakan hebat akhirnya kami tiba di sebuah pertigaan yang dikelilingi rumah dan toko kelontong. Syaikh menjelaskan inilah batas terjauh mobil dapat melaju dan kami harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ia berjanji akan menunggu disana dan ia adalah orang yang menepati janji.

Perjalanan dengan kaki dimulai dari pertokoan yang terus menanjak hingga kami tiba di kaki gunung. Disana kami menjumpai kelompok demi kelompok orang dari berbagai negara yang hendak naik atau baru saja turun. Kami pun turut mendaki undakan-undakan tangga yang demikian tinggi selama satu jam. Berjalan sambil ngobrol membantu melupakan rasa letih hingga tak sadar kami telah berada di ketinggian yang mendebarkan. Rumah-rumah nampak kecil dan orang-orang di kaki gunung mulai terlihat tak lebih dari titik-titik. Angin pun semakin kencang dan dingin hingga perjalan menjadi semakin seru.

Semakin tinggi kami menanjak maka semakin sering pula kami menjumpai orang-orang Afghanistan atau Pakistan yang duduk di tangga meminta sumbangan. Di hadapan mereka terdapat sebuah kantong kecil berisi semen lengkap dengan sendoknya. Mereka menambal lubang-lubang di tangga secara swadaya dan mengharapkan uluran saudara seiman untuk jasa mereka. Alhamdulillah Allah memberi kami kelebihan rizki untuk berbagi.

Ketika kaki sudah mulai pegal-pegal kami pun singgah di sebuah warung kopi yang temboknya tidak lebih dari kawat berlubang dan atapnya seng bolong-bolong. Sementara para jamaah memesan kopi atau mi instan, saya duduk di sebuah sofa tua yang dipenuhi lubang seolah terlibat dalam peristiwa tembak-tembakan. Sebuah sajadah tua warna emas dihamparkan menghadap kiblat dan siapapun yang hendak shalat dipersilakan. Saya sempat berpikir kenapa bangunan ini bobrok sekali ya? Atap berlubang, dinding lubang semua. Tak lama kemudian pertanyaan pun terjawab. Tiupan angin kencang memainkan seng-seng warna coklat dan menghasilkan simfoni janggal “klentang klenteng klentang klenteng.” Atap bergoyang-goyang namun alhamdulillah tidak sampai lepas. Hembusan angin juga meniup kami hingga hijab para wanita pun nyaris lepas. Kini saya baru paham fungsi lubang-lubang itu. Seandainya angin tidak diberi jalan keluar melalui lubang-lubang tadi maka mungkin warung beserta segala isinya akan terhempas jatuh dari gunung yang tinggi ini.

Perjalanan pun berlanjut dan kali ini di sisi kanan kami tampak sekelompok babon warna abu-abu sebesar balita. Sebagian dari mereka makan kacang dan sebagian yang lain menenggak minuman kalengan. “Kyaaaaaa….” terdengar jeritan seorang wanita. Ternyata salah seorang jamaah saya diganggu babon itu yang menarik-narik bajunya. Si babon baru bersedia pergi setelah diberikan sekaleng minuman dingin.

Kami pun berjalan lagi hingga akhirnya tiba di puncak bukit. Semua ngos-ngosan namun merasa puas karena berhasil menuntaskan perjalanan. Setelah berfoto sejenak kami pun menuju Gua Hira yang sebelum turunnya wahyu digunakan rasulullah sebagai tempat untuk uzlah atau mengasingkan diri dari kerusakan akhlak masyarakat Quraisy. Beliau mulai sering beruzlah sejak tiga tahun sebelum diangkat menjadi rasul. Pada malam hari tanggal 21 Ramadhan, rasul dikejutkan oleh kedatangan sosok asing yang memerintahkannya membaca, “Iqro’ ya Muhammad! Bacalah wahai Muhammad!” perintah sosok asing yang tak lain dari Malaikat Jibril.

Rasul yang ketakutan pun menjawab, “Saya orang yang tidak bisa membaca.” Kemudian Jibril merengkuhnya hingga beliau kehabisan tenaga. Hal itu berulang sampai tiga kali hingga akhirnya Jibril pun membacakan surat Al-Alaq ayat 1-5. Itulah ayat-ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun dan melalui peristiwa itulah beliau diangkat menjadi rasul.

Untuk menuju Gua Hira kami harus melalui sebuah celah sempit yang di bagian tengahnya terdapat batu besar. Dibutuhkan kesabaran dan kelenturan tubuh untuk melewatinya. “Aduh aku enggak muat.” Salah seorang jamaah saya yang bertubuh gemuk tersangkut di antara bebatuan hingga harus didorong oleh kawan-kawannya. Sementara ibu itu terjepit, seorang gadis kecil menyelinap masuk dengan lincah seolah-olah terlatih parkour.

Alhamdulillah setelah melalui berbagai kesulitan ini kami pun tiba di Gua Hira. Berukuran tidak besar, di dalam gua ini terdapat sebuah celah mirip jendela yang memberi pemandangan jelas ke kota Makkah. Juga terdapat dua batu yang bisa digunakan sebagai tempat duduk. Orang-orang pun mengantre untuk masuk ke gua itu entah untuk berfoto atau shalat. Saya sendiri tidak merekomendasikan para jamaah untuk shalat disana karena memang tidak ada keutamaannya, kecuali apabila waktu shalat wajib telah tiba dan kita tidak mendapati tempat lain untuk mengerjakannya.

Meski tidak ada ibadah khusus yang dianjurkan untuk dikerjakan di Jabal Nur namun terdapat sebuah hadits yang menceritakan suatu peristiwa ajaib yang terjadi pada gunung ini. Kala itu rasulullah tengah berdiri disana bersama Abu Bakar, Umar bin Al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam; kemudian gunung pun bergerak. Rasul pun berkata padanya,

اهْدَأْ! فَمَا عَلَيْكَ إَلَّا نَبِيٌ أَوْ صِدِّيْقً أَوْ شَهِيْدٌ

Diamlah! Diatasmu tiada lain kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid.[1]

Maka benarlah apa yang rasulullah katakan pada si gunung. Abu Bakar merupakan seorang shiddiq atau yang membenarkan kerasulan beliau tanpa ragu sedikit pun. Beliaulah orang yang paling dicintai rasulullah dari kalangan pria. Kemudian ada Umar, Utsman, Ali, Thalhah, dan Zubair yang seluruhnya wafat sebagai syuhada.

[1] HR. Muslim (no. 2417) dan Ahmad (jilid 2 hal. 419).

English

Latin

4 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    Terima kasih untuk berbagi perjalanan menuju gua Hira’ dengan jelas, seakan ku ada di sana saat membaca kata perkata. Indahnya, menghayati. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    1. Mayer San berkata:

      terima kasih kembali bundo😁

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s