Thaif: ketika benci menjadi cinta

image
Imajen: documenta de la Ryan Mayer.

 

Beberapa tahun lalu sahabat saya Syafii pernah bercerita tentang kunjungannya ke Thaif. Demikian menarik kisahnya hingga saya termakan rayuan untuk mengikuti jejaknya. Alhamdulillah di bulan Ramadhn saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi kota tersebut.

Berangkat sekitar jam tujuh pagi, perjalanan dari Makkah ditempuh dalam waktu dua jam. Mengendarai coaster yang dikemudikan oleh Majid, supir asal Mesir yang wajahnya mengingatkan saya pada Sean Connery, jalur menuju Thaif dipenuhi bukit-bukit yang mengapit sebuah jalan raya warna abu-abu. Hampir semua jamaah tidur, demikian pula muthawwif sekaligus sahabat saya yang bernama Umar. Maklum saja saat itu Ramadhan dan tidak ada satu pun dari kami yang ingin menyia-nyiakan malam tanpa sholat tarawih di Masjidil Haram.

Di kota yang nyaris dilempar gunung oleh malaikat ini kami mengunjungi Masjid Abbas, pasar buah, juga kebun binatang. Saya sendiri sempat takjub dengan keramahan penduduk Thaif yang nenek moyangnya menimpuki rasul dan Zaid bin Haritshah dengan batu dan kotoran binatang kala keduanya mengajak mereka masuk Islam. Maha Suci Allah yang mengutus rasul yang demikian besar hati. Ketika malaikat gunung menghadap beliau dan menawarkan diri untuk menimpuk kota Thaif menggunakan dua buah gunung, beliau justru mendoakan agar dari penduduk ini lahir keturunan yang shalih. Inilah doa kebaikan pertama yang dipanjatkan rasul untuk penduduk Thaif (doa kedua terjadi pada peristiwa pengepungan Thaif).

Doa beliau pun dikabulkan Allah. Ketia beliau wafat seluruh kabilah Arab murtad kecuali Makkah dan Madinah. Tadinya penduduk Thaif juga hendak murtad namun salah seorang dari mereka berteriak mengingatkan bahwa mereka adalah orang yang terakhir kali masuk Islam. Jangan sampai mereka menjadi yang pertama kali keluar dari Islam. Penduduk pun tersadar dan sejak saat itu hingga sekarang penduduk Thaif termasuk yang paling baik keislamannya di Saudi.

Selain penduduknya ramah, kota yang terkenal dengan Hajjaj bin Yusuf dan Muhammad bin Qosim (panglima muslim yang membuka negeri Pakistan) ini juga dianugerahi hawa sejuk mendekati dingin. Saya mengunjungi Thaif di musim panas yang suhu udara saat subuhnya saja mencapai 41 derajat celcius. Beda dengan Makkah atau Madinah, nyaris tidak terasa panas di Thaif kecuali cerahnya matahari.

Saya menyarankan anda untuk mengunjungi thaif, Kota yang in sya’ Allah senantiasa sejuk sepanjang tahun tanpa peduli apa musimnya. Sebuah Kota yang menjadi pilihan Keluarga Kerajaan untuk melewati Muslim panas Saudi yang luar biasa.

English

Latin

 

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s