Masjid Ji’ronah

jironah
Image: http://www.ihyatour.id/artikel/51-ZIARAH+KOTA+MAKKAH/

Kami tiba di Masjid Ji’ronah yang terletak di sebuah sumber air antara Makkah dan Thaif. Berukuran jauh lebih kecil daripada Masjid Dzul Hulaifah atau Masjid Aisyah, Masjid Ji’ronah terasa semakin kecil berkat antrean panjang kaum ibu di depan toilet wanita. Antrean di toilet laki-laki pun sebenarnya juga padat namun kebanyakan para pria hanya mengambil wudhu atau buang air kecil saja; adapun untuk berihrom mereka melakukannya di emperan masjid atau bagian dalamnya.

Masjid yang dahulu digunakan rasulullah sebagai tempat membagikan rampasan perang Al-Hawazin ini berwarna putih. Ruang sholat kaum wanita dan pria dipisah sebagaimana toilet keduanya pun diletakan berjauhan untuk menghindari adanya ikhtilat atau bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram. Di emperan masjid yang beralaskan konblok merah para pedagang menjajakan berbagai produk seperti gamis, abaya, jilbab, kurma dan kacang, serta aneka hiasan seperti gantungan kunci. Jangan lupakan para wanita Afrika yang menjajakan air mineral dalam botol sebagai alternatif berwudhu di toilet yang demikian padat. Bila beruntung kita dapat menonton atraksi gratis pemuda badui berakrobat dengan motornya atau bocah Afrika berteriak-teriak lalu melempar balok besar ke angkasa. Tentu saja kedua atraksi itu berbahaya dan bisa digolongkan ke dalam extreme sport.

Bagian dalam masjid mirip interior Masjid Apung di Jeddah lengkap dengan karpet hijaunya. Hanya saja yang membuat jengkel adalah banyaknya orang yang berihram di dalam sana hingga menghalangi mereka yang hendak sholat. Sebenarnya para cleaning service India yang bahasa Indonesianya demikian fasih sudah mengatur agar para muhrimin (orang-orang yang berihram) tidak menggunakan shaf depan untuk ganti pakaian namun usaha mereka sia-sia.

Pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah rasulullah dan 10.000 orang sahabatnya berhasil menaklukan Makkah dan membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala. Rasulullah juga memberikan amnesti umum pada penduduk Makkah kecuali beberapa orang pentolan penjahat seperti Abdul Uzza bin Khattal yang dihukum mati. Tidak ada pengrusakan, perampokan, penyembelihan, atau pembakaran dalam peristiwa yang dikenal dengan nama Fathul Makkah itu hingga penduduk kota pun berbondong-bondong masuk Islam.

Baru saja rasulullah dan para sahabatnya merasakan kebahagian, terutama kaum muhajirin yang dapat kembali ke tanah air dan bertemu sanak-saudaranya; datanglah laporang bahwa Suku Tsaqif dari Thaif dan beberapa suku lainnya bergerak menuju Lembah Authas yang teretak antara Makkah dan Thaif. Rasul pun segera menyiapkan pasukan besar yang terdiri dari 10.000 sahabat ditambah 2000 orang Makkah yang baru masuk Islam. Mereka bergerak ke Lembah Hunain yang dekat dengan Lembah Authas.

Sebagian sahabat merasa bangga diri dengan banyaknya jumlah mereka hingga merasa kemenangan sudah pasti akan diraih. Qoddarullah, kesombongan itu dihancurkan oleh sergapan musuh dari atas bukit yang menembaki mereka dengan panah dan melempari batu-batu besar. Kebanyakan sahabat pun lari kocar-kacir kecuali beberapa orang saja seperti Al-Abbas bin Abdul Muthollib, Abu Sufyan bin Al-Harits, kaum muhajirin, dan keluarga rasulullah. Rasulullah pun memanggil para sahabat yang lari dan mengingatkan bahwa dirinya adalah rasulullah. Para sahabat pun menyadari kesalahan mereka lalu kembali ke sisi beliau. Setelah itu mereka menyerang balik musuh hingga kemenangan pun menjadi milik umat Islam. Dalam pertempuran itu umat Islam mendapat rampasan perang yang melimpah berupa 6.000 orang tawanan, 24.000 ekor unta, lebih dari 40.000 ekor kambing, dan 4.000 uqiyah (satuan timbangan seperti gram) perak. Seluruh rampasan perang itu disimpan di Ji’ranah dengan kawalan pasukan yang dipimpin Mas’ud bin Amr.

Sehari setelah pertempuran yang terjadi pada bulan Syawwal tahun 8 Hijriyah, rasulullah dan para sahabatnya bergerak menuju kota Thaif dan mengepungnya. Demikian kokoh tembok pertahanan Thaif serta tangguh para penjaganya hingga pengepungan memakan waktu lama. Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai lamanya waktu pengepungan, ada yang mengatakan 15 hari, 18 hari, hingga 40 hari.

Dalam pengepungan itu rasulullah mengizinkan para sahabat untuk membuat mesin pendobrak dari kayu yang dilapisi kulit basah. Mesin ini memiliki empat buah roda, dinding, dan atap sementara di bagian depannya terdapat balok kokoh yang digunakan untuk mendobrak pintu. Para awak masuk ke dalam ‘tank’ tersebut lalu mendorongnya hingga mendekati gerbang. Setelah tiba mereka pun mulai mengayunkan balok kokoh tadi ke gerbang untuk membobolnya.

Para penjaga Thaif tidak tinggal diam menyaksikan gerbang mereka didobrak. Mulanya mereka menembakan anak-anak panah namun dinding dan atap tank terbukti terlalu kokoh. Tak hilang akal, mereka pun melempari tank dengan besi-besi panas hingga kendaraan itu lambat laun terbakar. Saat para awak yang berada di dalamnya melarikan diri mereka pun ditembaki dengan anak-anak panah.

Meski pengepungan telah berlangsung lama namun tidak ada hasil positif bagi kedua pihak. Keduanya sama-sama ngotot untuk menang. Maka rasulullah pun memerintahkan seorang sahabat untuk menawarkan amnesti umum pada penduduk kota dan keluarlah dari sana 23 orang yang salah satunya akan menjadi sahabat kawakan. Sahabat itu menuruni tembok dengan menggunakan alat kerek yang disebut bakrah; rasul pun memanggil sahabat bernama Nafi’ bin Masyruq itu sebagai Abu Bakrah.

Berlarut-larutnya pengepungan membuat rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat; apakah diteruskan atau ditinggalkan. Mulanya mereka bertekad untuk melanjutkan pengepungan namun karena hasilnya tidak berubah akhirnya rasul pun memutuskan untuk pulang ke Makkah. Sebelum pulang sebagian sahabat meminta rasul mendoakan keburukan bagi penduduk Makkah namun beliau justru mendoakan kebaikan bagi mereka. Inilah doa kebaikan yang kedua bagi penduduk Thaif dari beliau (doa kebaikan pertama terjadi saat beliau diusir oleh penduduk Thaif).

Setibanya di Ji’ronah, rasulullah pun membagikan rampasan perang pada para sahabat yang ikut serta dalam Perang Hunain dan Pengepungan Thaif. Pada saat yang bersamaan datang pula utusan dari Suku Hawazin yang turut memerangi rasulullah bersama Banu Tsaqif. Mereka meminta perdamaian dan masuk islam hingga dakwah tauhid pun masuk ke Thaif dan suku-suku di sekitarnya.

Selesai membagikan rampasan perang dan menerima delegasi Hawazin, rasulullah pun berihrom dari Ji’ronah kemudian melaksanakan umrah.

Para jamaah bertanya mengapa saya tidak turut berihrom? Saya pun menjelaskan bahwasanya Ji’ronah merupakan miqot bagi penduduk Makkah. Adapun bagi yang bukan penduduk Makkah (dikatakan penduduk adalah apabila berniat tinggal di Makkah dan telah berada disana minimal empat hari empat malam) maka dikembalikan pada miqot utama yang kita lewati. Dalam hal ini miqot yang kami lewati adalah Dzul Hulaifah. Selain itu, umroh melalui Ji’ronah atau Tan’im atau Hudaibiyah (sering disebut umroh kedua) tidak bersifat wajib.

Kadang persoalan miqot ini kurang diperhatikan oleh para jamaah umroh (termasuk beberapa penyelenggara); hingga diantara mereka ada yang sampai menggangap umrah kedua wajib dilakukan. Tentu saja untuk mengatakan suatu ibadah wajib harus didasari oleh dalil yang jelas. Demikian pula soal miqot; tempat-tempat untuk bermiqot telah dijelaskan oleh rasul melalui hadits dari Abdullah bin Abbas.

اَنَّ النَّبِيَّ وَقَّتَ لِاَهْلِ اَلْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ وَ لِاَهْلِ اشَّامِ الْجُحْفَةَ وَ لِاْهلِ نَجْدِ قَرْنَ المَنَازِلِ وَ لِاَهلِ يَمَنِ يَلَمْلَمَ. وَ قَال: هُنَّ لَهُّنَ وَ لِمَنْ اَتَي عَلَيْهِنَ مِنْ غَيْرِ اَهْلِحِنَّ مِمَّنْ اَرَادَ الْحَجَّ وَ الْاُمْرَةً وَ مَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ اَنْشَاَ حَتَّي اَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

“Nabi telah menetapkan Dzul Hulaifah sebagai miqot penduduk Madinah; Juhfah sebagai miqot penduduk Syam; Qarnul Manazil sebagai miqot penduduk Nejd; dan Yalamlam sebagai miqot penduduk Yaman. Dan beliau bersabda: tempat-tempat tersebut sebagai miqot bagi penduduknya dan bagi orang dari negeri lain yang datang ke sana yang ingin melaksanakan haji dan umroh. Barang siapa yang tinggal di dalam miqot-miqot tersebut, maka ia berihram dari tempat tinggalnya, hingga penduduk Makkah pun (berihram dari Makkah.[1]

Sebagai orang-orang yang mencintai rasulullah, maka kewajiban kita adalah untuk meneladani beliau dan bukan menyelisihinya.

[1] Shahih. HR. Al-Bukhari (no.1254) dan Muslim (no. 1182). Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan Ustadz Mubarok bin Mahfudh Bamualim, Lc dalam Panduan Manasik Haji & Umrah Berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah dan Pemahaman as-Saafush Shalih, hal. 45

English

Latin

 

5 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    Mengingat orang-orang yang kita cintai, mampu meluruhkan airnata di pipi. Kemarin sepagian ku rindu Rasulullah, menerbitkan bulir-bulir bening lagi di sudut mata. Saat itu ku dalam perjalanan di bus. Tidak menangis, memang. Tapi mengalihkan dengan melirik langit, bersama haru. Saat sendiri berikutnya bisa menangis lama sampai mata berat.

    Di sini hari ini teringatkan lagi, hikshiks. Website yang sukses menguras airnataku setiap kunjungan. Terima kasih, sangat untuk semua. Walau airmata mengalir, namun ku bahagia masih bisa menangis.

    Semoga salawat dan salam sering sering kita lantunkan sebagai tanda cinta pada Rasul-Nya, walau tak jumpa di dunia, allaahumma shalli’ala muhammad wa ala ali muhammad, harap syafaat beliau di akhirat nanti, aamiin ya rabbal’alamiin. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    1. Mayer San berkata:

      Terima kasih atas supportnya, bundo. kami disini tak bosan-bosannya berdoa agar kita semua dimudahkan tuk kembali kembali kembali kembali beribadah di tanah suci. bahkan bagi yang belum mengalami sekalipun.

      kita sama-sama menunggu saat Allah mengabulkan momen indah tersebut.

      Disukai oleh 1 orang

  2. My Surya berkata:

    Iya, sama-sama.
    Semoga Allah mengabulkan, pada waktunya, doa-doa kita, yaa. Yuuu senyum lagi dan berusaha. Sampai saatnya tiba. #semangatidirijuga

    “Senang ada yang mendoakan”

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s