Rohingyaku sayang

ternak unta.jpg
Image: Ryan Mayer’s document.

Sebuah gelombang besar menghambur dari dalam bus. Pria dan wanita, tua maupun muda; semua menerjang dengan ganas ke dalam kebun kurma.

Demikian hebat hempasan tsunami jamaah hingga saya pun terpaksa kembali menepi.

“Ustadz, ana terhalang ombak.” Teriak saya pada ustad Ali yang berdiri di seberang.

“Enggak apa-apa, ana berenang.” Pria keturunan arab yang ganteng itu pum benar-benar menerobos rombongan itu, mirip tentara Amerika berjalan di sungai Vietnam.

Tak mau kalah…saya pun turut menerjang gelombang hingga kami pun bertemu di tengah arus manusia yang memandang heran. Dan semakin heran saat kami berpelukan.

“Ente sama siapa?” Tanya Ali.

“Ana sama Wahyudi.” Beberapa langkah di belakang saya tersenyum seorang pria yang sangat jangkung untuk ukuran indonesia. Bagi saya Wahyudi adalah seorang rusia berlogat madura.

“Ente sama siapa tad?” Saya balas bertanya.

“Biasa, Abu Nasyir.” Jawabnya dari balik kacamata hitam.

“Abu Nasyir?” Belum selesai bicara, datanglah seorang pria paruh baya entah dari mana. Cara datangannya mirip kemunculan seorang pembawa acara kuis. “Assalamualaikum” ucapnya dengan menipiskan huruf mim (m).

“Abu Nasyiiirrrr….” tak perlu waktu lama untuk segera memeluk sosok pria paruh baya yang saya hormati. Berambut kelabu akibat uban, sahabat tua saya ini adalah seorang rohingya yang menjadi muthowwif di travel tempat saya biasa bimbing.

“Afa kabar?” Ia bertanya dengan menipiskan huruf ro (r).

Kami pun segera tenggelam dalam nostalgia, saling menanyakan kabar keluarga, dan menyeruput teh pahit di bawah rimbunan pohon kurma.

Bercakap dengan Abu Nasyir berarti bicara tiga bahasa. Kalimat pertama bahasa indonesia, selanjutnya arab, dan di tengah-tengah selalu ada bahasa rohingya.

Wajahnya selalu tersenyum namun saya dapat melihat yang lain pada mata abu-abunya. Raut wajah ayah dari beberapa orang hafidz ini tampak tegar, ikhlas, tak menyesal, dihiasi sedikit duka.

Ia adalah generasi awal rohingya yang melarikan diri dari barma (demikian mereka menyebut myanmar) dan kadang mereka menyebut diri barmawi yang berarti orang burma.

Semoga allah menjaga Abu Nasyir dan muslim barmawi lain, serta muslim di seluruh dunia.

Semoga allah memberkahi kerjaan saudi yang melindungi barmawi dan muslimin yang lari dari soviet (seperti para uzbek) dan negara-negara lain yang juga memberi perlindungan.

Semoga allah menghancurkan para pelaku genosida sebagaimana Ia musnahkan firaun dan para pengikutnya.

Rohingyaku sayang…barmawiku sayang…semoga Allah memuliakan dan memenangkan kalian.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s