Tahallul: Berakhirnya Larangan Ihram

tahallul
Image: https://www.nbcnews.com/slideshow/news/pilgrimage-to-mecca-40187590

Setelah menyelesaikan sa’i kami berlima kembali ke hotel melalui Gerbang Marwah. Reyhan merengek karena perutnya sakit namun tiap kali diajak ke toilet yang jagoan kecil itu justru ngotot untuk kembali ke hotel. “Di kamar saja.” Katanya sambil sesungukan.

Mau kemana pak?” tanya Pak Nugroho.

Saya mau ke tukang cukur dulu pak. Mau ikut?

Mau sih…Tapi…” keraguan terlihat benar di wajahnya, apalagi rengekan Reyhan semakin menjadi-jadi.

Ya sudah kalau bapak mau ke tukung cukur nanti kearah situ saja.” Saya menunjuk sebuah turunan menuju pusat perbelanjaan di bawah Zamzam tower. “In sya’ Allah mereka buka 24 jam pak.

Setelah mendengar kata ‘buka 24 jam’ ketegangan di raut wajah Pak Nugroho pun sirna.

Begitu mendekati turunan saya disambut para zai Pakistan yang sebagian mengenakan gamis dan sebagian lain berkemeja konvensional. Mereka semua menawarkan jasa yang sama yaitu, “Cukur tuan?

Para Zai ini biasanya bekerja sebagai petugas konstruksi di pagi hari dan malam harinya mereka menjadi calo pangkas rambut. Tiap orang mewakili sebuah kios cukur yang entah ada berapa jumlahnya. “Ayo tuan? Ayo tuan? Cukur atau gundul?” mereka berpromosi dalam bahasa Indonesia. Saya pun berpikir sebentar, hendak memilih zai yang mana dari sekian banyak calo ini.

Entah mengapa, Allah menakdirkan saya memilih seorang zai bertubuh kecil dan berambut gondrong. “Zai,” teriak saya seraya menunjuknya. Ia berlari kecil sambil tersenyum layaknya pembalap Moto GP berdiri di atas podium. Sebaliknya, kawan-kawannya memandang dengan wajah kecewa kemudian kembali mencari pelanggan. Si zai mendekati saya dan bertanya dalam bahasa Indonesia yang luar biasa fasih, baik susunan kata maupun intonasinya, “Darimana tuan, Indonesia? Malaysia?

Saya sering berjumpa zai yang mampu berbahasa Indonesia namun jarang yang fasih seperti ini. Feeling saya mengatakan ia pernah ke salah satu dari dua negara, “Zai, bahasa Melayumu lancar.

Ia tersipu malu namun sorot matanya menampakkan kebanggaan, “Saya dua tahun bekerja di Malaysia, tuan.” Lagi-lagi dengan intonasi yang mirip sekali orang Indonesia.

Oh ya, kerja apa zai?

Bangunan tuan.” Ia demikian ceria dan percaya diri tiap kali menjawab pertanyaan saya.

Kini kami telah berada di areal pertokoan Zamzam Tower yang didominasi dua jenis pedagang; tukang cukur dan tukang makanan. Namun mereka semua memiliki ciri fisik yang sama, bila ditanyakan dari mana asalnya jawabannya sudah jelas salah satu dari Pakistan, India, atau Bangladesh.

Bilamana seorang calo datang membawa konsumen, para tukang cukur yang bersandar di pintu kios pun segera melirik dengan liar, seolah berkata “kios mana yang dapat?” saya sendiri tidak tahu kios mana namun yang jelas milik rekan si zai.

Silakan tuan,” kata si zai sambil bersikap macam pelayan restoran mewah. Begitu tukang pangkas mengalungkan plastik kuning ke dada saya, si zai pun berbisik, “Tuan kasih sepuluh real untuk cukur dan lima ringgit untuk saya, hihi.” Lalu berlari kecil mencari konsumen baru. Saya sendiri berniat memberi beberapa real pada si zai setelah cukur namun qoddarullah tidak berhasil menjumpainya kembali.

Begitu saya hendak masuk ke Tower Zamzam muncul Pak Oni. “Wah Pak Ryan sudah cukur. Saya juga mau dong.” Ia nampak demikian takjub. Memang dari awal ia mengatakan ingin menggundul rambut demi mendapat tiga rahmat dari Allah. Saya pun segera menunjuk jalan menuju tukang cukur, “Kalau ada calo menawarkan jasa bapak pastikan dulu kalau harganya sepuluh real.

Iya pak.” Ia pun berjalan wajah antusias. Itulah kali terakhir saya melihat rambut kelabunya yang mulai dihiasi uban.

Banyak orang yang salah mengartikan kata tahallul sebagai mencukur rambut. Padahal kata ini memiliki arti menghalalkan kembali larangan-larangan ihram. Dengan mengerjakan rukun umroh yang terakhir ini maka larangan-lrangan yang diberlakukan selama berihram pun menjadi gugur kecuali berbuat dosa dan kerusakan. Cara mengerjakan tahalul bagi pria adalah dengan memendekan rambut atau menggundulnya habis. Keduanya sama-sama sah namun mencukur gundul lebih utama sebagaimana yang tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,“Rasulullah bersabda:

اَلَّهُمَّ ارْحَمِ الْمُحَّلِقِين. قَالُوا وَالْمُقَصِّرِين يَا رَسُوْلَ اَللهِ. قَالَ:اَلَّهُمَّ ارْحَمِ الْمُحَّلِقِين. قَالُواوَالْمُقَصِّرين يَا رَسُوْلَ اَللهِ. قَا لَ وَالْمُقَصِّرِين

“Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya!’ mereka (para sahabat) berkata ‘Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya wahai Rasulullah?’ Nabi berdoa lagi, ‘Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya!’ Mereka kembali   berkata: ‘Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya ya Rasulullah?’ Maka Nabi  menjawab, ‘Dan orang- orang yang memendekkan rambutnya.”[1]

[1] HR. Al-Bukhari (no. 1727) dan Muslim (no. 1301).

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s