Mina: Melontar Jumrah

melontar-jumrah
Image: http://www.laodeahmad.com/2016/09/jam-jam-terlarang-jamaah-haji-indonesia-melontar-jumrah.html

Bus bergerak menuju sebuah tanah lapang yang berbatasan dengan tebing di sisi kirinya. Diatas tebing itu berdiri istana gubernur beserta pagarnya yang kokoh; mirip sekali dengan kastil abad pertengahan. Berseberangan dengan istana terdapat areal kosong yang dibatasi pagar kawat; di dalamnya nampak tenda-tenda putih yang dilengkapi AC. Tepat diantara tebing dan areal berpagar terdapat jalur kereta api yang mirip jalan layang warna abu-abu. Pada musim haji kereta ini digunakan sebagai alat transportasi alternatif dari bus.

Beberapa meter kemudian kami pun tiba di atas fly over yang pada sisi kanannya nampak atap tenda-tenda putih tadi. Dari sini kita menyadari bahwa tenda-tenda tersebut jauh lebih banyak dari dugaan. Di sisi kiri nampak bangunan warna abu-abu yang mirip gedung bertingkat tiga. Disanalah berdiri tiga tiang jumroh (Ula, Wustho, dan Aqobah).

Bagian dalam jamarot mirip areal sa’i atau bandara. Luas, beratap tinggi, dan dipenuhi manusia. Pada areal yang sama akan kita dapati sebuah bangunan berpagar berbentuk elips. Di dalam kolam tanpa air itu berdiri tegak sebuah tiang berwarna abu-abu; dan meski disebut tiang, namun kenyataannya itu sebuah tembok tinggi yang panjangnya sekitar 20 meter.

“Allah Akbar” teriak seorang jamaah sebelum melempar kerikil. Dari kejauhan terdengar suara lain, “Allah Akbar.” Kerikil pun lantas meluncur ke tiang diiringi bunyi “Tak.” Darimana-mana terdengar kumandang takbir yang diikuti bunyi pantulan kerikil. Saat melontar jumroh tak disyariatkan untuk melempar tiang menggunakan selain kerikil (misalnya batu yang lebih besar atau benda-benda lain).

Melontar jumroh pertama kali dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Saat itu para jamaah hanya melontar tiang Aqobah saja. Adapun waktu yang paling afdhol untuk melaksanakannya dimulai dari setelah dhuha (saat matahari sudah mulai memanas) hingga menjelang terbenamnya. Apabila tak mampu maka kita dapat melakukannya setelah matahari terbenam.

Tiga hari berikutnya (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) para jamaah akan melontar ketiga tiang dimulai dari jumroh Ula. Tiang tersebut dilempar dengan tujuh buah kerikil seraya mengumandangkan takbir. Sekali lagi, tidak boleh melempar seluruh kerikil sekaligus atau melempar dengan benda-benda lain. Selesai melontar, kita disunnahkan untuk berdiri di sisi kanan arah melontar lalu berdoa sambil menghadap kiblat.

Dari Ula kita pun melanjutkan perjalanan ke jumroh Wustho. Caranya tak berbeda, lempar menggunakan tujuh buah kerikil sambil mengumandangkan takbir. Satu kerikil satu takbir. Selepasnya kita disunnahkan untuk berdiri di sisi kiri tempat melontar, menghadap kiblat kemudian berdoa.

Terakhir, kita akan menuju jumroh Aqobah dan melontarnya tujuh kali. Caranya sama; kerikil dilempat satu demi satu sambil diiringi takbir. Beda dengan kedua tiang sebelumnya, kita tak disunnahkan untuk berdoa di Aqobah.

Dalam pelaksanaan lontar jumroh, para jamaah dapat memilih satu dari dua cara (biasanya tergantung travel yang memberangkatkannya). Yang pertama adalah nafar awal atau hanya melempar selama tiga hari (10, 11, 12 Dzulhijjah) lalu kembali ke Mina. Adapun yang kedua disebut nafa tsani atau nafar akhir, dimana para jamaah melempar selama empat hari (10, 11, 12, 13 Dzulhijjah) lalu kembali ke Mina.

English

Latin

6 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    Masih tak bisa membendung airmata, saat mampir lagi di sini. Karena nuansanya sungguh mengharukan. Terimakasih sudah menghidangkan sajian semenarik ini, meski mengharukan, aku lega. Dan mau tersenyum lagi. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. Mayer San berkata:

    someday bundo…kembali tuk merasakan luar biasanya beribadah di tanah suci, in sya’ Allah.😀😁😂😃

    Disukai oleh 1 orang

    1. My Surya berkata:

      😀 Terbahagiakan dengan segala kesan selama di tanah suci. Sungguh. Semoga para perindu sampai di sana juga, amiin ya Allah.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Mayer San berkata:

    allahumma aamiyn. semoga Allah mudahkan kita untuk rutin kembali beribadah di dua kota suci.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s