Mari Kita Wukuf di Arafah

wuquf
Image: https://www.pinterest.com/explore/wukuf-di-arafah/

            Penuh. Kiranya hanya kata itu yang dapat menggambarkan suasana Makkah menjelang pelaksanaan wukuf. Bandara-bandara telah ditutup seminggu sebelum wukuf dan semua calon haji yang masih berada di Madinah diberangkatkan menuju Makkah. Sebuah kafilah besar bus yang mengangkut manusia dari berbagai penjuru dunia.

Penuhnya Makkah menjelang wukuf mungkin hanya dapat disaingi kondisi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Manusia demikian banyaknya hingga yang sulit ditemukan justru kata sepi. Saat sholat Jum’at, barisan jamaah bisa lebih panjang dari biasanya. Tak perlu heran bila panjangnya bisa mencapai lapangan tempat burung-burung merpati mematuki biji gandum. Sekitar 300 meter dari Masjidil Haram dan itu belum seberapa.

Bus kami berbelok ke arah kiri, meninggalkan tiang-tiang beton penyangga jalur monorail.

           “Bapak ibu sekalian, alhamdulillah kita sudah memasuki wilayah Arafah.” Kami semua memandangi suasana di luar jendela. Hamparan padang pasir sepi tiada berteman kecuali pohon-pohon mungil bernama Pohon Soekarno. Dinamakan demikian karena pemerintah Indonesialah yang menyarankan Kerajaan Saudi untuk menanam beberapa pohon sebagai tempat berteduh jamaah haji yang tengah wukuf. Dan bangsa Indonesia pula yang menyumbangkan pohon-pohon yang hingga hari ini dapat kita lihat di kedua sisi jalan raya menuju Arafah.

       Tempat yang kami kunjungi tidak lebih dari sebuah tanah lapang luas yang dihiasi beberapa toilet umum berwarna biru. Tidak ada yang istimewa di Arafah dan tidak ada pula ibadah khusus kecuali wukuf tanggal 9 Dzulhijjah. Beda halnya dengan saat wukuf pada musim haji, dimana jutaan orang berkumpul disini sejak malam tanggal 8 Dzulhijjah; pada waktu-waktu lain kepadatan disini tidak terlalu hebat. Pada musim umroh yang memadati Arafah paling-paling hanya bus pengangkut jamaah dan truk-truk penjual makanan. Adapun pada saat wukuf, areal ini dipenuhi orang yang duduk berdoa sejak ba’da dzuhur hingga waktu maghrib. Mereka semua berdoa dengan khusyu walau sebagian ada yang naik ke Jabal Rahmah dan melakukan perbuatan yang tidak ada syriatnya seperti mengulang akad nikah disana dengan keyakinan agar pernikahan mereka lebih afdhol.

Wukuf sendiri merupakan rukun sekaligus wajib haji dimana meninggalkannya berarti batal haji. Berbeda dengan pelanggaran saat thowaf atau sa’i yang dapat dibayar dengan dam, tidak mengikuti wukuf hanya dapat dibayar dengan mengulang hajinya di tahun mendatang. Inilah mengapa sebagian penyelanggara haji memberangkatkan para jamaah ke Arafah sejak tanggal 8 sore walau wukuf sendiri dilaksanakan setelah dzuhur tanggal 9.

Bukan tanpa alasan apabila mereka sudah bergerak sejak sore karena antrean bus menuju Arafah demikian panjang; semua seolah berangkat ke tempat yang sama pada waktu yang sama. Baik mereka yang sehat maupun yang sakit semua bergerak ke Arafah untuk mengikuti wukuf. Ambulans-ambulans menyalakan sirene mengangkut jamaah haji yang sakit hebat hingga tak mampu ke Arafah kecuali menggunakan mobil medis itu. Demikian pula orang yang sekarat, mereka pun dibawa ke Arafah sekedar untuk melaksanakan wukuf. Mereka semua rela bersusah-payah menahan panas dan lelah semata-mata demi mematuhi sabda rasulullah,

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ

Haji itu adalah Arafah.[1]

            Lalu keuntungan apa yang diperoleh orang-orang yang wukuf di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah? Selain hajinya sah, rasulullah pun mengabarkan sebuah kabar gembira bagi orang-orang tersebut,

مَا مِنْ يَوْمٍ  أَكثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبِيْدًا مَنَ النَّارِ مَنْ يَوْمِ عَرَفَةِ وَ إِنَّهُ لَيَدْنُوْ عَزَّ وَ جَلَّ ثَمَّ يُبَاهِيْ بِهِمُ الْمَلَاءِكَةَ فَيَقُوْلُ: مَا ذَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ

Tiada hari yang lebih banyak Allah memerdekakan hamba-hamba-Nya dari siksa neraka melainkan pada hari Arafah dan sesungguhnya Allah mendekat ke bumi seraya membanggakan mereka dihadapan para malaikat-Nya seraya berfirman: “Dan mereka sesuai dengan apa yang mereka inginkan.[2]

Sementara para jamaah sibuk menjelajahi Padang Arafah, saya duduk di balik bebatuan besar yang memberi perlindungan dari terik matahari. Bersama saya Eyang Uti dan Nek Sri yang sama-sama tidak ada niat untuk naik ke Jabal Rahmah. “Saya enggak mau naik lagi, dulu waktu haji udah pernah. Lagian diatas juga rame banget.” Kata Nek Sri yang telah menunaikan kewajiban hajinya beberapa tahun lalu.

Saya mengamini ucapannya karena memang diatas bukit kecil yang dianggap tempat bertemunya Nabi Adam dan Bunda Hawa itu tidak ada sesuatu yang istimewa kecuali sebuah tugu yang diyakini sebagai tempat diijabahnya doa. Kepercayaan yang entah bersumber darimana itu berdampak pada banyaknya jamaah yang menempelkan foto calon suami / istri atau menulis-nulis kata perjodohan seperti Tini love Tono dengan harapan cinta mereka direstui Allah.

Saya dan kawan-kawan tidak bosan menyampaikan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut tidak ada contohnya dari rasul dan bahkan tidak pernah pula diperintahkan oleh Allah. Melakukannya hanya menghasilkan kesia-siaan bahkan dikhawatirkan jatuh pada kesyirikan.

Sebab lain yang membuat saya enggan untuk naik ke Jabal Rahmah adalah banyaknya pedagang yang menjajakan dagangan mereka di tangga hingga menyulitkan orang-orang yang hendak naik atau sekedar duduk sejenak di pagar kecil dari batu. Belum lagi keberadaan orang yang berebut mendekati tugu untuk berdoa dan menempel foto, bahkan sebagian orang sengaja naik ke bukit untuk sholat sunnah diatas batu-batu cadas tanpa takut terpeleset. Maka lebih baik bagi saya tetap berada dibawah dan mengawasi para jamaah karena biasanya ada saja yang naik dari tangga A kemudian turun melalui tangga B hingga akhirnya terpisah dari rombongan.

Tak terasa dua hari lagi kita akan berjumpa raya iedul Adha, in sya’ Allah. Bagi mereka yang tak berhaji maka ibadah yang paling utama adalah sholat ied dan berkurban. Adapun bagi mereka yang Allah takdirkan untuk berhaji; jangan dibayangkan betapa nikmatnya bersimpuh di Arafah, menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengemis pada Allah. Tidak ada rasa letih atau jenuh, hanya ada harapan agar Allah ridho menerima haji yang mereka laksanakan. Demikian pula dengan ibadah-ibadah lainnya.

[1] Shahih. HR. Abu Daud (no. 1949) dan At-Tirmidzi (no. 889).

[2] HR. Muslim no. (1348), Ibnu Majah no. (3014), dan An-Nasa’i (no. 3003).

English

Latin

5 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    Semoga para jamaah dapat menyelesaikan wukuf dalam kondisi sehat, meski harus lelah dan letih di bawah terik mentari di tengah padang Arafah, aamiin yaa Allah.

    Aku mengikuti hingga tahap ini. Semoga Eyang Uti dan Nek Sri sehat selalu. 🙂

    Suka

  2. Mayer San berkata:

    Allahumma aamiyn. Semoga kebaikan, keselamatan, serta keberkahan juga menaungi keluarga bundo🕋

    Disukai oleh 1 orang

  3. My Surya berkata:

    Aamiin ya Rabbal’alamiin. Terimakasih, hehe. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s