Sa’i Antara Dua Bukit Bersejarah

sa'i
Image: http://www.britishmuseum.org/explore/themes/hajj/the_rituals_of_the_hajj/sai_and_zamzam.aspx

Selesai thowaf kami menuju tempat dimana Bukit Shafa dan Bukit Marwah berada. Menyusuri sebuah ruang penuh sesak oleh orang-orang yang shalat maupun minum zamzam, perjalanan dilanjutkan dengan mendaki sebuah ramp. Begitu sampai di lantai dua kami dapat melihat Ka’bah di kanan sedangkan di kiri tampak ribuan orang berjalan tengah menanjak ke sebuah bukit. Itulah Bukit Shafa yang menjadi tempat dimuainya sa’i. Kami pun mendekat ke arah pagar berkaca tembus pandang yang menghalangi orang-orang masuk ke bukit. Setelah itu menghadap ke arah Ka’bah lalu membaca surat Al-Baqoroh 158,

إِنَّ الصَّفَا وَالمرَوَةَ مِنْ شَعٰاءِرِ اللهِ فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَ مَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَاِنَّ اللهَ شَاكِرٌ علَيْمٌ

Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian dari syiar (agama) Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan  kebaikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.

 

Setelah membaca ayat itu (boleh sambil membaca buku) kami pun melafadzkan lkalimat اَبْدَاُ بِمَا بَدَاَ اللهُ بِهِ (Abda’u bimaa bada’a Allahu bihi) yang berarti “Saya memulai dengan apa yang telah dimulai oleh Allah.” Kemudian dilanjutkan takbir (Allah Akbar) اَللهُ أَكْبَرُ tiga kali lalu dilanjutkan doa berikut,

لَا إَلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَ يُمِيْتُ وَ هُوَ عَلَى كُلَّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

(Laa ilaha illa Allah wahdahu laa syariyka, lahu mulku, wa lahu alhamdu, yuhyi wa yumiyt, wa huwa ala’ kulli syai’in qodiyr.)

Tidak ada Ilah yang hak kecuali Alah semata, tiada sekutu baginya. Hanya Dia yang memiliki kekuasaan dan hanya Dia pula yang memiliki pujian. Dia menghidupkan dan Dia pula yang mematikan. Dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.

Setelah itu berdoa untuk keperluan masing-masing sebelum lanjut pada bacaan terakhir sebelum memulai perjalanan menuju Bukit Marwah,

لَا إَلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

(Laa ilaha illa Allahu wahdahu laa syariyka lahu, an jaza wa’dahu, wa nashoro abdahu, wa hazama al ahzaba wahdahu)

Tidak ada Ilah yang hak kecuali Allah semata. Dia telah melaksanakan janji-Nya.             Menolong hamba-Nya dan Dia satu-satunya yang telah mengaahkan bala tentara persekutuan (kaum musyrikin).

Idealnya dzikir-dzikir tadi dibaca sebelum menuruni Bukit Shafa namun terkadang keadaan tidak memungkinkan hingga tak jarang bacaan-bacaan tadi dilafadzkan sambil berjalan.

Mendekati deretan lampu hijau yang menggantung di langit saya pun mengajak para jamaah laki-laki untuk berlari-lari kecil seraya berdzikir, “Robbigfirliy warham innaka anta aazul akrom (Ya Allah ampuni diriku dan berkatilah (diriku), sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Pemurah).” Hingga deretan lampu hijau berikutnya yang menjadi batas berakhirnya lari. Lalu bagaimana dengan para jamaah wanita yang tidak disunnahkan untuk turut berlari? Jangan khawatir karena kami tidak meninggalkan mereka, in sya’ Allah.

Sambil menunggu kaum ibu saya mendapati beberapa wanita dan nenek-nenek turut berlari. Rombongan Turki yang sa’i sambil berdoa atau seorang jamaah pria yang terus tersedu-sedu. Sebagian kaum ibu singgah ke tepi kiri untuk minum air zamzam sementara para cleaning service berseragam biru sibuk memasukkan gelas-gelas plastik bekas ke dalam kantong plastik besar warna hitam.

Di putaran ketiga saya meminta izin untuk ke toilet karena ingin sekali buang air kecil; maka Wahyudi dan para jamaah melanjutkan perjalanan tanpa saya. Dalam ibadah sa’i sendiri tidak ada kewajiban harus berwudhu maka apabila seseorang hendak buang angin atau tidur sejenak di pinggir jalan ia tidak perlu bersuci untuk kembali melanjutkan sa’inya; meskipun demikian akan lebih baik apabila ia kembali mengambil wudhu.

Selesai buang air kecil dan berwudhu di toilet yang letaknya tidak jauh dari Bukit Marwah saya pun kembali melanjutkan putaran berikutnya, yaitu keempat yang dimuai dari Marwah. Beda dengan Shafa yang dipagari, Bukit Marwah sudah tidak dapat lagi dikatakan bukit karena sudah rata sepenuhnya. Hanya terdapat sisa-sisa batu cadas warna coklat yang telah dipernis dan dilapisis plastik tebal agar tidak menyakiti orang yang menaikinya.

Disana banyak orang beristirahat, sholat sunnah (walau tidak ada syariat yang mengkhususkan untuk sholat disana), atau menggunting rambut. Biasanya kaum wanita bergantian memotong rambut teman wanitanya dengan cara mengumpulkan rambut seperti hendak dikuncir lalu memotongnya seruas jari. Semua dilakukan tanpa membuka kerudung atau mukenah.

Adapun kaum pria biasanya memotong sedikit rambut mereka lalu sebagian menggundul atau mencepaknya di tukang-tukang cukur yang berada di luar Masjidil Haram. Terkadang ada pula bocah-bocah Arab yang hendak mencari tambahan uang jajan dengan menawarkan jasa peminjaman gunting. Saya menyarankan anda untuk tidak menggunakan jasa mereka karena tidak sering harganya luar biasa mahal, sekali gunting bisa seratus real; padahal di tukang cukur hanya sepuluh atau dua puluh real.

Di tengah perjalanan menuju Shafa (putaran kelima) saya berjumpa Bu Yuyun dan kedua anaknya Audrey dan Reyhan. Ketiganya tampak demikian lelah dan jalan terseok-seok. “Lho bu, pisah dari rombongan?

Iya pak, tadi kita duduk dulu istirahat. Enggak apa-apa kan?” jawab Bu Yuyun yang wajahnya demikian lelah.

Enggak apa-apa bu, pelan-pelan aja.” Maka jadilah kami menyelesaikan thowaf berempat. Begitu selesai menggunting rambut di Marwah saya pun baru menyadari satu hal, “Pak Nugie mana bu?

Bu Yuyun celingak-celinguk kebingungan, “Tadi juga suami saya terpisah. Dimana ya…???

Belum satu menit ia berbicara secara ajaib Pak Nugie muncul di hadapan kami, “Assalamualaikum pak, disini?

Iya, tadi di jalan ketemu sama Bu Yuyun dan anak-anak. Bapak udah selesai?

Alhamdulillah sudah pak.”

Dahulu kala kaum Anshar sering berteriak menyebut nama berhala Manat kala melaksanakan sa’i. Mereka menyanjung-nyangjung sang berhala selama tujuh kali bolak-balik antara kedua bukit dengan khusyu walau terik matahari demikian menyilaukan. Ketika mereka masuk Islam, kaum Anshar pun teringat akan kebiasaan mereka ini dan menjadi malu. Mereka bahkan ragu-ragu untuk melaksanakan sa’i karena takut dianggap mengerjakan kebiasaan penyembah berhala. Mereka lalu menanyakan perihal ini kepada rasul. Sebagai jawaban Allah pun mewahyukan Surat Al-Baqoroh ayat 158 yang menjelaskan bahwa sa’i merupakan rukun haji atau umroh yang tidak boleh ditinggalkan. Adapun kebiasaan masa jahiliyah tersebut telah dimaafkan seiring masuknya mereka ke dalam Islam.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s