Memasuki Masjidil Haram

ka'ba view.jpg
Image: http://arabs.travel/t20810.html

Setengah jam kemudian kami berkumpul di lobby untuk menuju Masjidil Haram. Biasanya diantara jamaah ada yang hendak melaksanakan umroh menggunakan kursi roda; untuk itulah kami menyiapkan pemandu khusus. Alhamdulillah para pemandu khusus ini tak lain dari putra-putri nusantara yang amanah, penuh perhatian, serta mampu berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia secara jelas. In sya’ Allah para jamaah akan dijemput di hotel, dibawa umroh melalui jalur khusus kursi roda, kemudian diantar kembali ke hotel.

Sekitar 50 meter dari pintu hotel kami disambut pemandangan yang luar biasa dan menggetarkan jiwa. Sebuah bangunan maha luas yang dinding-dindingnya dilapisi marmer abu-abu nampak benderang akibat pantulan cahaya lampu. Beberapa buah menara putih menambah kegagahan tempat yang dirindukan tiap orang yang beriman. Selamat datang di Masjidil Haram.

Kami kemudian berenang di lautan manusia yang hampir semuanya mengenakan pakaian ihram. Para sepuh maupun kaum muda, pria maupun wanita, berjalan kaki maupun berkursi roda. Inilah masjid termulia yang memiliki keistimewaan tiada banding; keistimewaan yang tak dimiliki masjid-masjid lain di seluruh dunia. Rasulullah bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَة

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik 1000 shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih baik 100.000 shalat di masjid lainnya.[1]

Sebelum memasuki masjid kami pun membaca doa yang diajarkan oleh rasulullah,

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللّٰهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, bukakan pintu-pintu rahmat-Mu untukku.

Kami pun memasuki Masjidil Haram (kami himbau agar para jamaah memasukkan alas kaki ke dalam tas kecil yang disediakan). Hal pertama yang kami lakukan adalah mengerjakan sholat maghrib dan isya’ dengan cara jamak dan qoshor; maghrib tiga rakaat dan isya’ dua rakaat. Setelah itu kami berjalan menuju mathaf atau areal thawaf di lantai dasar menggunakan eskalator.

Begitu kaki menginjakkan areal mathaf, pandangan pun segera tertuju pada Ka’bah yang dirindukan. Tidak dapat dilukiskan rasa bahagian saat melihat bangunan besar berbentuk kotak yang dilapisi kain tebal warna hitam itu. Di sekelilingnya terdapat ribuan muslim yang memutarinya dengan arah yang sama, yaitu berlawanan arah jarum jam. Inilah kiblatnya umat Islam. Dimanapun mereka berada, semua akan ruku’ dan sujud menghadap arah yang sama yaitu Ka’bah di Masjidil Haram.

Nek Ema segera bersujud lama sekali sementara para jamaah yang lain mulai menitikan air mata. Tak dapat dilukiskan betapa bahagianya dapat kembali ke tanah suci. Setelah euforia reda, saya mengajak para jamaah untuk melafadzkan doa melihat Ka’bah,

اللّٰهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَ مِنْكَ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّبَا بَالسَّلَامِ

Ya Allah, Engkau adalah Mahasejahtera, dari Engkau pula kesejahteraan, maka hidupkanlah kami wahai Rabb kami daam kesejahteraan.

[1] (HR. Ahmad 3/343. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

English

Latin

 

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s