Kota Suci Makkah

kota mekah
Image: http://www.alraimedia.com/ar/article/travel-and-tourism/2017/04/04/756803/nr/ksa

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata : “Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”. (QS. Ibrahim: 35)”

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

“Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi dan bumi Allah yang paling dicintai-Nya. Seandainya aku tidak terusir darimu aku tidak akan keluar (meninggalkanmu)”.[1]

ۡ عَبَّادِ بۡنِ تَمِيمٍ، عَنۡ عَمِّهِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدِ بۡنِ عَاصِمٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: (إِنَّ إِبۡرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهۡلِهَا، وَإِنِّي حَرَّمۡتُ الۡمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبۡرَاهِيمُ مَكَّةَ، وَإِنِّي دَعَوۡتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثۡلَيۡ مَا دَعَا بِهِ إِبۡرَاهِيمُ لِأَهۡلِ مَكَّةَ

“Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi menceritakan kepada kami, dari ‘Amr bin Yahya Al-Mazini, dari ‘Abbad bin Tamim, dari pamannya, yaitu ‘Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan (menyucikan) Makkah dan mendoakan kebaikan bagi penduduknya. Dan aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim mengharamkan Makkah. Dan sungguh aku mendoakan pada sha’ dan mudnya dengan seperti yang didoakan oleh Ibrahim bagi penduduk Makkah.”[2]

Bunyi kasar tak menyenangkan menyadarkan saya dari tidur, rasanya seperti terbangun di sebelah tukang kusen yang sedang menggergaji,“Para tetamu Allah, mohon maaf karena membangunkan tidur bapak ibu sekalian.” Rupanya Wahyudi, bukan tukang kayu. Ia tengah menjalankan salah satu tugas muthawwif yaitu memberi informasi tentang kota yang dimasuki. “Alhamdulillah kita telah tiba di kota suci Makkah Al-Mukarrahmah.

Ternyata para jamaah sama-sama tertidur. Setelah berhasil memulihkan diri, mata mereka mulai mencari-cari cahaya di sekeliling. Kantuk hebat masih tampak pada wajah mereka namun begitu kata Makkah masuk ke telinga; wajah-wajah kusut tadi terlihat jauh lebih mulus dari model iklan krim wajah. “Masya Allah.” Mereka mulai menampakan reaksi yang berbeda-beda. Sebagian bertalbiyah, sebagian sibuk berzikir atau berdoa, dan yang lain mulai mengambil smartphone masing-masing.

Saya sendiri speechless. Tidak disangka bahwa saya akan tiba kembali di kota yang saya cintai, sebuah kota yang telah saya anggap seperti kampung halaman kedua. Tiba di Makkah sama artinya seperti pulang kampung bagi saya. Saya terus bersyukur pada Allah yang masih memberi kehormatan untuk menjadi satu dari sekian juta tamu-Nya. Bagi kebanyakan orang, hanya absen setahun dari Makkah dan Madinah bukanlah hal yang mengherankan; namun bagi seorang pembimbing professional hal itu terasa demikian lama. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.

Inilah kota yang pertama kali dibangun oleh Ibunda Hajar ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk meninggalkan istri dan putranya disana. Begitu Ibrahim telah sampai disebuah tempat yang amat tandus maka ia pun meninggalkan Hajar dan Ismail yang kala itu masih bayi. Bekal mereka hanya sekantung kurma dan satu geriba air.

Ketika Ibrahim hendak meninggalkan kedua orang yang dicintainya, Hajar pun terus memanggil, “Wahai Ibrahim kemana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami disini?” Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun. Hajar kembali mengulangi pertanyaannya dan Ibrahim pun tetap tak bergeming. Ketika Hajar mengubah pertanyaannya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu?” barulah Ibrahim berhenti dan menjawab “Benar.”. Disinilah kemuliaan dan kekuatan Hajar terbukti. Bukannya mengeluh, ia justru berkata dengan yakin, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.

Waktu pun berlalu dan bekal air dan kurma telah habis. Tergerak oleh naluri keibuan kala Ismail menangis kelaparan, Bunda Hajar pun berlari-lari ke Bukit Shafa lalu ke Marwah di bawah terik matahari gurun. Di kedua tempat itu tak ada air namun ia tak berputus harapan. Ia bolak-balik tujuh kali antara kedua bukit sebelum akhirnya kembali ke tempat putranya ditinggal. Betapa terkejutnya Hajar ketika ia mendapati di sisi Ismail berdiri seorang malaikat yang tengah menggali tanah dengan ujung sayapnya. Dari bekas galian itupun memancar air segar yang dengan segera dibendung oleh Hajar menggunakan pasir. “Zami zami, berkumpul-berkumpul!” Kata Hajar sangking gembiranya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas, rasulullah bersabda soal zamzam yang dibendung oleh Hajar,

لَوْ تَرَكْتَ زَمْزَمْ أَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ تَعغَرَّفْ مَنَ الْمَاءِ لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيِنًا مُعَيَّنًا

Andai Hajar membiarkan Zamzam mengalir, atau beliau berkata: “Andai Hajar tidak menciduknya, niscaya zamzam menjadi telaga yang mengalir.

Waktu pun berlalu hingga sebuah rombongan pengembara asal Yaman melintas tak jauh dari Makkah. Melihat burung-burung yang terbang berputar di suatu tempat mereka pun sadar bahwa disana pasti ada air. Utusan pun dikirim menuju tempat yang dimaksud dan ternyata disana terdapat Hajar dan Nabi Ismail yang tinggal di dekat sebuah telaga. Para utusan pun memperkenalkan diri dan minta izin untuk tinggal dekat telaga tersebut. Hajar mengizinkan mereka dengan syarat kolam zamzam menjadi hak milik keluarganya. Mereka pun setuju dan cikal bakal kota Makkah pun terbentuk.

Beberapa tahun kemudian Nabi Ibrahim kembali mendatangi Makkah dan mendapati Ismail telah tumbuh menjadi pemuda gagah. Mereka pun berpelukan untuk melepas rindu sementara Nabi Ismail mengabari sang ayah tentang kematian ibunda tercinta. Setelah melepas rindu, nabi Ibrahim pun mengutarakan maksud kedatangannya yaitu untuk memenuhi perintah Allah membangun sebuah rumah ibadah. Nabi Ismail pun menyanggupi untuk membantu ayahnya dan mereka pun membangun Ka’bah.

Sementara Ibrahim menyusun batu-batu hingga tinggi, Ismail bertugas mengumpulkan batu dan memberikannya pada sang ayah. Ketika bangunan tersebut hampir rampung maka hanya tersisa sebuah ruang kecil yang tidak kebagian batu. Nabi Ibrahim pun pergi sejenak kemudian kembali membawa sebuah batu putih yang Allah turunkan dari surga. Batu itu kini telah terpecah menjadi beberapa keping berwarna hitam. Batu tersebut adalah Hajar Aswad.

*****

[1] Shahih. HR. Muslim no. 1360

[2] Shahih. HR. At-Tirmidzi no. 3925.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s